Thursday, December 13, 2012

Di antara diri dan hati kita


Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri. (Qs, 50: 16)



... ketahuilah bahwa Allah berada antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun kembali. (Qs, 8: 24)



Kalau kita bisa mengenali secara analitis antara diri kita dan hati––inilah diri dan hati kita––maka di antara keduanya ada Tuhan. Oleh karena itu, tidak mungkin kita lari dari Allah Swt, lepas dari pengawasan-Nya. Kesadaran itulah yang membuat orang menjadi bertakwa, yaitu menempuh hidup dengan bertindak dan bertingkah laku begitu rupa, selalu memperhitungkan hadirnya Tuhan. Tuhan selalu ada dan selalu tahu. Hal ini mempunyai dampak yang sangat besar dalam hidup kita karena secara psikologis, kita tidak akan pernah merasa sendirian dalam hidup. Kita berani menempuh hidup ini karena sandarannya ialah Allah Swt. Maka, ada istilah tawakal, bersandar kepada Allah, ada istilah alwakîl (sandaran).

... Allah cukup bagi kami sebagai Pelindung terbaik. (Qs. 3: 173)

Itulah sebabnya orang yang bertakwa akan berani hidup; tidak takut menghadapi tantangan. Ada pesan dari Allah,

Hai orang yang beriman! Jagalah dirimu sendiri. Orang yang sesat tidaklah merugikan kamu jika sudah mendapat petunjuk. Kepada Allah kamu semua akan kembali. Kemudian diberitahukan kepadamu mengenai apa yang sudah kamu lakukan. (Q., 5: 105)

Dalam kata lain, dengan berbekal takwa dan tawakal, kita berani hidup sendirian, berani menjadi diri kita sendiri, be our self, tidak menjadi orang lain, tidak mencoba untuk berpura-pura, tidak mencoba untuk menempuh hidup imitatif-artifisial, dan itu adalah salah satu dimensi dari ketulusan. Be your self, jadilah seperti kamu (dirimu sendiri).









Sy Nurcholish Madjid

****


Be the best of your self and always trust Allah .




#reblogged from here

No comments:

Post a Comment