Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Sunday, July 10, 2016

Legowo; Letting Go; Yaudahlah

Hosh! Agak berat rasanya untuk kembali menulis personal life disini, setelah beberapa bulan mencoba menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. HAHA! Apa memangnya berbeda?

Well, I can say I did it so much better this time!

Seiring berjalannya usia, seharusnya paralel dengan tingkat kedewasaan manusia. Tingkat kedewasaan itu menurut ku terlihat dari cara kita menyelesaikan masalah. Ada yang menyelesaikan masalah selalu dengan gaya yang sama, ada yang berubah karena berbagai alasan, misal desakan, tuntutan, yang terakhir insight. Insight mungkin bisa disebut "hidayah" yang datangnya dari manusia.

I've been there at the low point of life questioning everything to Allah SWT. 
And I've learned it the hard way

Dulu, pasti pernah satu fase dalam hidup kita, dimana semua emosi langsung serta merta kita ungkapkan. Dengan dalil "yah dari pada disimpen sendiri bikin sakit", dan akhirnya menjelma menjadi perkataan-perkataan kasar, perbuatan yang tidak etis, atau yang paling sering terjadi curcol galau mewarnai di media sosial kita, twitter, facebook, dan status BBM.


Sekian tahun berlalu dari masa-masa itu, aku aja rasanya malu untuk membaca lagi curcol-curcol lebay yang pernah ku buat. Mostly sih masalah pergebetan, percintaan dan sejenisnya, Masalah yang dulu terasa berat, kini jadi terlihat sebenarnya-sepele-tapi-ditanggapi-berlebihan. Yah setidaknya masa itu sudah lewat. Ketika SMA, aku kita yang galau karena gebetan, masa kuliah galau dengan PHP, yaa masalah yang booming pada jamannya. Malu kan kan kalau sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dan respon yang juga sama. Ya kayak gak naik kelas gitu.. *palm face* 

Masalah apapun, dikembalikan saja ke Sang Maha Pengatur

Klise. Tapi tidak semudah mengucapkannya. Kalimat yang nggak aku sangka bakal ngena banget buat ku, Waktu itu diajak ketemuan dengan senior-senior ku di kampus. Tanpa tau mau ngomongin apa, yang penting ketemu aja, walaupun jauh.

Salah satu senior ku dan juga teman yang lain ku akhirnya banyak cerita soal hal-hal "menakjubkan" yang beberapa waktu lalu menghadang mereka(eaaaa...). Dari satu hal ke hal lainnya, gak cuma soal jodoh tapi perihal keluarga pun, mereka sedikit bercerita bagaimana usaha yang dia upayakan untuk bisa survive. Minimal gak gila.

Dan sampai negara api datang menyerang aku hehehe~.Tapi sungguh aku anaknya lebay kalau soal kepercayaan. Long story short, instead of blaming others people, I blamed my self so much. Makanya kalimat tadi di atas aku sebut-sebut terus dalam hati. Sampai aku kabur ke Semarang, yang niatnya mau naik paragliding sekalian katarsis, malah jadinya ngedengerin tausyiah kehidupan temen deket kuliah ku. Alhamdulillah aku gak (jadi) gila,

Ada satu momen yang aku inget banget, atau mungkin ini yang disebut pengalaman spiritual (?). Kadang dihati sudah mulai memaafkan tapi kadang otak ini belum mau melepaskan, terlalu banyak worry, takut, bingung, gak berhenti nanya kenapa begini atau begitu. Entah gimana insight ke sekian aku baca sendiri di halaman-halaman terakhir novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang yang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan kita pahami secara sempurna. Beribu wajhanya berjuta bentuknya. Hanya ada satu cara untuk bekenalan dengan bentuk-bentuknya. Selalulah berprasangka baik.
Dan aku nangis kejer baca kalimat-kalimat itu. Yah itulah cara Allah ngasi pencerahan melalu sekeliling ku, walaupun cuma tulisan random yang ku baca. Sampai rasanya aku seolah bicara dengan diri ku sendiri "Yaudahlah pasti ada caranya, pasti ada jalannya. Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Percaya aja".

"Yaudahlah" itu menjadi powerfull word, bukan pasrah gitu aja tanpa usaha. Bukan gak berperasaan, gak boleh sedih atau nangis, gak boleh marah atau kecewa. Tapi melepaskan ekspektasi pribadi dan menukarnya dengan keyakinan bahwa pasti ada yang lebih baik.

So, kalau mungin akan ada yang bertanya, "kalau satu kali lagi kamu harus terjatuh, apa yang kira-kira akan terjadi?". Aku akan jawab "Tapi ku baik-baik saja" kemudian nyanyi bareng Mba Maia :D

Have a good day :D






Wednesday, February 10, 2016

We are what the people thought we are - Review awam Mr. Robot

Beberapa hari yang lalu aku dan teman dekat ku itu sempat debat mengenai apa sebenarnya manfaat dari sosial media. Di antara temen-temen deket ku, dia mungkin satu-satunya yang bertahan tidak punya akun path ataupun instagram, sedangkan orang lain hampir dipastikan punya keduanya atau paling tidak salah satunya.

"Ada manfaatnya gak punya socmed buat aku? Buat pamer doang? Lagi disini lho, lagi makan ini lho? Pergi kemana update, foto apa update?"

Kebanyakan refleks yang muncul "Ya itu kan tergantung sudut pandang kita aja yang ngeliatnya. Kalau ada temen yang jalan-jalan apa terus kita ngerasa insecure karena gak bisa jalan-jalan?". Sampai disini aku setuju dengan bagaimana kita membangun persepsi yang tidak bergantung pada kecendurungan persepsi umum. Bahwa liburan harus jalan-jalan, yang di rumah saja itu cupu.

Aku juga pernah baca review di Playstore soal Path itu sendiri yang menurut ku cukup menohok. Isinya kalau di-bahasa-Indonesia-kan jadinya begini :

"Ini adalah aplikasi dimana kalian bisa mengisi lembar catatan kehidupan sehari-hari kalian (diary) dan dilihat banyak orang. Downloadlah kalau kalian suka!" 

Kalau sebelumnya kita melihat Path dari sisi pengguna pasif (yang cuma scroll-scroll-scroll tapi terus jengkel karena updatean temen), pendapat ini mewakili kaum yang suka mengunggah sesuatu, bisa jadi aktivitas sehari-harinya, kesukaan dan ketidaksukaanya terhadap karya seni, sosok manusia, barang yang dimilikinya, pendapat atau pemikirannya terkait fenomena. Sadar atau tidak, kegiatan inilah yang disebut dengan memberi makan pada ego. 

We are what the people thought we are

Setiap ego mempunyai makanan terbaiknya masing-masing, tapi pada dasarnya setiap ego ingin "bahagia". Ingat prinsip Id dari Sigmund Freud? Dorongan naluriah akan kesenangan, pemenuhan kebutuhan primer. Di social media menunya adalah kita "senang" kalau orang tau betapa padatnya rutinitas setiap hari, "senang" kalau orang setuju dengan apa yang kita juga suka, pun kita "senang" kalau orang turut bersedih dengan kesulitan yang menimpa kita.

Jennifer Crocker, seorang psychologist dari Michigan University juga menjelaskan "contingent self esteem" penilaian positif terhadap diri sendiri bergantung dari anggapan orang lain terhadap diri kita atau dari pujian dan pengakuan orang akan hal-hal tertentu (significant event) dalam hidup yang juga kita anggap penting. Menurut Crocker, penilaian orang lain dapat menumbuhkan positivisme dalam diri kita meskipun tidak akan berlangsung lama.


"Maaf nih lagi gak bisa update, lagi liburan kemaren ke Zimbabwe, semoga rejekinya nambah terus, bisa jalan-jalan lagi" (seen by 2.393.499 friends)


Review awam serial Mr Robot. 
Mild spoilers ahead.

Bicara soal mengcopy-paste real life kita ke dalam account di media online, serial yang baru-baru ini aku tonton, Mr. Robot, menggambarkan bagaimana kepribadian kita bisa dibentuk dari apa saja yang ada diupload ke socmed.

Serial ini yang dibintangi oleh Rami Said Melek. Kalau kalian tanya Rami Said Melek, sama aku pun gak kenal. Hehehe. Awalnya temen ku yang ngerekomendasikan film ini. Film ini menceritakan seorang hacker bernama Elliot yang super cerdas bekerja di cyber security firm tapi juga punya gangguan psikologis yang kompleks.

Elliot tumbuh menjadi anak muda yang menyimpan kekecewaan yang besar terhadap dirinya sendiri akibat pengalaman tidak menyenangkan di keluarganya. Ketidakmampuannya untuk menyelesaikan internal problem dalam dirinya ini dipendam hingga dia dewasa. Serial ini juga diisi oleh banyak narasi dari sudut pandang Elliot "yang lain" yang mana buat ku pribadi menjadi daya tariknya.

Gangguan mental yang dimiliki Elliot membuatnya sangat tertutup dengan orang disekelilingnya. Ketakutannya untuk disakiti, merasa kesepian adalah hal yang mendorong Elliot mewaspadai setiap orang yang sering bersentuhan di kesehariannya. Cara dia mengenali lawan bicaranya yaitu melalui sosial medianya, mengamati intereksi mereka di dunia maya, foto-foto yang diupload, life records, dan juga menerabas masuk ke personal email. Informasi-informasi tersebut ditelaah Elliot untuk ditarik kesimpulan tipe kepribadiannya.

Dalam serial ini, data-data personal tersebut digunakan Elliot sebagai dasar untuk "menolong" orang yang bersangkutan, "menolong" orang banyak, dan "menolong" dirinya sendiri. Perasaan ketakutan disakiti yang kerap menghantuinya secara berlebihan diproyeksikan menjadi kemarahan yang berlebihan pada orang bertindak tidak adil, kaum kapitalis. Compulsive disorder.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang, menggali infomasi seseorang melalui sosial medianya, mungkin sudah sering kita jumpai. Penggunannya bisa untuk kepentingan seleksi pekerjaan, pengungkapan kasus kriminal, ataupun kepo-kepo gebetan, mantan gebetan, mantan pacar, pacarnya mantan, atasan di kantor, artis, sok artis, siapapun.

Intinya, bukan melarang penggunaan social media, tapi membatasi. Pentingkah untuk semua orang tahu? Haruskah kita merespon segala topic, just for the sake of peer pressure? Are we trap in our teenage drama?

Semoga kita semua dilindungi dari kesia-sian.
Have a fruitful day :D






Further info and related link:
1. Q&A dengan penulis Mr.Robot
2. What's compulsive disorder?
3. The Boom and Bust Ego




Saturday, August 1, 2015

The way I know you

Let me know you but only ever at a distance.
Let me know you from our convo at 10 PM until we fell a sleep

Let me know you easily, without any real effort.
Or let me know you the way Allah guide me to


Nggak ada satu alasan pasti yang membuat pertanyaan atau pernyataan paling absurb sekalipun, sehingga semuanya menurut aku perlu aku sampaikan. 

Menurut kamu kenapa aku bisa tiba-tiba tau atau tiba-tiba tanya?

Karena aku selalu minta ke Allah supaya hati aku gak mati, supaya aku gak buta sama jalan yang Allah tunjukin. Kamu tau kan kalau feeling kamu bilang ada sesuatu terjadi, walaupun itu diluar kuasa kamu untuk tau apa yang terjadi? 

Jadi kenapa kamu perlu bohong lagi? Kamu mungkin pembohong terbaik dan terburuk sekaligus.

Aku kehabisan daya untuk merangkai ulang semua cerita yang sepotong demi sepotong kamu sampaikan. Mencari dimana garis merahnya. Lalu aku pikir buat apa, kamu tetap pembohong. Aku bisa catat setiap perkataan kamu lalu aku genggam sebagai kebenaran, aku pun masih bisa catat hingga setiap perkataan mu kini aku anggap bualan semata

Mungkin aku, kamu, kita semua gak sadar, bahwa kadang gelas yang kita selalu bawa dalam hidup j ini kondisinya sudah luber. Jadi akan banyak akibat yang bisa muncul kalau gelas itu kita suguhkan ke hadapan orang lain yang menjadi tamu dalam hidup kita. Setidaknya jangan pernah tanya kenapa orang itu kecewa bajunya kebasahan karena tumpahan air dari gelas kita. 

Kedua, yang juga kadang kita gak sadar, ketika orang lain itu bermaksud menampung limpahan air dari gelas kita, mungkin kita juga yang terlalu sayang untuk membagi isinya. Jadi sekarang kamu tetap diam disitu atau melengos pergi begitu saja merasa menyesal menenteng gelas itu dihadapanku bersikap seolah-olah duta air minum?

Ketiga, yang lebih parah, kita lupa bahwa orang itu juga punya gelasnya sendiri. Setiap orang datang membawa gelasnya masing-masing. Yang sayangnya kita entah tidak tau atau tidak mau tau apakah gelasnya kosong, setengah, atau jangan-jangan juga sama lubernya. Kamu ada dimana saat gelas ku luber? Oh iya, aku lupa, mungkin sedang sibuk mengurus gelasmu sendiri dulu, yang lain nanti saja ya.

Aku akan jadi sama egoisnya kalau bilang kamu egois.
Tapi aku akan jadi sama pembohongnya, kalau bilang aku masih mau ingat sedikit saja hal baik dari mu.
Aku, hampir pasti, tidak ingin mengingat sedikitpun.

|Pembicaraan pribadi @ 2:30 dini hari


*http://www.iwrotethisforyou.me/2015/07/the-way-i-know-you.html

Sunday, September 1, 2013

Jejak-jejak langkah : Graduation

23 April 2013 - Sidang skripsi! A!

Fans setia. Terima kasih, semua!
Foto diambil oleh: Arif (termasuk fans juga)


30 Agustus 2013  - Graduation Day


Rerumpi di wisuda bareng hihihi (Nidya, Fey, Nanol)
 Wisuda Universitas Diponegoro @ Gedung Prof. Soedarto
We are a proud 'anak bimbingan' of Mami Harlina <3
Wisuda Fakultas Psikologi @ Gedung Pancawati Hotel Patra Jasa
Surprise!! Ratri, Novi, Sonya, Muti, dan
yang gak ada di foto Fonda, Enji, Tiwi, Phricil :**
Brondong akuuuuh, Dillo & Galih.. Hahaha.. Yang lain mana lagi? >:)
Eh malah Oldy yang dateng pas uda bubar  -..-
Ina & Mega dari geng tetangga ^^v


Masih ada foto-foto lain yang belum masuk, foto bareng anak BEM dan foto wisudawan 2008

Happy Graduation and thank you so much, God!


current feeling:
I love you and I miss you! <333

Tuesday, May 7, 2013

Jangan didengarkan

Ada dua atau beberapa orang tinggal di suatu daerah bersama, menjalani hari bersama, menghabiskan waktu bersama, membagi suka dan duka bersama. Kemudian satu orang tiba-tiba pergi, diikuti beberapa orang setelahnya hingga tersisa satu orang terakhir. Apa yang mungkin dirasakan orang yang tinggal sendiri dengan semua hal yang berubah? Apa yang mungkin dirasakan orang yang tinggal sendiri dan juga orang (/orang-orang) yang telah lebih dahulu pergi, jika orang sendiri itu pergi paling jauh?

Bisakah kita meminimalisir segala rasa yang muncul karena "perpisahan"?

Dia merasa...
*
Can't seem to find my piece of mind
So with the earth I'll lay entwined
Six feet underground
My feet are warm and dry

When I get to the other side
I'll put your picture way up high

When I wake the trumpets play
And I'm standing at the gates
Fall down and joy
I know my race has just been won

When I was young my mom would say
Well life is hard, but that's OK
If you can make it through the day
It's not that far

**
Another turning point, a fork stuck in the road
Time grabs you by the wrist, directs you where to go
So make the best of this test, and don't ask why
It's not a question, but a lesson learned in time

It's something unpredictable, but in the end is right,
I hope you had the time of your life.

***
It's a shame that it had to be this way
It's not enough to say I'm sorry

I'm alive but I'm losing all my drive
Cause everything we've been through
And everything about you
Seemed to be a lie
A guiltless twisted lie
It made me learn to hate you
Or hate myself for letting it pass by

All I had to say is goodbye
We're better off this way

Dia juga menitipkan pesan...

****
Now that I've lost everything to you
You say you want to start something new
And it's breaking my heart you're leaving

And if you wanna leave take good care
Hope you have a lot of nice things to wear

But if you wanna leave take good care
Hope you make a lot of nice freinds out there
Just remember there's
A lot of bad and beware

*****
I'm gonna love you til the end
I'm gonna be your very true friend...

Catch you when you fall
Hold you when you're down
Sharing every moment
I wanna show you all I do

Lalu do'a yang juga tak pernah berhenti dipanjatkannya...

******
Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
When hope begins to fade...

Dear God, the only thing I ask of you
Is to hold her when I'm not around
When I'm much too far away

Lagu-lagu ini sebaiknya jangan didengarkan berulang kali... :')

Full lyric :

Wednesday, March 27, 2013

LZ  : "Stay or go. You decide." much easier said than done
JJ    : Or, people say that because they don't wanna take responsibility of Leaving.
LZ  : Why leaving comes with responsibility?
JJ    : Well. When you leave, you'll be the one who bears the consequences. You can no longer blame her/him. When you leave, you hv to deal with the what-ifs. You have to face whatever left from your feelings. You have to be RESPONSIBLE for ur actions.
LZ  : Hell-o just because I stay it didn't mean that I'm weak for not leaving you. It because I trusted you when you said 'it's better if we together'. I do make a few backward for a moment but all of the sudden you take a giant step name LEAVING.
JJ : ......

Monday, March 18, 2013

peduli, masih?

A  : Sekarang itu kenapa cara pandang orang menjadi lebih sempit ya soal kepedulian?

B  : Maksud mu, apatis?

A : Sekarang orang malah dibentuk untuk hidup sendiri-sendiri dan urusi urusan masing-masing saja. Kepedulian itu malah dihindari dan ditakuti.

B  : Kenapa begitu? Bukankah kepedulian itu baik?

A : Tapi kadang sesuatu yang baik belum tentu benar. Kepedulian itu lebih sering dianggap ikut campur, menjilat, ada maksud terselubung. Ada lagi istilah "kepo".

B : Siapa yang bilang begitu?

A : Aku merasa perlakuan orang-orang begitu. Aku seperti harus menahan diri sendiri untuk membiarkan orang kesusahan, menahan diri untuk berempati. Itu sulit.

B :  Kenapa merasa seperti itu?

A : Karena orang-orang mengatakannya begitu.

B : Aku pikir kamu merasa begitu, karena kepedulian mu itu ingin mendapat penerimaan orang lain dengan baik. Maka benar itu menjadi sesuatu yang salah. 

A : Kata siapa? Aku lebih sering tidak diterima dengan baik, apapun yang aku lakukan sepertinya sebaiknya tidak perlu aku lakukan saja.

B : Karena selalu mendapat penolakan itulah kamu merasa orang lain seharusnya tidak berlaku demikian, dan karena itulah yang selalu kamu lakukan terhadap orang lain. Kamu selalu "merendah" agar orang lain merasa "tinggi". Tapi orang-orang itu bukan kamu, dan kamu bukan orang-orang itu. Aku tidak tau apa yang kamu lakukan, benar ataupun salah, memang harus dua-duanya diterima dengan baik? Ingat, tugas mu hanya sampai menunjukkan kepedulian mu, kasih sayang mu dengan cara sebisa yang kamu berikan. Bagaimana orang lain menyikapinya itu bukan tugas mu. Anggap saja kamu masih salah dalam menunjukkan kepedulianmu..


#question 
kalau aku diam, apa artinya aku tidak peduli?
kenapa aku aneh ya?
kenapa orang-orang ekstrovert itu menyenangkan yah? 

:"D

Monday, February 25, 2013

aku, mereka, dan pertanyaan

Coretan seseorang yang terlalu banyak bertanya di halaman terakhir buku catatannya...

"Mungkin aku manusia yang biasa-biasa saja. Kata mereka aku tidak pernah berpikir. Mungkin aku manusia biasa yang bertanya "kenapa" karena aku memang tidak tau kenapa. Mungkin aku bertanya karena aku rasa sebuah "karena" perlu diterima sebagaimana adanya."

"Mungkin mereka begitu pandai dan cerdas dalam memahami banyak hal. Mungkin mereka tidak perlu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Mungkin mereka bisa berpikir yang benar-benar berpikir hingga sebuah "karena" terjawab pasti."


"Atau mungkin mereka tidak pernah mempertanyakan yang selalu aku tanyakan sehingga tidak perlu mencari jawaban. Atau mungkin aku yang sebaiknya berhenti menganggap diri sendiri tidak bisa sebaik, sepintar, dan sehebat mereka. Aku mungkin memang harus berhenti membandingkan dan menerima kalau aku memang manusia yang terlalu biasa-biasa saja."


Kemudian ia menutup bukunya dan memejamkan matanya di atas tumpukan buku-buku yang berserakan...



".....Ah kata-kata tadi tetap tidak pantas diucapkan dari mereka yang tau jawabannya sehingga jelas mereka tidak pernah bertanya apalagi mencari jawabannya, tidak seperti aku kan?"

Ia tidak berhenti mempertanyakan meskipun kali ini hanya dirinya sendiri yang mendengar pertanyaannya...

Wednesday, February 20, 2013

Buat apa pintu kemana saja Doraemon kamu pakai

A : Kalau aja doraemon ada, aku mau pinjem pintu kemana saja.
B : Mau kemana memang?
A : Mau ke masa depan. Mau lihat apa aku bakal ketemu sama orang itu lagi apa nggak?
B : Buat apa dilihat? Apa kamu yakin yang kamu lihat gak akan ngaruh sama apa yang kamu percaya sekarang? Bukannya kamu selalu yakin nanti, beberapa tahun dari sekarang, kamu sama dia bakal ketemu lagi di waktu dan kondisi yang lebih baik?
A : Ya kan kita gak tau sebenernya bakal seperti apa, mungkin yang kayak gitu gak akan pernah ada
B : Oh.. Kalau kamu gak ketemu lagi sama dia gimana?
A : Yaudah, buat apa ngeyakinin kayak gitu, gak ada gunanya...


Kalau begitu boleh aku yang diam-diam masih percaya kalau semuanya bisa dan akan lebih baik diantara kita, nanti ?




#nowplaying Katy Perry - The One Who Got Away

Tidak mau disalahkan, lalu menyalahkan

A : Jadi kamu merasa telah mengorbankan sesuatu yang kamu anggap kebahagian mu, untuk orang lain yang  juga kamu anggap lebih pantas mendapatkannya?
B : ....
A : Dan caramu berkorban adalah memilih sesuatu yang lain yang sebenernya tidak begitu membuatmu bahagia dibanding "bahagia" yang tidak kamu pilih? Apa yang kamu katakan pada mereka?
B : ....
A : Bahwa bisa saja suatu saat orang yang kamu pilih pertama akan menjadi orang yang kamu pilih kedua, yang kedua menjadi pertama. Pada akhirnya rencana-Nya tidak pernah tertukar. Itu mudah karena memang semua sudah memilihmu dari awal.
B : ....
A : Lalu dengan orang yang menurut mu lebih pantas mendapatkan "kebahagianmu" apa kamu juga merasa telah melakukan hal yang begitu bijaksana, begitu baik? Apa kamu juga mengatakan sesuatu padanya?
B : ....
A : Bahwa setiap orang berhak bahagia dengan caranya masing-masing? Bukannya itu caramu sebagai orang yang dipilih jadi kamu lebih mempunyai kekuatan untuk mendefinisikan bahagia bagi orang lain? Apa dia saja yang selalu merasa inferior pada orang yang telah berkorban untuknya?


A : Ketika orang itu pergi, kamu bilang itu kemauannya.
B : ....
A : Tetapi ketika orang itu datang, kamu bilang aku penyebabnya?
B : ...
A : Lalu ketika aku diam saja, kamu bilang aku tidak merasa bersalah?
B : ...
A : Ketika aku lakukan sesuatu, kamu bilang aku ikut campur?
B : ...
A : Hingga akhirnya orang itu pergi lagi, kamu bilang itu karena aku atau bagaimana jadinya?


"So there's some people who feel good by making other feel bad. Or some people who feel bad because they fail making other feel bad. Or some people who don't feel anything, or probably they don't want to feel anything at all"

Sunday, December 16, 2012

Following your heart is easy. Following your brain is tough


Dr. Chris Taub       : I didn't tell him. 
Dr. Gregory House:  Your heart said he needed to know. Your brain knew he's better off without it. Following your heart is easy. Following your brain is tough. Especially after years of following that much smaller organ. That's why all parents screw up all children.



House, Parents episode.
On telling the patient his diagnosis scene

Tuesday, October 23, 2012

Masih




A: Masih percaya orang itu baik?
B: Masih. Bodoh ya?


When you love someone you just do. There are no maybe's, no but's and no why's.

Friday, October 19, 2012

How simple is simple and how.....



A : Kenapa sesuatu itu gak berjalan simple aja, kadang harus ribet dan complicated?
B : Things are not complicated unless you make them so. They are not difficult unless you allow them to be. Jadi semuanya itu simple. Sampai pikiran dan perasaan kita yang membuatnya menjadi ribet.  
A : Hahaha jadi saya itu ribet?

***

It's just one of those random things I wanna ask you about how simple is simple? How likely things to be simple? And how to....Well, I guess I'm not that simple XD





Sources: here and here

Saturday, August 18, 2012

Bandung-Jakarta


Dalam sebuah perjalanan Bandung-Jakarta..

A  : Kenapa diam?
B  : Membayangkan sesuatu
A  : Apa itu?
B  : Bagaimana kalau aku diam-diam juga menyayangi dia?
A : Lebih baik kau bicara, dan aku akan mundur
B : Kalau aku diam?
A : Aku pasti akan tau, karena saat itu kita mungkin tidak bisa seperti ini
B : Kenapa?
A: Karena saat itu kau mungkin akan banyak menghindar, dan menutup-nutupi
B : Bagaimana kalau saat itu adalah saat ini? Apa aku terlihat begitu nyaman dan terbuka?
A : Kalau begitu saat ini, kau perlu tau apa pentingnya kejujuran
B : Apa itu?
A : Berkata dan bertindaklah apa adanya, tidak peduli alasannya atau akibatnya. Kalau langkah awal mu, benar, jalan mu terbuka lebar. Atau kau akan terjatuh, bahkan orang lain pun bisa ikut terjatuh
B : Apa kau yakin jujur ku tidak mendatangkan risiko yang lebih besar?
A : Risiko apa yang paling besar?
B : Perasaan mu, pertemanan kita.
A : Kau tau, perasaan ku dan pertemanan kita akan lebih buruk kalau aku tau kamu menyanyangi dia, tapi kau diam atau mengingkarinya, hanya demi aku.
B : Lalu apa yang akan kau lakukan?
A : Aku akan mundur
B : Maka karena itu lah aku diam
A : Aku tidak akan menjadi orang yang dipilih atau membuka peluang untuk dipilih atau bertahan agar dipilih kalau aku tau ada hati teman ku yang terluka
B : Kau selalu bicara 'kalau tau' maka aku kan membuat mu tidak akan pernah tau
A : Aku yakin aku tidak perlu berjuang keras untuk tau yang sebenarnya. Ketidaktauan ku tidak akan lama untuk sesuatu yang kau pikir itu 'pengorbanan'
B : Mengertilah pada diam ku, aku tidak ingin kau terluka. Kau menyanginya. Aku menyayangi mu dan pertemanan kita.
A : Luka ku atas perasaan ku kepada dia, tidak seberapa dibanding luka ku atas kebohongan dari seorang teman ku. Berpikirlah lebih panjang sebelum kau memutuskan untuk diam, selamanya..


Memutarbalik kembali ke Bandung..

Wednesday, August 8, 2012

Sudah jelas?


A : Kau merindukannya?
B  : Aku tidak punya kenangan dengannya, apa yang bisa aku rindukan.
A : Kau sudah melupakannya?
B :  Aku ataupun dia, sesuatu yang tidak harus dilupakan, karena tidak ada satu pun yang pantas untuk diingat.
A : Kau benar-benar kehilangan dia?
B : Kau akan merasa kehilangan kalau kau pernah memiliki seseorang atau sesuatu, aku memiliki siapa?
A : Dia meninggalkan mu?
B : Aku tidak pernah bersama dengannya, kita tidak pernah bersama, tidak ada yang meninggalkan atau ditinggalkan. Sudah jelas?

Saturday, May 19, 2012

DRAMA

Aku : Kamu kenapa begini?
Anu : Aku gak akan begini, kalau bukan karena kamu

Aku : Kamu keras kepala
Anu : Aku memang keras. Aku udah pernah ngasih tau dari dulu
Aku : Tanpa kamu ngomong pun aku tau betapa kerasnya kamu
Anu : Kamu gak tau, gak paham aku gimana
Aku : Barusan kamu sendiri bilang, kamu keras
Anu : Kamu gak paham. Aku bisa keras kepala, tapi juga bisa melunak
Aku : Ya tergantung dengan siapa yang kamu hadapi?
Anu : Gak begitu. Kamu gak paham
Aku : ........

Anu : Kamu keberatan kalau aku tau soal kamu, tapi ternyata kamu gak tau aku
Aku : Tapi nyatanya kamu gak tau, gak paham setiap apa yang aku pikirin dan aku rasain
Anu : Kalaupun aku tau, aku harus kasian gitu?
Aku : Aku gak butuh dikasianin!
Anu : Aku bukan orang yang suka ngasianin orang lain, gitu aja gak paham maksud aku

Aku : Aku tau apa yang baik menurut aku dan apa yang harus aku lakuin
Anu : Gak. Kamu gak paham diri kamu sendiri.
Aku : Aku tau. Ini diri aku sendiri. Kamu yang gak tau
Anu : Aku tau kamu. Berapa kali aku harus bilang ini. Aku tau kamu walaupun kamu gak tau aku
Aku : Kamu itu aneh. Kamu tau gak kalau kamu itu aneh? Kamu tau gak diri kamu sendiri?
Anu : Nggak. Aku sendiri aku gak tau diri aku sendiri gimana
Aku : ........ Kalau begitu kita sama. Sama-sama gak tau diri sendiri. Kita pasti bisa saling memahami satu sama lain.
Anu : Kita gak sama. Walaupun aku gak tau diri aku, aku selalu mikirin sama apa yang bakal aku lakuin. Kamu nggak. Beda.

Aku : Kalau kata kamu, aku gak paham kamu. Apa ada yang bakal bener-bener paham kamu?
Anu : Aku gak tau, aku bukan Tuhan


DRAMA.