Showing posts with label Self-reminder. Show all posts
Showing posts with label Self-reminder. Show all posts

Sunday, August 14, 2016

Emotionless

This word also represent my thought of a woman, my another Kata Untuk Perempuan.

Sudah lebih kurang satu tahun ini nenek aku tinggal di rumah. Berawal dari kondisi sehat-sakit-sehat-dan terus berputar sampai hari ini. Tinggal bersama orang tua, khususnya yang sudah lanjut usia, buat ku sendiri ya gampang-gampang susah. Ada banyak drama, drama, dan drama seiring waktu. 

Bukan foto eyang aku, tapi foto Mbah Kani.
Tinggal sebatang kara di gubug di Desa Pujon Kidul,
Semakin lanjut usia, tingkah laku bahkan bisa jadi semakin kembali seperti anak kecil. Katanya... Manja, selalu minta diladenin, cari perhatian. Eyang (panggilan aku ke nenek) suka dengerin radio. Semenjak kakinya sudah tidak bisa dipakai jalan normal, aktivitasnya jadi sangat terbatas.

Pagi sekitar jam 05.30 aku suka dengar dari kamar ku, kalau eyang sedang ganti-ganti channel radio. Tapi setiap pagi juga eyang akan menyeringai bahagia begitu aku datang ke kamarnya, meminta aku menggantikan channelnya karena ia bilang ia tidak bisa. Memintaku tidak usah ke kantor. Tidak usah kemana-mana. Memintaku menyalakan setiap lampu di rumah. Meskipun. Masih. Pagi.  

Sebenarnya perilaku kekanak-kanakan itu kalau kita nalar dengan akal jernih akan menjadi make sense, fisik yang melemah, kemampuan indra yang menurun, kesepiandan lain-lain. Dan semua itu alami, bukan dibuat-buat.

Setiap hari aku masih harus selalu ngingetin diri sendiri dengan nasehat-nasehat positif. "Itu orang tua, dulu kita kecil juga mungkin sama ngerepotinnya. Kita harus baik sama orang tua, kalau kita nanti jadi tua juga gak mau kan ditelantarin anak. Kita harus sabar, sabar, kalau marah atau kesel itu dosa"

Sampai akhirnya aku mikir sendiri, "Memang sabar itu apa? Kenapa jadi gak boleh ada perasaan atau emosi? Emang cuma perempuan yang gak boleh? Kok gitu.." 


Perempuan itu harus sabar. Tapi bukan berarti gak punya emosi. Karena pada dasarnya perempuan diciptakan dengan perasaan lemah lembut. Mudah tersinggung Jadi, perempuan (dan jenis kelamin lainnya) harus tau bagaimana mengelola emosi dirinya dengan cepat. Sebelum meledak-ledak, dan dicap sebagai gak sabaran atau cengeng. 

Perempuan itu gak boleh gampang marah. Tetapi sebenarnya marah atau amarah adalah salah satu bentuk emosi. Sebagai manusia normal, pasti punya tendensi perasaan marah. Cuma dengan bertambah dewasanya perempuan (juga laki-laki) harus paham bagaimana cara meregulasi emosi. Jadi bukan artinya tidak boleh marah, tapi gak boleh melampiaskan amarahnya.

Pada pengertian awam, emosi memiliki makna yang negatif. Emosi digambarkan dengan perilaku marah, treak-treak, banting-banting pintu, dsb. Akhirnya banyak judgement, "Emosian amat jadi orang. Sabar dikit kek"
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak ata merespon stimulus.
Pembahasan Aristoteles mengenai kehidupan emosional manusia, dalam buku Emotional Intellegence karya Goleman
Tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).  
Menurut ajaran agama Islam pun, marah diartikan sebagai suatu perangkai buruk, apalagi marah yang dipicu oleh hawa nafsu keduniawian, sehingga menahan amarah adalah sebuah kunci kebaikan.
Ada seseorang datang menemui Nabi Muhammad SAW seraya berkata, "Wahai Rasullah, berilah aku wasiat." Maka Rasullah SAW bersabda, "Janganlah kamu marah." Beliau mengulanginya berkali dengan berkata, "Janganlah kamu marah." (HR. Bukhari 6116, Ahmad 2/362)
Dari hadist tersebut bisa dipahami bahwa menahan amarah adalah sesuatu yang sangat penting walaupun sulit dilakukan, karena itu Rasullah menekankan berkali-kali dalam wasiat.

Well, aku sendiri pun bukan orang yang segitu sabarnya, masih kadang segitu keselnya.
Semoga kita semua lebih bijak dengan diri sendiri

Happy weekend! :D



References :
1. Instagram account @cakbudi_ penggiat kepedulian terhadap lansia di Malang, Jatim
2. Belajar Psikologi : Pengertian Emosi
3. Islam Pos : Keistimewaan menahan amarah

Sunday, July 10, 2016

Legowo; Letting Go; Yaudahlah

Hosh! Agak berat rasanya untuk kembali menulis personal life disini, setelah beberapa bulan mencoba menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. HAHA! Apa memangnya berbeda?

Well, I can say I did it so much better this time!

Seiring berjalannya usia, seharusnya paralel dengan tingkat kedewasaan manusia. Tingkat kedewasaan itu menurut ku terlihat dari cara kita menyelesaikan masalah. Ada yang menyelesaikan masalah selalu dengan gaya yang sama, ada yang berubah karena berbagai alasan, misal desakan, tuntutan, yang terakhir insight. Insight mungkin bisa disebut "hidayah" yang datangnya dari manusia.

I've been there at the low point of life questioning everything to Allah SWT. 
And I've learned it the hard way

Dulu, pasti pernah satu fase dalam hidup kita, dimana semua emosi langsung serta merta kita ungkapkan. Dengan dalil "yah dari pada disimpen sendiri bikin sakit", dan akhirnya menjelma menjadi perkataan-perkataan kasar, perbuatan yang tidak etis, atau yang paling sering terjadi curcol galau mewarnai di media sosial kita, twitter, facebook, dan status BBM.


Sekian tahun berlalu dari masa-masa itu, aku aja rasanya malu untuk membaca lagi curcol-curcol lebay yang pernah ku buat. Mostly sih masalah pergebetan, percintaan dan sejenisnya, Masalah yang dulu terasa berat, kini jadi terlihat sebenarnya-sepele-tapi-ditanggapi-berlebihan. Yah setidaknya masa itu sudah lewat. Ketika SMA, aku kita yang galau karena gebetan, masa kuliah galau dengan PHP, yaa masalah yang booming pada jamannya. Malu kan kan kalau sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dan respon yang juga sama. Ya kayak gak naik kelas gitu.. *palm face* 

Masalah apapun, dikembalikan saja ke Sang Maha Pengatur

Klise. Tapi tidak semudah mengucapkannya. Kalimat yang nggak aku sangka bakal ngena banget buat ku, Waktu itu diajak ketemuan dengan senior-senior ku di kampus. Tanpa tau mau ngomongin apa, yang penting ketemu aja, walaupun jauh.

Salah satu senior ku dan juga teman yang lain ku akhirnya banyak cerita soal hal-hal "menakjubkan" yang beberapa waktu lalu menghadang mereka(eaaaa...). Dari satu hal ke hal lainnya, gak cuma soal jodoh tapi perihal keluarga pun, mereka sedikit bercerita bagaimana usaha yang dia upayakan untuk bisa survive. Minimal gak gila.

Dan sampai negara api datang menyerang aku hehehe~.Tapi sungguh aku anaknya lebay kalau soal kepercayaan. Long story short, instead of blaming others people, I blamed my self so much. Makanya kalimat tadi di atas aku sebut-sebut terus dalam hati. Sampai aku kabur ke Semarang, yang niatnya mau naik paragliding sekalian katarsis, malah jadinya ngedengerin tausyiah kehidupan temen deket kuliah ku. Alhamdulillah aku gak (jadi) gila,

Ada satu momen yang aku inget banget, atau mungkin ini yang disebut pengalaman spiritual (?). Kadang dihati sudah mulai memaafkan tapi kadang otak ini belum mau melepaskan, terlalu banyak worry, takut, bingung, gak berhenti nanya kenapa begini atau begitu. Entah gimana insight ke sekian aku baca sendiri di halaman-halaman terakhir novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang yang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan kita pahami secara sempurna. Beribu wajhanya berjuta bentuknya. Hanya ada satu cara untuk bekenalan dengan bentuk-bentuknya. Selalulah berprasangka baik.
Dan aku nangis kejer baca kalimat-kalimat itu. Yah itulah cara Allah ngasi pencerahan melalu sekeliling ku, walaupun cuma tulisan random yang ku baca. Sampai rasanya aku seolah bicara dengan diri ku sendiri "Yaudahlah pasti ada caranya, pasti ada jalannya. Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Percaya aja".

"Yaudahlah" itu menjadi powerfull word, bukan pasrah gitu aja tanpa usaha. Bukan gak berperasaan, gak boleh sedih atau nangis, gak boleh marah atau kecewa. Tapi melepaskan ekspektasi pribadi dan menukarnya dengan keyakinan bahwa pasti ada yang lebih baik.

So, kalau mungin akan ada yang bertanya, "kalau satu kali lagi kamu harus terjatuh, apa yang kira-kira akan terjadi?". Aku akan jawab "Tapi ku baik-baik saja" kemudian nyanyi bareng Mba Maia :D

Have a good day :D






Saturday, December 12, 2015

Saturday Night Advice

Today class in British Council is talking about someone who has a big influenced on us. Well, to that questions, Gabe asked me about the one who inspired me in doing voluntary work but I absolutely have no idea. I should admit that I literally forget how that came to me or even who brought that to me. You know when you forget about something, I'm sure that must be something less important to you today. Sorry to that :)) In fact, I deeply aware to whom I admire the most now. That is you who's able to fight your own insecurity within yourself, you who have a comfortable inner peace.

It's Saturday night now. I'm sitting at the most well-known coffee shop who build up the customers engagement to the brand by writing the customers' name on the side of the cup. From what I'm seeing I now, people are coming to this coffee shop particularly not to have long chit chat with friends, neither laughing out loud to spend the rest of the night. They're bringing their books in their hand with an earphone on. The others also are here with their laptop opened, not really sure what they're doing with their laptop, but seems fine although it is weekend. Recently, I also met two new friends who like to spend their weekend for movies all alone or do some me-time. Not to forget, there's also one person that I know closely who regularly recite The Qur'an every Saturday night, while some other may still thinking where should they hang out to.

What I'm trying to say here is there will be no day that you can run away from such peer pressure, but it all comes back to you, how you will response to it. This word from Nouman Ali Khan will always be in my mind :

No days that you will wake up, look in to the mirror, then feels like "Hey I'm a better person now". It will be on your daily basis to make a decision which path are you gonna take. And every day we will always face different choices. One's struggling may be different from others, but doesn't mean one's is easier than others'.


Just because I'm an introvert, I'm not saying that being around with friends is fully a mistake. But just do it if you really want to and not because you have to. To me, social acceptance is not that worth to be fight for, it should be given sincerely. You will be at the stage that what people say is worth less than how you describe your own self. Well, your whole life is more meaningful than one Saturday night. So for your own's shake, spend it wisely.


Have a nice Saturday night :)




*This post is written due to english written skills test.*

Sunday, September 27, 2015

Weird Post

Ngablu. You've been warned ya :)

Nanti pasti akan ada waktunya aku akan pergi meninggalkan ini semua. Lagi-lagi menarik mundur diri dari dunia, dari orang-orang ini, dari segala sesuatu yang fana. Yaitu saat dimana hawa nafsu mulai merajai hati, menggerogoti niat yang tulus. Kedamaian dengan diri sendiri sulit untuk dikuasai.

Mungkin aku manusia paling rumit sedunia. Perkataan dan perilaku ku banyak salahnya, mungkin aku bisa menjadi contoh supaya kalian jangan berteman dan jangan menjadi seperti aku. Hahaha..

Sering-sering tengok diri sendiri, sering-sering ngaca. Setiap orang pasti beda-beda, gak bisa nuntut semua orang ngerti cara berpikir kita, cara kerja kita, lebih-lebih ngerti apa yang kita mau. Pasti ada orang yang gak nyaman ada di sekitar kita, sama halnya kalau kita merasa tidak nyaman dengan orang lain. Tapi mungkin mereka gak enak buat ngomong dan akhirnya mundur pelan-pelan. Peka.

Dunia ini fana. Sering nipu kita. Dunia itu taruh ditangan, jangan dihati. Orang-orang, kejadian yang kita alami, itu  diterima kemudian harus siap dilepaskan.

*buka blog dan menemukan postingan ini saved as a draft. Yes, it's weird.*

Sunday, August 17, 2014

Terima kasih Allah

Allah, terima kasih telah mengirimkan orang-orang baik, lembut hati, yang dari mereka ilmu ku bertambah juga kebahagiaanku.

Allah, terima kasih atas anugrah-Mu yang mungkin membuat aku perasa tentang hal-hal yang sedang atau akan terjadi pada orang-orang baik di sekitar aku.

Allah, terima kasih karena Engkau masih dan selalu melindungi dan menyayangi orang-orang baik itu tanpa perlu ada aku diantara mereka.

Allah, terima kasih karena selalu mengingatkan aku akan keikhlasan dan ketulusan. Aku belum lulus lagi kan Ya Allah?

Tapi tidak apa Ya Allah kalau aku belum lulus, artinya aku harus belajar lagi, walaupun kadang aku jadi bingung harus mulai dari mana lagi ya.

Tidak apa kalau aku belum lulus Ya Allah, artinya aku belum memberikan yg terbaik untuk orang-orang baik disekitar aku, lebih parah aku pasti juga belum memberikan ketaatan yang terbaik untuk Mu.

Ya Allah aku minta maaf ya, minta ampun. Sampaikan juga maaf aku untuk orang-orang baik di luar sana, semoga selalu ada sesuatu yang berarti dan membahagiakan hidup mereka sebagai pengganti atas ketidakmampuan ku memberi.

Sunday, May 25, 2014

Hari ini, hari itu, hari yang biasa saja

Hari itu hari yang biasa, telponin orang ke luar kota untuk phone interview.
Aku lupa itu persisnya aku lagi telpon ke siapa dan dimana.
Tapi satu cuplikan ini bikin aku gak akan lupa buat seterusnya...

Saya resign dari pekerjaan yang sebelumnya karena istri saya dipindahkan tugasnya ke kota X.
Saya berpikir bahwa pada usia seperti saya, laki-laki masih jauh lebih mudah mendapatkan kerja dibanding perempuan. Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk mengalah dan ikut pindah bersama istri saya ke kota ini. Sekarang sudah beberapa bulan saya disini, saya belum dapat pekerjaan. Istri saya masih bekerja di kantornya.

Aku sendiri gak ngerti kebetulan macam apa yang coba Allah kasih ke aku. 
Tapi laki-laki itu besar hati sekali, itu yang terlintas dipikiran ku saat aku masih mendengarnya di telepon.

***
Hari ini pun hari yang biasa, arisan keluarga di resto di mall daerah Sudirman
Sepulang dari sana, tante aku minta tolong untuk dibayarkan billnya di sebuah resto di mall daerah Senayan
Tante aku benar-benar lupa membayar bill makanannya, mungkin karena sanking paniknya ketika anak satu-satunya tiba-tiba terserang struk ringan di saat akan menyuap sendok pertamanya 
Pendek cerita, anak tante aku, atau sepupu ku segera dibawa ke rumah sakit dibantu oleh pihak management mall, meninggalkan mobilnya yang hingga seminggu masih terparkir di dalam mall
Intinya bill makanan yang sama sekali belum sempatnya dimakan harus dibayar

Lalu aku kesana, bertiga dengan ibu dan bapak
Mencari restoran di maksud dan ternyata restoran tersebut bisa dikategorikan high class
Begitu kami bertemu dengan duty manager, ia menjelaskan seperti ini..

Bill yang menjadi tagihan dari Ibu X sudah ada yang membayar pada saat itu juga
Jadi saat itu situasi disini memang jadi sedikit ramai, beberapa crew kami juga panik dan berusaha membantu Ibu. Dan rupanya di antara tamu kami, tepatnya ada tiga orang, yang setelah Ibu X membawa anaknya ke RS, mereka menawarkan diri untuk membayar tagihan dari Ibu X. Dari tiga orang tersebut ada satu yang paling memaksakan diri supaya ia yang membayar saja.
Kami hanya sempat merecord namanya dari kartu kreditnya. Bapak Y. Akan tetapi begitu kami minta data lengkapnya, ybs keberatan. Beliau ikhlas membantu Ibu X.

Berapa total tagihannya? 

Rp. 4xxxxx ,-


Ya Allah... Aku bisa berkata apa. Sampai aku menuliskan ini pun, rasanya aku masih ingin menangis haru. 
Ya Allah, ciptaan mu sungguh baik sekali. Bahwa semua orang pada dasarnya baik, aku masih percaya. 
Dan Bapak Y itu salah satu bukti kebesaranMu. 

Kalau sekarang aku bertanya begini, seandainya kamu, berada di situasi seperti Bapak Y, masih mau kah kamu melakukan yang seperti Bapak Y itu lakukan?

Kamu, iya kamu...

***

Mungkin setiap hari akan jadi hari yang biasa saja
Tapi yang kamu, dan kita, tidak pernah sadari bahwa setiap detiknya adalah sebuah peta besar yang saling berkaitan. Seperti yang Tere Liye bilang bahwa hidup manusia adalah sebuah sebab-akibat.

Sunday, January 26, 2014

The universe will work that way

Muka

Muka itu bagi aku semacam pintu keluar dari diri seorang individu. Semuanya yang ada di dalam dirinya, alih-alih keluar melalui kata-kata di mulut, lebih banyak tercermin di raut muka. Dan banyak orang yang pandai menjaga mulutnya, tetapi tidak bisa "menjaga mukanya". Itu hal yang sangat wajar. Maka dari itu, aku bilang, yang paling jujur itu bukan di mulut, tapi segala apa yang muka, terutama tatapan mata, ia bisa bicara lebih banyak.

Poker face

Sepemahaman aku sih poker face itu muka yang ekspresinya tidak berubah, bukan tanpa ekspresi. Dari sejarah istilah ini muncul, pemain poker dituntut untuk bisa tetap tenang apapun kartu yang keluar sehingga tidak mudah dideteksi oleh lawannya. Jadi bukan tidak bisa menunjukkan emosi dan perasaan, tapi memang tidak ditunjukkan emosinya.

Masih menurut aku pun, setiap orang pasti sudah atau sedang melalui banyak hal dalam hidupnya. Sebutlah, Bagas, hobinya bikin orang ketawa lewat lelucon garing khasnya. Anehnya setiap habis seharian bisa bikin aku ketawa gak berhenti, esoknya Bagas cerita kalau sebenernya dari kemarin dia udah ngerasa gak enak badan. Damn.. sakit tapi masih bisa bikin ketawa?

Lalu yang lain, Dita, dia bagaikan ibu peri yang membawa kedamaian. Cara dia mendengar dan cara dia menjelaskan duduk permasalahan berhasil membuat Nino nyaman cerita berjam-jam sama dia. Yang Nino gak tau, bahkan jauh sebelum Nino jadi suka curhat sama Dita adalah Dita sendiri sering nangis sendirian di kamarnya setiap malam thinking about her own unfinished problem.

Dan dari dua ilustrasi itu, aku tau bahwa masih ada orang di luar sana yang tidak suka membicarakan atau sulit mengutarakan masalahnya lalu mengubahnya dalam bentuk perilaku lain untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Orang-orang ini hidup berdampingan bersama orang yang disebut extrovert. Orang-orang cenderung introvert adalah bukan orang yang tidak punya emosi. But don't you think the world favors the extrovert?

Overly sensitive

Kadang aku harus nyebut diri aku sendiri overly sensitive for unspecific reasons. Bagi aku, mulut bisa diam atau bohong, tapi muka orang nggak. Se-poker face apapun orang itu aku seringnya terasa bahwa orang ini sedang tidak baik. Gak melulu dari mukanya atau tatapan matanya, misalnya seperti cerita Bagas, orang toh harusnya ngeh bahwa Bagas punya cara yang demikian untuk mengalihkan perhatian terhadap dirinya sendiri.

Jadi kalau sewaktu-waktu orang di sekitar aku menunjukkan muka yang gak enak, akan muncul DHEG! Ini orang kenapa ya? Mukanya stress banget (atau sedih banget). Dan seterusnya setelah itu aku akan bingung harus gimana sama orang itu. Pernah aku coba untuk being nice, being there for them, dan kalau pun responsnya gak oke, malah akunya yang akan kepikiran terus harusnya gw gak usah kayak gitu dan akhirnya aku bener-bener gak tau harus gimana. Sampai waktu itu aku denger berita gak enak soal yang bersangkutan, aku makdeg-nya gak ilang lumayan lama.

Entahlah, sebagian dari diri aku pengen bisa bantu orang semaksimal yang aku bisa, meskipun aku cuma bisa sedia kuping dan cuap-cuap, gak melulu soal uang. Karena aku gak sanggup ngeliat orang terdekat sedih, susah, banyak pikiran, dan gak ada sama sekali yang aku lakuin. Tapi agaknya sejalannya waktu aku pun belajar bahwa orang juga pengen bisa nolong dirinya sendiri tanpa bergantung sama orang lain dan aku harus percaya setiap orang pasti bisa. Ya kayak aku yakin ke diri aku sendiri.
I really hope the universe will work that way

Ada satu pernyataan dari seorang psikolog yang aku kenal cukup baik..
"Kamu inget saya ya, kalau kamu lagi susah...."

Wednesday, August 14, 2013

Yang tersirat dari Switched at Birth dan yang lainnya..

Hari minggu yang biasa, menonton acara di TV juga suatu kebiasaan. Serial TV berjudul Switched at Birth.
Namanya Bay Kennish, seorang perempuan normal yang bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di sekolah khusus tuna rungu. Saudara perempuannya, Dapne Vasquez adalah seorang tuna rungu, jadi (mungkin) Bay ingin lebih memahami kehidupan dalam dunia yang semua menggunakan bahasa isyarat. Selama kuliah Bay, bukan pembuat onar, tidak merendahkan teman-temannya, dan sebagainya, dia cuma kesulitan menangkap penjelasan materi belajar, juga bersosialisasi dengan teman-temannya yang sangat cepat 'berbicara'. Diceritakan ada satu orang yang menunjukkan ketidaksukaannya pada Bay, sampai akhirnya orang itu 'ngomong': Di setiap tempat di dunia ini, kami yang harus menyesuaikan diri dengan cara kalian hidup. Setiap tempat seolah-olah adalah milik kalian. Apa tidak ada satu tempat pun dimana tempat itu adalah milik kami, diciptakan memang untuk kami? Kamu tidak seharusnya ada di sini! Bay cuma diam.
Lain ceritanya dengan Dapne...
Dapne, awalnya besar di lingkungan sub-urban, warganya hidup serba kekurangan. Di keluarga barunya sekarang yang jauh lebih berkecukupan, Dapne bermaksud membantu warga di tempat tinggalnya yang lama dengan berjualan taco. Taco dijual dengan harga $3. Menurut ayahnya harga itu terlalu murah, bahkan tidak cukup untuk membeli bahan-bahannya. Harga per taco jadi $6. Siang hari, Dapne menawarkan taco-nya ke teman bermainnya dulu yang bekerja di tempat pencucian mobil. Sayang, temannya menolak karena menurutnya harga $6 terlalu mahal untuk seporsi taco untuk makan siang bagi pekerja seperti dia. Dia pun tetap menolak waktu Dapne menawarkan dengan cuma-cuma. Akhirnya harga taco turun lagi, "pay as you can". Pembeli langsung ramai. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang datang meminta supaya taco car Dapne pindah dari wilayah itu, katanya: "Kamu, orang yang baru datang ke sini beberapa jam lalu, apa kamu pikir sudah menolong orang-orang di wilayah ini dengan berjualan taco dengan harga yang sangat murah itu? Kamu tahu, paman ku sudah puluhan tahun hidup di sini, mengandalkan hidup setiap hari dari berjualan makanan sederhananya sama dengan penjaja makanan lainnya, dan hari ini tidak ada satu pun pengunjung yang datang karena semua warga membeli taco murahmu. Siapa yang ingin kamu tolong di sini?
 Hal lain yang saya temui masih dari hari Minggu yang sama..
Sekelompok bapak dan ibu bermaksud mengadakan acara amal di rumah sakit, khususnya di bagian anak. Mereka akan membagikan ta'jil, makanan, pampers, juga alat tulis untuk pasien anak-anak. Akan tetapi pemberian tidak hanya berbentuk fisik, mereka juga ingin memberikan hiburan sulap untuk anak-anak bertempat di sebuah ruang terbuka di lantai 1 bagian rawat inap anak di sana. Sebagian ibu-ibu ternyata masih sibuk memasukkan kue-kue ke dalam plastik, sebagian yang lainnya menyusun yang akan dibagikan ke anak dan persiapan atraksi sulap. Semua ribut. "Ibu, kata humas rumah sakit, beresin makanannya jangan di sini, nanti ruangannya kotor". "Ibu, anak-anak yang boleh keluar kamar hanya segini, dikasih waktu 30 menit, gak enak sama pasien lain yang ada di kamar sama di lantai atas, takut ganggu". "Ibu, di sini tidak boleh makan. Di luar saja". Selesai acara, seorang ibu bergumam, "Ya begini ini nasib jadi relawan, diusir-usir". Perawat rumah sakit hanya diam tersenyum. 
Hari Minggu itu satu jendela terbuka. Menolong orang, sebaik apapun niat kita, kalau caranya salah, apa yang dimaksud tidak akan tersampaikan. Padahal, menolong orang itu tujuannya ada di diri orang lain. Apa yang menurut kita orang lain itu butuhkan sangat mungkin berbeda jauh dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Jadi, cari informasi yang benar, kreatif mencari solusi, singkatnya menolonglah dengan niat yang tulus dan cara yang benar.



Happy helping people! ^^

Friday, July 12, 2013

Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Hari kemarin bisa jadi satu moment refleksi buat saya, dan mungkin buat kita semua. Di atas semua permasalahan pribadi yang kita miliki, kekecewaan kita dengan keluarga, teman, dan juga diri sendiri, saya mungkin luput akan hal-hal sederhana seperti ini.

Banyak saudara-saudara saya di luar sana yang hidupnya jauh lebih susah sekarang. Jangankan untuk merasakan akses internet yang bisa kita nikmati setiap saat, mereka masih kebingungan makanan apa yang bisa mereka santap untuk esok sahur dan juga berbuka, dan itu terjadi setiap hari. Untuk kebutuhan yang paling esensial untuk hidup saja mereka tidak terjamin, lalu kesedihan macam apa yang saya pertahankan berlama-lama?

Saya mungkin belum diberi kesempatan untuk memperoleh pekerjaan di kantoran, tapi saya bisa memberikan kesempatan bagi saudara-saudara saya untuk sekedar mengisi perut mereka, bertahan hidup-hidup dari ke hari-hari. Saya berpikir bahwa akan selalu ada banyak cara, tidak melulu dengan uang sekian ratus ribu, terkadang kita sendiri yang mempersempit pilihan-pilihan itu dengan alasan-alasan klasik.

Malam itu ramai sekali di lini masa orang-orang yang mencoba menyentuh dan menggerakan hati orang lain untuk saling membantu sebuah panti asuhan dan panti jompo di daerah Jember, Jawa Timur, hingga yang tak terkira dalam satu malam terkumpul dana hingga 3 juta untuk disalurkan ke yang bersangkutan. Luar biasa! Percaya saya, di luar sana masih banyak orang baik! Moment itulah yang menginspirasi saya, bahwa diluar kesedihan yang kita tangisi atas diri sendiri, masih banyak orang-orang yang butuh tenaga kita dan mau suruh mereka tunggu berapa lama?

Setidaknya itu manusiawi jika suatu saat kita kecewa ada orang yang meminta makan, namun pergi ketika kita bilang "tunggu sebentar saya sedang masak untuk kamu" dan berlalu begitu saja kita tawarkan makanan yang telah kita persiapkan. Saya sudah pernah melalui kejadian seperti ini, berulang kali, hingga akhirnya saya percaya "Tak apalah, orang itu pasti sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan, dan setidaknya saya orang yang dia andalkan pertama kali. Lain kali saya harus memasak lebih cepat". Iya, selalu ada introspeksi yang saya tinggalkan untuk diri sendiri.

Dan saya juga tidak bermaksud menyepelekan masalah yang sedang masing-masing kita sendiri, apalagi meminta kalian untuk berdamai dengan diri sendiri, hebat sekali saya. Tapi yang selalu saya lakukan, coba cari ruang di hati mu, ruang sempit juga tak apa, untuk kamu isi dengan cahaya baru. Sekali waktu saya merasa seperti terpaksa, terdesak, dan menipu diri sendiri, tetapi kebahagiaan dan ketenangan yang bisa saya rasakan setelahnya, tidak tergantikan. Saya, kamu, kita pasti bisa melakukan banyak hal untuk menyalakan lilin-lilin di hati kita masing-masing.

Kita tidak perlu mencari kebaikan di tempat lain, yang hanya akan mengacau dan menipu hati. Kita harus selalu melihat ke dalam hati kita sendiri, melihat apakah ia sudah dalam keadaan baik atau tidak. Semua orang memiliki sebuah hari dan setiap hati memiliki kualitas terlatih atau tidak terlatih. Jadi pergunakanlah kemampuan Anda untuk menganalisa perbedaan, untuk mengamati hati, rasa kesadaran ini tepat berada di sini, dalam diri Anda sendiri- Ajaan Suwat


**
Kita bisa membantu yayasan "Mambaul Hidayah" yang terletak di Jember, Jawa Timur dengan cara:
1. Donasikan dana melalui BCA Balung Jember a.n. Haidar Raditia Al-Maliki 8910298926
2. Kumpulkan koin-koin di rumah bersama teman, saudara, lalu serahkan kepada Abah Dymas
3. Bagian berita ke teman-teman melalui akun sosial media
4. Do'a kan semoga adik-adik disana bisa memdapat bantuan
Berita lengkap mengenai project funding untuk yayasan "Mambaul Hidayah" bisa dibaca disini yang ditulis oleh Shei Latiefah


Monday, July 8, 2013

To live as a life lesson

Wise people say that those people came to your life for a perfect reason God's created. But then so do we, right? We also came to someone else's life for a reason although it beyond our own goodwill. We can be a blessing nor a lesson for them. The question is can we accept that?

I'm sure none of us deliberately do an evil thing to hurt each other. We're born as a good man. We want to live happily side by side with others. We want be a good man, give the best we can to put a smile on their face. It's a blessing. A positive one.

But life is full of surprises. Bad things happen. We broke our promises, fortuitously the other will disappointed. We may unintentionally cut the other happiness, also because of our decision. Things mess up. We get angry, at the same time, we also hurt those who we put blame on, even it's ourselves. I really think at time like that, we're such a fool.

I mean, do we realize that we sometimes are in the center of negative frequences? We probably are the causes of any bad things that people do? Their rebellions were caused by our harsh words when we angry. Their infocus work caused by our selfish instruction. Then people cry, they left us. It may  because the unhealing distrust we made.

It's something undeniable that we, as a human, can make a bad impact in other human's life. However, at least we make them think to not be like us. We let them choose the other positive track, not here with us. We also make a self mark to not do the same mistake again. 

But, the second question is have we ask for forgiveness for who were yesterday to your closest friend, your mate, your parent, either they still stay or left? The last one and the most noteworthy is have we forgive ourselves yesterday for anything he had done?

Happy Ramadhan and happy fasting to all of us! May Allah forgive our sins ^^

Thursday, June 13, 2013

Untung masih punya malu - Cerita tentang hijab

"Kenapa kok pake hijab, kan masih muda.. Dapet hidayah?"

"Kenapa nggak..."

Saya malu.

Malu, kalau urusan pake hijab aja setengah-tengah, kadang pake kadang nggak. Awalnya bilang "mau belajar dulu", tapi lama-lama malu dilihat sama Allah. Padahal kita maunya segala urusan bisa segera dan lancar.

Malu, kalau pas jalan-jalan sama temen, yang lain pada tertutup pake tangan panjang, pake jilbab, tapi diri sendiri malah buka-bukaan. Risih rasanya.

Malu, gak menepati janji sama agama sendiri. Aturan memakai hijab ini kan uda tertulis jelas di Al-Qur'an, siapa pun dan dimana pun juga mengatakan hijab itu wajib. Kalau uda tau, uda baca aturannya, kenapa gak dijalanin? Lagi, padahal janji sama sesama manusia bisa kita usahain untuk dipenuhi.

Allah uda baik banget sama kita. Kenapa kita gak bisa memberikan usaha yang sama buat menyenangkan Allah sebesar usaha kita untuk menyenangkan orang-orang terdekat?

Malu.

Saya pribadi juga banyak pertimbangan sebelum berhijab, yang menurut saya itu manusiawi. 

Saya masih muda, masih pengen bereksperimen dengan model pakaian, model rambut, hingga ada satu waktu saya merasa perempuan-perempuan yang berhijab itu cantik. Saya mulai lihat majalah mode untuk perempuan muslim. Dan semua yang saya khawatirkan terjawab, mode busana muslim juga berkembang.

Saya pengen keluar negeri, backpacking juga travelling. Katanya beberapa negara punya aturan ketat untuk perempuan muslim yang berhijab. Jadi takut gak bisa keluar negeri? Takut dikira teroris? Coba search di google nama Dian Pelangi, Asma Nadia. Dian Pelangi baru saja mengadakan fashion show di Eropa (kalau mau beli koleksi Dian Pelangi harus nabung kali nih zzz). Asma Nadia juga sudah menjelajahi 130 kota di 30 negara di dunia. Bisa kan?

Di buku Asma Nadia yang berjudul The Jilbab Traveller ada kutipan ini:

Berjilbab bukan berarti kamu nggak bisa keliling dunia. 
Jalan-jalan aman, nyaman, mudah, murah, bahkan gratis bagi muslimah.

Jadi?

Semoga istiqomah ^^


Thursday, June 6, 2013

semoga bisa memberi pencerahan

Hanum dan Naya adalah dua orang pemikir. Hanum suka ngobrol sama Naya, ya karena lebih banyak menggunakan logika. 

Hanum dan Naya juga sama-sama pinter. Ikut organisasi. Orang bilang, orang cerdas itu kelihatan dari cara mereka bicara, menyampaikan pendapat. Itu yang dirasain Naya tiap bertukar pikiran sama Hanum, baik perihal penting maupun gak penting-penting amat.

Suatu hari Hanum bingung. Merasa gak punya prestasi, gak pernah ikut kompetisi. Apalagi menang penghargaan. 

"Ini kolom Achivement, Honors, Awards diisi apa coba, kosong. Baru sadar sejenis gak pernah ngapa-ngapain selama kuliah.."

Naya ada di sebelahnya.

"Jadi ada cerita begini. Temen aku waktu interview kerja juga ditanya hal yang sama. 'Prestasi kamu selama kuliah apa?. Nggak ada, pak. Yakin, masa gak ada? Kalau waktu SMA? Apa ya pak, paling lomba juara X. Itu aja, gak ada yang lain? Iya, pak. Kamu tahu, semua yang sudah kamu lakukan sampai sekarang kamu bisa interview dengan saya itu prestasi. IPK kamu, skripsi kamu, kamu bisa lulus sarjana itu prestasi. Tidak melulu berkaitan dengan kompetisi. Tapi prestasi itu juga bagaimana kamu menilai dan menghargai diri kamu sendiri. Banyak orang gagal karena menilai rendah apa yang sudah diri sendiri capai.' 

Itu pengalaman temen aku, semoga bisa memberi pencerahan sama kayak waktu aku denger cerita ini."

Friday, May 17, 2013

Teman baru

Cerita ini adalah hutang saya di halaman beberapa waktu yang lalu.

Aku punya banyak teman, tetapi aku jelas memilih siapa yang akan menjadi teman dekat. Ini juga pesan yang pernah aku baca di suatu tempat. 
"Bertemanlah tanpa pilah-pilih. Tapi pilihlah siapa yang bisa dekat dengan mu, karena ia yang akan menjadi sumbu positif mu."
Namanya Luti. Kenal sudah hampir 5 tahun, tapi baru kenal dekat 2 bulan belakang ini. Dia bukan perempuan berbusana chiffon tipis melambai dengan jegging warna masa kini. Chiffonnya, dia ganti dengan baju tangan panjang yang tidak membentuk tubuh. Jegging warna-warni ditanggalkannya, lalu ia gunakan panjang semata kaki yang kemudian ditutup dengan kaos kaki. Rambut  hitam panjangnya tersimpan dibalik jilbabnya yang menutup hingga ke dada. Bicaranya sungguh lembut.

Suatu siang hari yang sejuk, dia memesan makanan antar. Sambil menunggu dia sedang duduk santai sembari membaca buku. Rupanya dia tidak sadar telepon genggamnya berbunyi hingga seseorang mengetuk pintu memberi tahu bahwa pesannya sudah datang. Serentak bukunya langsung diletakkan di sisi tempat tidurnya, menggambil jilbab, memakai jaket, dan memasangkan kaos kaki. Berlari menghampiri sang pengantar.

Kembali dengan membawa makanan di kantung plastik, ia mengambil kertas bekas di atas meja belajarnya. Kucing yang sedari tadi tidur di bawah kasurnya langsung mengeong lapar. Ia makan dengan lahap sebungkus nasi lele beralaskan kertas. Sementara, Luti melanjutkan membaca buku.

"Aku tidak punya banyak teman di sini, tapi masih bisa makan yang bersih. Kucing ini kasihan"

Dari dia aku belajar satu hal sederhana bahwa peduli itu bukan hanya pada manusia, tapi semua makhluk Allah. Dari dia aku melihat ketaatan seorang hamba Allah yang sungguh indah.


Catatan ulang tahun

Catatan ini saya buat terhitung sejak hari ulang tahun saya 18 Februari lalu, tentang hal-hal yang harus saya lakukan dan tidak lagi saya lakukan. Daftar ini dibuat berurutan dari yang paling harus lebih dahulu belajar diterapkan.

1. Berhenti mendengarkan apa kata orang lain terhadap setiap keputusan yang sudah kamu buat. Berhenti mendengarkan komentar buruk yang tidak mengoreksi ataupun tidak membangun. Kadang rasanya seperti, berhenti saja percaya pada orang lain.

2. Sampaikan apapun yang ada dipikiranmu, sampaikan pada Allah, pada buku kosong, pada selembar kertas, pada orang yang bersangkutan, pada orang yang ada dicermin, lalu tertidurlah. Kamu tidak perlu mencekik lehermu untuk menahan suaramu, menggilakan. Suaramu penting, minimal untuk dirimu sendiri supaya kamu tetap waras.

3. Menulislah. Untuk itu kamu harus selalu membawa buku kecil kemana pun kamu pergi. Bisa jadi buku itu akan menjadi temanmu yang paling setia, jika sewaktu-waktu dirimu berubah menjadi batu.

4. Pergi keluar, makan banyak es krim, berbincang dengan orang baru, sebisa mungkin menjawab 'iya' setiap ajakan, tawaran, permintaan tolong yang diberikan kepadamu. Kesempatan itu tidak datang dua kali, tapi kalau kamu keluar dari rumah mu, keluar dari tempat nyamanmu, kamu bisa menciptakan kesempatan yang lainnya.

5. Di usia mu sekarang, hal-hal yang harus kamu lakukan bukan lagi untuk pengembangan dirimu sendiri, tetapi juga pengembangan diri orang lain. Coba jurus jitu yang bernama berbagi. Kamu tidak harus menjadi relawan, donatur, ataupun guru, ada banyak cara sederhana yang bisa kamu lakukan untuk orang lain, tanpa harus kamu pikirkan orang lain itu siapa.

6. Selalu ingat Hukum Satu Tongkat. Bahwa kamu bertanggung jawab pada satu sisi dari sebuah tongkat. Ujung tongkat yang lainnya adalah tanggung jawab orang lain. Sekeras apapun usahamu membantu orang tersebut memegang ujung tongkat, semua keputusan bukan ada di dirimu. Itu juga cara mu memanusiakan dua manusia sekaligus. Kalau tidak percaya, coba pergi ke taman dan perhatikan permainan jungkat-jungkit.

***

Daftar ini belum selesai, mungkin akan terus bertambah, nanti saya pikirkan lagi.

Thursday, December 13, 2012

Di antara diri dan hati kita


Kami lebih dekat kepadanya daripada urat merihnya sendiri. (Qs, 50: 16)



... ketahuilah bahwa Allah berada antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun kembali. (Qs, 8: 24)



Kalau kita bisa mengenali secara analitis antara diri kita dan hati––inilah diri dan hati kita––maka di antara keduanya ada Tuhan. Oleh karena itu, tidak mungkin kita lari dari Allah Swt, lepas dari pengawasan-Nya. Kesadaran itulah yang membuat orang menjadi bertakwa, yaitu menempuh hidup dengan bertindak dan bertingkah laku begitu rupa, selalu memperhitungkan hadirnya Tuhan. Tuhan selalu ada dan selalu tahu. Hal ini mempunyai dampak yang sangat besar dalam hidup kita karena secara psikologis, kita tidak akan pernah merasa sendirian dalam hidup. Kita berani menempuh hidup ini karena sandarannya ialah Allah Swt. Maka, ada istilah tawakal, bersandar kepada Allah, ada istilah alwakîl (sandaran).

... Allah cukup bagi kami sebagai Pelindung terbaik. (Qs. 3: 173)

Itulah sebabnya orang yang bertakwa akan berani hidup; tidak takut menghadapi tantangan. Ada pesan dari Allah,

Hai orang yang beriman! Jagalah dirimu sendiri. Orang yang sesat tidaklah merugikan kamu jika sudah mendapat petunjuk. Kepada Allah kamu semua akan kembali. Kemudian diberitahukan kepadamu mengenai apa yang sudah kamu lakukan. (Q., 5: 105)

Dalam kata lain, dengan berbekal takwa dan tawakal, kita berani hidup sendirian, berani menjadi diri kita sendiri, be our self, tidak menjadi orang lain, tidak mencoba untuk berpura-pura, tidak mencoba untuk menempuh hidup imitatif-artifisial, dan itu adalah salah satu dimensi dari ketulusan. Be your self, jadilah seperti kamu (dirimu sendiri).









Sy Nurcholish Madjid

****


Be the best of your self and always trust Allah .




#reblogged from here

Friday, November 9, 2012

Dirimu sendiri


Ketika pikiranmu terlalu kuat dan mulai beringas, sementara hatimu mulai tertutup rapat bahkan untuk dirimu sendiri, maka jadilah jiwamu menjadi mangsa bagi dirimu sendiri.

Diri sendiri adalah lawan terberat, sekalipun rasa-rasanya adalah teman terdekat. Kita mengetahui seluk beluk diri kita. Jika diri kita sendiri berubah menjadi musuh, maka habislah kita.

Kerap kali aku menjadi lawan bagi diriku. Seperti ada dua sisi yang berbeda yang sedang berdebat di dalam kepalaku yang kecil ini. Tetapi tidakkah itu sebenarnya hanya fenomena pikiran dalam menimang dan mempertimbangkan sesuatu? Sebab sebelum aku bertanya pada siapapun, aku suka bertanya dulu pada diri sendiri. Maka ketika sesuatu di dalam diriku tampak bagaikan lawan, aku ingin mengalahkannya.

Kupikir pemenang sejati ialah pemenang yang berhasil mengalahkan dirinya sendiri, yang hendak memberikan pialanya kepada sesama, demi kemuliaan Tuhan. Jadi tidak ada yang ingin aku ambil dari pertempuran di dalam diriku. Melawan diri sendiri bukanlah caraku mencari untung atau piala untuk diriku sendiri, melainkan caraku untuk menyerahkan diriku pada sesama.

Dimusuhi orang lain masih dapat dipetik sebagai pelajaran, tetapi memusuhi diri sendiri tidak mengajarkan apa-apa. Hidup kamu, kamu yang jalani, kamu yang memilih, kamu juga yang menerima konsekuensinya.





Bernard Batubara

Thursday, September 13, 2012

..to save one life..

"If you don't try to save one life, you'll never save any.."
- Resident Evil Degeneration

Apa kamu pernah melakukan sesuatu yang menurut mu baik untuk orang lain, tapi (sering) berakhir dengan buruk? Tidak diterima dengan baik, dianggap tidak tepat dan tidak tulus, tidak ada ucapan terima kasih, dan berbagai penolakan yang sebagai manusia biasa mungkin terbersit rasa kecewa.

Rupanya begini saja ketika menolong orang lain, cukuplah sampai pada apa yang kita perbuat untuknya, bukan pada bagaimana mereka memberi respon. Tidak perlu berharap apapun.

Kalau respon yang yang bersangkutan kurang menyenangkan, introspeksi diri. Mungkin waktu dan cara kita menolong ada yang kurang berkenan. Ukurannya bukan di kita, tapi mereka yang merasakan. Perbaiki 'kesalahpahaman' itu sejauh kamu bisa.

Kalau suatu saat posisinya dibalik, ingat juga bahwa kita hanya berasumsi dan mengira-ira niat seseorang dibalik perilakunya, tapi yang sesungguhnya tau hanya dia dan Tuhan-Nya. Tugas kita, berbaik sangkalah dan hargai ketika ada orang yang mengulurkan tangannya untuk kita :)





(picture source : here)

Tuesday, September 11, 2012

Kita perlu melakukan sesuatu

Untuk menciptakan perubahan dalam bidang kehidupan apa saja, kita perlu mengubah sesuatu.

Kita tidak perlu meninggalkan jati diri kita, 
tapi kita perlu  mengubah cara kita mengkomunikasikan jati diri kita. 

Kita tidak perlu mengubah reaksi batin kita, 
tapi kita perlu mengubah cara kita menanggapi orang lain

Kita tidak perlu mengubah perasaan kita mengenai berbagai hal, 
tapi kita perlu mengubah sikap kita

Kita tidak perlu mengorbankan ekspresi diri kita yang sejati, 
tapi kita perlu menyesuaikan ekspresi kita dengan apa yang sesuai 
dalam berbagai situasi yang berbeda.











(source Mars and Venus in the Workplace)

Wednesday, August 1, 2012

Adakah...?

Segala sesuatu kalau dibiarkan berlalu maka akan berlalu begitu saja. Sesuatu yang sudah diprediksi atau pun sebuah kejutan. Tidak pelu dirasa, tidak juga dipikirkan. Semudah itu? Maka "semudah" itu pula hidup dalam self-denial.

Bukan, itu bukan denial. Beberapa orang memilih menyimpannya sendiri dan hanya membaginya pada orang yang mereka percaya ataupun hanya kepada-Nya. Kau tau kenapa? Karena hidup ini kejam, seolah-olah orang itu badut. Sebisa mungkin dituntut menjaga perasaan orang lain supaya tetap bahagia, baik-baik saja. Mengenyampingkan perasaannya sendiri. Ya hidup itu sendirilah yang "menuntut" orang untuk tidak jujur.

Tapi adakah kebohongan-kebohongan yang diperuntukkan untuk membahagiakan dan demikian sebaliknya, adakah kejujuran-kejujuran yang sengaja dipertunjukkan untuk mengecewakan... ?





Monday, July 16, 2012

... EHM!

Jangan pernah memiliki pikiran, “Aku melakukan ini untukmu, jadi apa yang bisa engkau lakukan kepadaku sekarang?” Jangan pernah mempunyai pikiran seperti itu.

Jika engkau menolong seseorang dan mengharapkan imbalan, maka engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri yang melakukan perbuatan egois, dan setiap bantuan, kasih sayang, atau kebenaran yang engkau berikan akan berbalik menyakiti dirimu. Hal itu akan mengumpulkan keburukan kepadamu.

Jika engkau memberi pertolongan dengan cara seperti itu, hal itu adalah jahat, tidak baik. Engkau selayaknya tidak pernah berada dalam keadaan seperti itu. Imbalanmu datang dari bantuan yang engkau berikan, bukan dari orang yang engkau bantu. 

Adalah tanggungjawabnya, bukan tanggungjawabmu, untuk mengingat bantuan yang telah ia dapatkan. Engkau selayaknya hanya menyelesaikan pekerjaanmu kemudian pergilah.

Adalah salah jika mengharapkan imbalan.








Sy. M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen