Showing posts with label Jakartans. Show all posts
Showing posts with label Jakartans. Show all posts

Saturday, January 23, 2016

Kata Untuk Perempuan

Have you consider for doing something that you really interest in but at the other hand it will push you to go accross the rules?

I have did! And it's pretty amazing experiences, allow me to share you the story ya :D

*push the subtitle botton*
*turn it to Bahasa Indonesia*

Kakak senior di kampus dulu yang paling deket sama aku itu namanya Mega Tala Harimukthi atau biasanya aku panggil Kak Tala. Kak Tala ini selain kakak yang super kakak-able, dia juga aktif di dua organisasi Forum Indonesia Muda dan Indonesia Mengajar. Singkat cerita, hasil ngintilin Kak Tala hari itu, aku jadi punya 2 temen baru Kak Maya Rumpe dan Yulaika.

Kemajuan teknologi berwujud aplikasi Instagram, sangat membantu kita untuk dapat informasi jauh lebih cepat. Yulaika yang ternyata aktif di Instagram, baru saja memposting foto pada saat workshop Kata Untuk Perempuan bersama Ika Vantiani. Di fotonya itu Yula bersama dengan beberapa perempuan lain sambil memegang hasil karya kolase mereka masing-masing.

Langsung aku tab akun instagram @katauntukperempuan di postingan itu dan mendirect ku ke halaman instagram yang berisi sejumlah foto kolase bertema perempuan. Di salah satu fotonya aku baca apa maksud dari kolase-kolase itu. Menarik! Pilihan workshop selanjutnya yaitu tanggal 13 Desember (kalau tidak salah) dan Januari pada saat event Jakarta Biennalle. Dengan pertimbangan venue yang dekat dari kantor pada tanggal 13 itu, aku langsung daftar ke Mba Ika, walaupun hari itu adalah HARI KERJA. Hari kerja di tengah minggu dan workshop mulai dari jam 17.00. How come???

Tekat ku bulat pada saat itu, ya nggak bulet2 amat, karena aku juga belum memutuskan apakah akan cuti atau pulang cepet. Kalau cuti pun terlalu mepet dan pekerjaan sedang banyak, pasti gak diapprove. Option selanjutnya pura2 sakit. Sejauh ini sakit alasan paling aman kalau kamu mau tiba2 gak masuk untuk alasan yang gak mungkin kamu jujur. Apalagi kamu sendiri di bagian HR (susah kalo mau ngibulin temen sendiri). Hehehe. Tapi akhirnya opsi yang win-win solution menurut ku adalah izin pulang cepat!

Segitunya Hen?

Iya harus segitunya, aku cuma mikir kalo nggak sekarang kapan lagi? Kesempatan gak datang dua kali dan kalau nggak begitu caranya, aku ngerasa aku gak pernah keluar dari lingkaran pekerjaan dan ngelakuin apa yang kita suka.

Keluar kantor jam 16.00 aku perhitungkan lebih enak naik gojek dibanding kendaran umum karena harus pindah 2 kali dari arah Senen ke Taman Ismail Marzuki. Ditambah jalan yang macet karena jam pulang kantor. Ralat: Bukan Taman Ismail Marzuki tapi Institut Kesenian Jakarta. Aku pernah ke TIM tapi belum pernah ke IKJ. Maksud ku, aku gak pernah tau dimana Gedung Kampus IKJ. Orang-orang pasti aware kalau aku bukan orang sana, istilahnya saltum dan salmuk. Hahaha.

Oh well, if you might asking what did I say to my superior or even my partner, feel free to guess what..

Ya sudah akhirnya karena kelamaan nyasar, pas aku nemuin ruangannya Mba Ika sudah mulai bercerita. 

Apa sih yang dilakuin selama workshop "Kata Untuk Perempuan"? 

Di papan tulis Mba Ika nulis, bahwa setiap orang diminta memilih satu kata yang pop up untuk mendeskripsikan perempuan. Pilihan katanya bebas, konotasi ataupun denotasi, positif ataupun negatif. Setelah itu, kita kreasikan kata tersebut dalam bentuk kolase diselembar postcard putih.
Di halaman belakanganya, kita ceritakan apa makna kata tersebut bagi kita. Alat dan bahan kolase, seperti gunting, lem, majalah-majalah bekas, dan kertas beraneka motif semua disiapkan Mba Ika dan teman-teman dari IKJ.

*DUAAARR*

Dan aku masih belum memutuskan kata apa yang tepat. Buka-buka majalah, tengok kanan kiri. Malah akhirnya satu mahasiswa IKJ nyeletuk, "Kak, kalo mau bikin kolase, majalahnya jangan dibaca isinya". Hahaha dia bener dan mba Ika juga ketawa, "Iya itu kebiasaan pasti, apalagi kalau majalahnya Bazaar". Workshop itu pun diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang kolase dan tentang perempuan itu sendiri.
Kolase Workshop Kata Untuk Perempuan

What I'm trying to sum up is..

Sampai hari ini banyak kata-kata yang maknanya jadi berubah untuk dan secara langsung atau tidak berkaitan dengan perempuan. Misalnya, mbak, mbak ini dalam bahasa Jawa adalah panggilan untuk perempuan yang kalau dalam urutan keluarga lebih dituakan (kakak perempuan), panggilan mbak juga digunakan untuk sapaan perempuan umum yang kira-kira usianya masih sepantaraan dengan kita. Tapi coba ketika mbak ini ditambah jadi mbak-mbak, "mukanya mbak-mbak banget". See that?

Contoh lain, tante-tante. Bahkan salah satu peserta workshop ada yang menuliskan dapur, hanya karena pada saat lomba 17an di rumahnya, Pak RT mengatakan bahwa "peserta lomba memasak adalah ibu-ibu muka-muka dapur".

Ada banyak kata lain yang dipilih peseta. Drama, karena perempuan suka "drama", padahal arti kata sebenernya dari drama adalah salah satu bentuk opera seni. Yasui, yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti murah, maka segala sesuatu akan lebih murah karena wanita bisa dikaryakan, mencuci, memasak.


What's the best words to describe this workshop?

AMAZING!!

Monggo langsung dicek instragram @katauntukperempuan :D 

Sunday, January 3, 2016

Cerita Kakak-kakak (part 2 - tamat)

"Volunteering is about giving your time to a good cause. You don't get paid, but you do get the chance to use your talents, develop new skills, and experience the pleasure that comes from making a real difference to other people's lives, as well as your own." - Volunteer Bristol
Kenapa kamu mau jadi volunteer?

Salah satu volunteer dari Rumah Belajar Rawamangun melontarkan pertanyaan itu ke sesama teman-teman volunteer lainnya. Lalu dia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Oke, mungkin dimulai dari saya dulu. Buat saya ikut acara begini itu alasannya simpel.  Untuk mengisi waktu luang. Senin-Jum'at udah padet untuk kerja. Jadi, pas weekend  pengen  ada kesibukan lain biar refresh.
Dan begitu mendengar jawabannya ini reaksi aku walaupun cuma dalam hati
"Bener banget! Ini dia nih yang gak ribet alasannya. Gak perlu punya visi misi mencerdaskan kehidupan bangsa segala. Hahaha.."
*****

Definisi volunteer dari Bristol di atas menggarisbawahi bahwa satu hal yang pasti didonasikan oleh semua volunteer adalah waktu. Karena waktu gak akan bisa kembali *eaaaaa*. Selain waktu juga sebenarnya ada hal lain yang kita "donasikan" tapi tidak masuk ke definisi, yaitu uang. Iya dong, itu fakta kan? Seolah-olah tabu untuk membicarakan uang karena ini kegiatan sosial. Tapi uang juga masalah yang sensitif. Karena kita tidak bayar atas apapun yang kita lakukan, otomatis segala biaya yang kita keluarkan untuk transportasi dan konsumsi ditanggung sendiri. Jadi sebelum mengajukan diri menjadi volunteer, 2 hal ini baiknya jadi pertimbangan pribadi, waktu dan biaya.

OK, tapi terus apa dong yang bakal didapetin, uda keluar duit buang waktu pula?

Volunteer itu ya gampang-gampang susah menurutku. Susah kalau dana terbatas, waktu juga terbatas. Aku pernah lho gak jadi ikut kegiatan festival Indonesia Mengajar ya karena gak ada biaya. Ya mau gimana lagi. Dengan punya tujuan yang positif, atau setidaknya kita (atau aku) mengganggap apa yang kita lakukan saat itu adalah baik dan ada manfaatnya, buat orang lain dan buat diri sendiri. Mencari manfaat buat diri sendiri itu penting lho. Jangan kaget kalau di luar sana bakal banyak orang yang memandang aneh orang yang meluangkan waktunya ngelakuin segitu banyak hal orang lain yang kenal aja nggak dan dibayar aja nggak. "Ngapain sih lo, kayak gak ada kerjaan lain aja.." :|

Salah satu volunteer Rumah Belajar Rawamangun yang aku ceritain di atas menurut aku punya alasan yang cukup sederhana. Sederhana tapi bermakna *cieeee* *uhuuuk*. Alasan aku pun juga gak jauh beda, cuma karena Rawamangun deket dari rumah. Aku pernah ikut beberapa kegiatan yang lokasinya jauh, jauh banget di Ujung Aspal, Pondok Gede. Dari rumah ku di Matraman kalau mau ke sana perjalanan sekitar 2 jam. Acara mulai jam 9, jadi aku harus berangkat jam 7? Hmmm...ya dan akhirnya it only last for less than 3 months. Cuapek di jalan sist... Hehehe

Rumah Belajar Rawamangun.

Aku gak inget asal muasalnya dari mana. Pernah daftar apa, dimana, kapan, gak inget. Mungkin kalau dari awal aku tau ini turunan Turun Tangan, I won't come :p Waktu itu kebetulan lagi cek email lama dan salah satunya ada diemail yang isinya first meet up untuk Rumah Belajar dan di Rawamangun. "Wah deket nih", pikir ku, "Mari kita lihat berapa lama aku bisa komit, masa cuma gitu2 doang ikut volunteer.." Kira-kira itu yang ngebuat aku mau ikut jadi volunteer di Rumbelraw. I give challenge to my self.

Fakta lainnya adalah aku gak bisa ngajar atau lebih tepatnya aku gak bisa nyanyi2 depan kelas supaya satu kelas ikutan nyanyi bareng. Do not ever put me in the spotlight where I have to make others people do the same thing like I do. But, Hey! I can make someone to do that, standing in front of the class with confidence and singing like a bird! Hahaha let's meet that guy!

Dan mereka memanggil satu sama lain "Kakak"

Semua yang sukarelawan yang partisipasi di Rumah Belajar Rawamangun ini akan dipanggil "Kakak" untuk mengikuti panggilan dari adik-adik yang akan diajar. Hampir semua kegiatan yang basisnya mengajar sosial akan menggunakan kata panggilan "Kakak". Giordanonya kakak... 

Perasaan "yes! gw gak berasa tua" itu cuma berlangsung sekian minggu sampai akhirnya aku tau sebagian besar masih kuliah. Masih kuliah artinya 2-3 tahun lebih muda dari aku *straight face* dan bahkan ada yang baru lulus SMA *freezing*. Tanya sana sini, emang gak ada yang seangkatan? 1 orang pun gak ada? Ya Tuhaaan ini gw nyasar apa gimana yak. Mungkin temen-temen seangkatan uda gak ngurusin beginian lagi. Mungkin kayak gini udah lewat masanya. Mungkin harusnya seumuran aku sekarang yang diurus adalah suami sama anak sendiri *ngumpet dipojokan* *pura-pura kuat* *besok sebar undangan* *undangan sunat* :'D

Berjalannya minggu pun, makin tau satu per satu kakak-kakak di sini. Cuma tau, tapi gak kenal-kenal banget. Hehehe. Tangan aku rasanya gak nyampe untuk salaman satu per satu ke semuanya. Buat aku, kenal sama orang dan bisa jadi deket itu sangat menyenangkan. Walaupun usia mereka lebih muda, tapi banyak hal yang malah aku belajar dari mereka. Mereka ini memang masih kuliah, tapi mereka kerja buat ngebiayain kuliah mereka sendiri. Ada yang rela gak kuliah dulu karena cuma mau kuliah di PTN. Ada yang rela gak kuliah di PTN karena gak dapet beasiswa dan gak cukup dana untuk biaya sendiri. Ada yang jauh-jauh ke Semarang, kerja cari uang, supaya gak ngebebanin orang tua daripada di rumah gak ada kegiatan dan belum kuliah. Kerja keras dari Senin sampai Senin, yang kalau aku bayangin aja capek.

Selain dari kehidupan di luar Rumbelraw, yang bikin aku gak nyangka adalah rumah mereka gak tanggung-tanggung jauhnya. Ada yang dari Depok, bahkan dari Cikarang. Itu kira-kira 20 tahun kemudiaaan... Akhirnya ya paham kalau di setiap pertemuan hari ini yang dateng ABCD, minggu depan yang dateng BCDE, sampai akhirnya ada VXYZ

Dan gak bermaksud cinderella story sih, tapi kakak-kakak di sana ngebuka satu pintu di diri aku. Jadi mereflektif ngeliat diri sendiri, gak kebayang kan kalo aku yang harus gak kuliah dulu terus adek yang lenggang lenggong kuliah? Harus berlama-lama di jalan kalau mau menuju pusat kota. Pun gak harus ke pusat kota pun, gak bikin jadi mati kelaperan. The truth is, jalan hidup orang memang beda-beda. Satu masalah yang dihadapi oleh satu orang, gak lantas ngebuat masalah orang lain jadi terlihat gak penting atau sepele. Tapi ngebuat kita lebih pandai menghargai orang lain, pandai berempati. Jangan ngeliat diri sendiri mulu deh, liat orang lain, kalau kita ada di posisi mereka, bisa gak? Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

*****

Menciptakan perbedaan di kehidupan orang lain itu menurut ku sesuatu yang berat, karena sebenarnya kita gak pernah seutuhnya bertanggung jawab akan hidup orang lain. Dokter, pengacara, psikolog, bahkan pemuka agama sekalipun hanya memberikan pilihan. Pun menjadi volunteer mungkin manfaat yang kita lakukan hari ini baru akan terasa 10 tahun lagi, mungkin. Tapi kalau manfaat untuk diri sendiri, itu kita sendiri yang tentuin. Setuju kan kalau apapun yang kita lakukan harus ada manfaatnya, iya kan? Hehehehe *benerin mic* *jama'aaaahh..*

Sekarang aku formally keluar dari grup Rumah Belajar Rawamangun. Bukan karena sibuk, karena gak ada orang sesibuk itu selama dia masih bisa duduk2, ngobrol, ketawa-ketawa. Anyway, I somehow love this quote "We met as strangers, but we leave as friend".


Pada jaman dahulu kala.. Pada jaman Jahiliyah..

Here you are! The guy who get along so well with kids

Thank you! :D


Saturday, December 12, 2015

Saturday Night Advice

Today class in British Council is talking about someone who has a big influenced on us. Well, to that questions, Gabe asked me about the one who inspired me in doing voluntary work but I absolutely have no idea. I should admit that I literally forget how that came to me or even who brought that to me. You know when you forget about something, I'm sure that must be something less important to you today. Sorry to that :)) In fact, I deeply aware to whom I admire the most now. That is you who's able to fight your own insecurity within yourself, you who have a comfortable inner peace.

It's Saturday night now. I'm sitting at the most well-known coffee shop who build up the customers engagement to the brand by writing the customers' name on the side of the cup. From what I'm seeing I now, people are coming to this coffee shop particularly not to have long chit chat with friends, neither laughing out loud to spend the rest of the night. They're bringing their books in their hand with an earphone on. The others also are here with their laptop opened, not really sure what they're doing with their laptop, but seems fine although it is weekend. Recently, I also met two new friends who like to spend their weekend for movies all alone or do some me-time. Not to forget, there's also one person that I know closely who regularly recite The Qur'an every Saturday night, while some other may still thinking where should they hang out to.

What I'm trying to say here is there will be no day that you can run away from such peer pressure, but it all comes back to you, how you will response to it. This word from Nouman Ali Khan will always be in my mind :

No days that you will wake up, look in to the mirror, then feels like "Hey I'm a better person now". It will be on your daily basis to make a decision which path are you gonna take. And every day we will always face different choices. One's struggling may be different from others, but doesn't mean one's is easier than others'.


Just because I'm an introvert, I'm not saying that being around with friends is fully a mistake. But just do it if you really want to and not because you have to. To me, social acceptance is not that worth to be fight for, it should be given sincerely. You will be at the stage that what people say is worth less than how you describe your own self. Well, your whole life is more meaningful than one Saturday night. So for your own's shake, spend it wisely.


Have a nice Saturday night :)




*This post is written due to english written skills test.*

Monday, September 7, 2015

Cerita Adik-adik (Part 1)

..well, postingan ini mungkin yang aku tunggu untuk aku bikin. 

Belakangan ini semenjak aku mulai suka share picture di instagram bertemakan anak-anak dan tersynchronize juga ke facebook, teman-teman suka komentar seperti ini :

"Hen, itu acara apa? Dimana? Kayaknya asik"
"Lo ikut Indonesia Mengajar ya, Hen? Orang kayak lo emang mau ke pelosok-pelosok gitu?"

dan yang paling kocak ketika ada temen yang bilang

"Itu anak-anak asuh kamu ya? Kamu jadi ibu asuh?"

tanpa pikir sama sekali aku langsung jawab 

"Bukan ibu, tapi tante asuh. Belom bisa ngasih asi soalnya"

terus kita berdua ketawa, lebih tepatnya dia ngetawain jawaban ku, aku ngetawain diri sendiri"


Buat aku pribadi, kenal atau mungkin sebatas tau, anak-anak rumah belajar di daerah Rawamangun ini seperti membuka banyak pintu yang selama ini aku tidak pernah mau tau. Mungkin banyak diantara teman-teman yang waktu kecil dulu sama seperti aku, tidak diperbolehkan orang tua untuk bermain dengan teman sekitar tempat tinggal. Dulu pun aku nggak pernah ambil pusing, karena aku puas bisa bermain segala permainan di sekolah yang notabene sekolah favorite Jakarta, jadi sampai di lantai 3 gedung sekolah masih ada tempat bermain mirip dengan suasana pantai. Sesampainya di rumah pun, aku bisa bermain sendiri, atau dengan adik, dengan mainan-mainan yang tidak ada habisnya. Ini bukan maksudnya sombong lho. Begitu terus keseharian sampai usia Sekolah Dasar, mulai bisa bertanya sana-sini, dan a ku masih ingat rupanya saat itu pun aku tahu banyak teman sekolah yang tidak punya teman bermain di rumah karena dilarang juga oleh orang tua. So, pikir ku saat itu mungkin, I'm on the right track!

Tapi sampai saat ini aku juga nggak pernah menyalahkan anjuran orang tua dulu atau alih-alih menganggap bahwa tetangga aku itu berada di jalur yang salah. Melalui Rumah Belajar Rawamangun inilah pintu yang tadinya tertutup, pelan-pelan terbuka (eeaaaaaaa....~)

Sebenarnya sebelum Rumah Belajar Rawamangun ini aku juga sempat aktif di Taman Baca Rumah Perubahan atau kegiatan sosial edukasi lain. Akan tetapi, truth to be told, kondisinya jauh berbeda dengan di Rawamangun. Tugas pertama yang aku harus jalani begitu ambil bagian di Rumah Belajar Rawamangun ini adalah menahan reaksi atau ekspresi spontan kalau ada hal-hal yang tidak biasa ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan ternyata banyak :|| banget :||||. Di psikologi ada istilahnya yaitu epokhe *), jadi jujur saja, hari pertama ke sana, keliling ke rumah warga, aku terus mengulang-ngulang kata epokhe di kepala aku, aku nggak mau warga setempat jadi tersinggung atau resisten terhadap orang baru yang dianggap tidak punya sopan santun. 

Di sini lah aku benaran melihat dari dekat bahkan masuk ke rumah yang kondisinya menurut aku tidak sehat huni, tidak ada jendela keluar, pengap, gelap dan kotor. Satu rumah masih dihuni oleh 3-4 kepala keluarga. Rasanya nggak habis pikir, "Kok bisa?". Ya faktanya seperti itu. Akan jadi panjang kalau ditelaah jawaban "Kok bisa?" ini. Kembali lagi, titik yang coba disentuh yaitu pendidikan anak.
Gampangnya "Itu anak gimana mau belajar kalau gitu lingkungannya? Mau belajar, belajar apa?".

Jangan sekali-kali bayangin anak-anak ini mirip seperti Daehan, Minguk, Manse di drama series Korea yang wangi, bersih, dan lucu-lucu. Salah satu warga di sana pernah ada yang cerita, "Mereka bisa datang ke kalian, bilang mau belajar, tapi belom mandi, masih bau apek. Tangannya mungkin kotor-kotor karena habis mainan di tanah atau pasir. Mungkin datang-datang ngerengek sambil nyedot ingus di depan kalian, garuk-garuk kepala terus ternyata kalian liat sepintas rambutnya memang kutuan. Saya bukan nakut-nakutin, tapi ya itu sangat mungkin terjadi dan kalian ya harus siap, masa mau jijikan?"

Aku cerita di sini juga bukan berarti menjelek-jelekan anak-anak Rawamangun, tapi itu fakta yang sebenarnya kita juga sering lihat bukan cuma di Rawamangun. Di perempatan lampu merah, pernah lihat boneka joget-joget gak jelas kan? Ya itu juga anak-anak. Anak jalanan, anak terminal, anaknya artis, anaknya presiden atau anak manapun bahkan anak dengan kebutuhan khusus alias ABK konteks tetap anak. Jadi harus diperlakukan sama selayaknya anak-anak.

Di luar konteks Rumah Belajar Rawamangun, aku juga ingat perkataan salah seorang dari Indonesia Mengajar, "Salah satu indikator seorang individu dikatakan dewasa adalah ketika individu tersebut bisa melakukan fungsi reflektif. Artinya dia mampu menemukan makna positif dari kegiatan apapun yang dia lakukan atau kejadian apapun yang menimpanya." 

Jadi apa reflektif yang kamu rasakan setelah 3 bulan di bermain di Rumah Belajar Rawamangun? 

Bagi aku pribadi yang dari awalnya merasa was-was untuk bisa masuk ke sana, merasa perlu menchallenge diri sendiri untuk bisa fokus dan komitmen, sangat berkesan melihat semangat anak-anak yang selalu penuh. Berapa kali dari kita ini pernah mengeluh "Duh jadi anak-anak lagi enak kali ya...". Malu, kalau kalah semangatnya dibanding mereka. Mereka jam 9 pagi bisa sudah siap untuk belajar. Pertanyaannya siapa yang mau bantu mereka belajar jam 9 pagi diakhir pekan ketika pilihannya dibandingkan dengan santai nonton TV di rumah?

Lagi-lagi omongan orang lain aku kutip, temen dari Indonesia Mengajar yang aku gak ingetnya namanya bilang gini, "Lo rasain deh ngumpul bareng orang-orang yang hobby travelling sama orang-orang yang suka sosial volunteer itu frekuensinya beda. Beda banget"

So guys it's your call :)


*) Epokhe describes the theoretical moment where all judgments about the existence of the external world, and consequently all action in the world, are suspended.

Sunday, January 4, 2015

Curhatan kacung HRD

Sehari-hari dengan rutinitas yang sama, selama kurun waktu yang panjang...ada di bosan tingkat berapa ya kira-kira nanti? Terus apa yang bisa dilakuin supaya kerja gak terasa membosankan? Punya temen yang seru? Punya atasan yang support? Gaji yang besar?
Mengakhiri hari dengan keluhan akan pekerjaan dan laporan-laporan yang menunggu. Begitu juga hari minggu yang ditutup dengan keluhan-keluhan akan hari Senin sudah di depan mata. Ahh.. rasanya sayang sekali kalau hidup hanya diisi oleh hal-hal seperti itu..

Memasuki satu tahun lebih sebagai kacung korporat swasta, pikiran-pikiran seperti itu masih lalu lalang ke otak. Membuat saya mulai berpikir akan alternatif rencana hidup yang lainnya. Eh bukan, bukan mulai, malah sebenarnya selalu berpikir selanjutnya mau jadi apa, mau begini terus?

Jujur saja, saya tipikal orang yang mudah bosan dengan rutinitas dan cendurung suka kebebasan. Segala sesuatu yang mulai membentuk menjadi rutinitas dan isinya itu-itu saja, ujung-ujungnya hmmm bosaaaan. Sayangnya hal itu tidak bisa dihindari ketika setelah lulus kuliah memutuskan bekerja. Apalagi dengan background psikologi, ranah pekerjaan yang ditekuni sudah jelas di ranah ke-HRD-an. Kalau begitu kenapa memilih bekerja diantara pilihan yang ada lainnya, seperti melanjutkan sekolah atau wirausaha?

Keputusan untuk bekerja itu mulai dipikirkan memasuki masa-masa akhir kuliah. Sebenarnya saya hanya ingin jadi survivor atau volunteer untuk orang-orang yang kurang mampu, orang-orang keterbelakangan mental, bahkan orang-orang yang menjadi korban bencana misalnya. Entah pikiran dari mana, mungkin karena selama kuliah aktif di departemen Pengabdian Masyarakat, atau karena bencana Gunung Merapi dan abu vulkanik. Yang jelas setelah sempat share dengan orang tua, yang ada malah nangis sejadinya karena ditentang.

Pelan-pelan, mulai realistis karena kondisi keuangan keluarga, dan sepertinya tidak punya informasi yang cukup kalaupun ingin menekuni psikologi klinis, akhirnya baiklah harus bekerja! Niat saya cuma satu saat itu, harus sudah bekerja pada saat wisuda. Sama sekali tidak spesifik bekerja dimana yang penting tidak datang wisuda dengan status pengangguran.

Dari pengalaman kerja pertama ini, sekalipun hanya temporer, di perusahaan yang tidak punya nama sama sekali, mata saya mulai terbuka. Di samping pernyataan yang orang-orang selalu bilang, dunia pekerjaan jauh berbeda dengan perkuliahan yang penuh teori dan memang nyatanya begitu, tapi pengalaman bekerja di perusahaan yang merintis dari 0 punya sensasi yang berbeda dibanding cerita teman-teman yang bekerja di tempat yang sudah jadi.

Belajar untuk punya aturan sendiri, itu harus. Walaupun secara SOP belum jadi aturan baku, tapi orang harus punya aturan, punya etika, punya prinsip. Istilah yang boleh dipinjem dari atasan saya waktu itu adalah value. Jadi jangan mau pekerjaan diselak, diribetin sama orang lain yang sebenernya gak punya kepentingan.

Nemuin orang-orang yang "gak bener" bukan cuma 1-2 tapi banyak, ditambah lagi orang yang cari muka. Di sini saya baru ngerasain apa pentingnya peran leader. Leader bagi saya saat itu bukan cuma direct mandatory, tapi juga seorang yang bisa saling percaya, bisa saling mengandalkan, bisa saling bantu. Sebagai penghuni level terbawah dari struktur, atasan juga sebagai bumper. Semua itu bukan dari saya yang buat pengertian sendiri, tapi sekali lagi dari atasan saya sendiri, dan saya mengamininya sampai sekarang. "Setiap kesalahan yang terjadi, atasan itu harus jadi bumper, jadi saya yang kena pertama kali, bukan kamu. Kenapa? Karena setiap kesalahan bawahan, disitu peran atasan dipertanyakan?". Kalimat itu masih nempel di kepala bahkan cara atasan saya ngejelasin peran leader sambil kayak orang ketabrak mobil pun masih jelas.

Kalimat lain yang juga saya pegang teguh adalah "Kerja itu cari value, gaji pasti akan menyesuaikan. Buat apa kamu kuliah tinggi-tinggi tapi pada saat kerja gak ada ilmu yang kamu dapatkan, gak bikin kamu tambah pintar. Pintar itu dalam hal apapun.."

Nah berangkat dari situ, setiap detail pekerjaan yang harus saya lakukan berulang dan ternyata tidak ada follow up hasilnya, akan muncul di otak, "Terus buat apa gw kerjain capek-capek?". Solusinya coba tanya atasan sendiri yang memberikan pekerjaan kalau menemukan situasi begitu. Sebaiknya juga, apapun yang saya lakukan harus ada argumennya. Argumennya biasanya atasan paling suka kalau dalam bentuk angka, ratio, persentase, bukan "biasanya, beberapa,"

Waktu berjalan pun, saya menemukan perusahaan sebesar apapun pasti ada minusnya. Perusahaan besar kalau pada akhirnya direct leader tidak memberikan apa-apa, pasti gerah juga. Gerah banget. Walaupun saya juga belajar, ada waktunya, ketiadaan direct leader atau supervisi artinya tingginya trust top leader pada satu posisi. They want you to grow bigger even faster than others. Dan itu mahal rasanya.

Saya yang pernah mengalami kedua posisi tersebut, tanpa adanya direct supervisi dan full team lengkap. Yang pertama, biasa langsung diskusi dengan level General Manager bahkan Director, ada perasaan dihargai dan dibutuhkan, ada tantangan bahwa untuk memenuhi ekspektasi dari beliau-beliau itu. Paling tidak enak, ya tidak ada diskusi di level yang sama, kalau salah harus siap babak belur dan seketika jadi anak bawang (that's why your self-value is important!). Yang kedua, saya kemudian untuk pertama kalinya punya team kerja, ada buddy, supervisor, baru manager. Yang kedua ini tantangannya adalah catch up dengan buddy team, dan full time supervisi yang lumayan ganggu juga buat saya pribadi, bayangkan kerja diawasi selama 8 jam! Ya istilah orang Jawa, sawang sinawang, selalu ada yang terlihat lebih enak.

Ini sedikit bocoran tentang hidup 8 jam sebagai HRD :
Ada saatnya dianggap departemen yang kerjanya ngapain sih, tapi begitu ada masalah dengan karyawan HRD harus pasang badan. Walaupun beberapa perusahaan payroll / gaji dipegang oleh finance biasanya HRD yang bakal ditunjuk kalau ada case terkait gaji. Jadi HRD adalah departemen yang harus paling tau segala sesuatu soal perusahaan.
HRD itu sebenarnya ada bagian-bagiannya lagi, tapi gak semua orang tau dan mau tau. Jadi selain "dihujat" oleh masalah karyawan, semua orang HRD akan terima pertanyaan orang dari luar soal ada lowongan apa. Email banyak isinya lamaran-lamaran. Mending kalau cuma tanya lowongan, ujung-ujungnya tanya gajinya berapa. Wajar kalau pengalama, kalau fresh graduate??

Kerja di perusahaan swasta selalu punya cerita, tahu proses end to end bisnis perusahaan, dari raw process sampai smooth reporting. Jauuuuuh berbeda ketika kamu kerja di konsultan yang terima bersih. Banyak yang gak survive perubahan dua dunia ini.


Masuklah perusahaan swasta, paham jatuh bangunnya untuk sukses, tapi punya prinsip dan gaji seorang BUMN, why not? :D





Tuesday, September 2, 2014

Perjalanan menuju akhir

Sebenernya makin ke sini makin mikir dan sadar apa sih yang dimauin dalam hidup.
Mungkin pemikiran ini muncul karena menyimpulkan sendiri kalau apa yang dijalanin bukan "jalan"nya
Terus kenapa dari awal pilih jalan ini?
Pilihan-pilihan yang sudah dijalanin ini cuma jadi semacam trial and error

Suatu saat Pak Helmy pernah bilang, "Ya itulah yang terjadi pada fresh graduate, mereka pasti masih mencari jati dirinya, termasuk untuk urusan pekerjaan"

Jauh sebelum itu, Ibu Dian juga pernah bilang, "Kita itu perempuan, memang kamu mau kerja sampe jadi apa nanti? Jadi direktur? Nggak juga kan"

(Kalau boleh intermezzo sedikit, 2 orang itu adalah yang sudah punya posisi tinggi yang gw kenal tapi paling tidak menggurui)

Aku dulu pernah bilang ke Ibu, kalau aku gak mau mengejar karir seperti orang pada umumnya, mengejar gaji atau uang. Waktu itu aku bilang aku mau jadi volunteer, sukarelawan. Dan yang selanjutnya aku inget adalah aku nangis di kamar mandi Plaza Semanggi karena entah apa yang waktu itu diucapin Ibu sama Bapak.

Beberapa kali aku iri dengan orang-orang yang bisa melepaskan apa yang mereka gak suka dengan mudah untuk kemudian mendapatkan apa yang mereka benar-benar suka. Mungkin dalam hal ini, aku selalu aware dengan hal apa yang sebenarnya aku gak suka sejak dari awal, tapi aku tipikal yang akan mencoba lebih dulu sejauh apa aku bisa. Yap that's trial and error thing.

Lalu baru-baru ini aku ketemu dengan oknum D. Damn smart! Dia mungkin bisa atau pun memang sudah mendapatkan apa yang rata-rata lulusan baru inginkan, ODP di BUMN. Toh pada kenyataannya posisi itu pun dia lepas, karena menganggap tidak sesuai dengan harapannya jangka panjang. Dia bilang begini, "Sekarang kerja ya cuma buat nambel kantong aja, tujuan gw kan tetep mau S2 itu. Pendidikan nomer 1 lah..."

Kembali ke pertanyaan pertama, trial and error apa selanjutnya?

Biar aku coba jawab dengan lebih jelas dengan rank probabilitas terjadinya error paling kecil

  1. Freelance itu digunakan untuk mendefinisikan pekerjaan membuat suatu karya tulisan, gambar, brand campaign sesuai kebutuhan klien (cmiiw)
  2. Travel blogger, siapa yang tidak mau travelling dan dibayar. Jalan-jalan ke daerah baru, wisata kuliner, pergi ke tempat bersejarah, berbaur dengan warga lokal, kemudian berbagi di blog.
  3. Guru di daerah pedalaman atau terapis di daerah bencana. 
Itu cuma jawaban paling jujur dari apa yang aku mauin.
So, basically...

I just wanna be free and relax
I love dealing with people in deep and long relationship
Inspire one to another in so many beautiful ways
I love seeing new things, curious about things and places

Entah gimana caranya pasti ada jalan untuk mengakhiri trial and error dari diri aku sendiri
Dan jalan yang tepat harus dimulai dari sekarang bukan cuma diucapkan dari hari ke hari.

Selamat mengakhiri perjalanan! :D


Sunday, May 25, 2014

Hari ini, hari itu, hari yang biasa saja

Hari itu hari yang biasa, telponin orang ke luar kota untuk phone interview.
Aku lupa itu persisnya aku lagi telpon ke siapa dan dimana.
Tapi satu cuplikan ini bikin aku gak akan lupa buat seterusnya...

Saya resign dari pekerjaan yang sebelumnya karena istri saya dipindahkan tugasnya ke kota X.
Saya berpikir bahwa pada usia seperti saya, laki-laki masih jauh lebih mudah mendapatkan kerja dibanding perempuan. Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk mengalah dan ikut pindah bersama istri saya ke kota ini. Sekarang sudah beberapa bulan saya disini, saya belum dapat pekerjaan. Istri saya masih bekerja di kantornya.

Aku sendiri gak ngerti kebetulan macam apa yang coba Allah kasih ke aku. 
Tapi laki-laki itu besar hati sekali, itu yang terlintas dipikiran ku saat aku masih mendengarnya di telepon.

***
Hari ini pun hari yang biasa, arisan keluarga di resto di mall daerah Sudirman
Sepulang dari sana, tante aku minta tolong untuk dibayarkan billnya di sebuah resto di mall daerah Senayan
Tante aku benar-benar lupa membayar bill makanannya, mungkin karena sanking paniknya ketika anak satu-satunya tiba-tiba terserang struk ringan di saat akan menyuap sendok pertamanya 
Pendek cerita, anak tante aku, atau sepupu ku segera dibawa ke rumah sakit dibantu oleh pihak management mall, meninggalkan mobilnya yang hingga seminggu masih terparkir di dalam mall
Intinya bill makanan yang sama sekali belum sempatnya dimakan harus dibayar

Lalu aku kesana, bertiga dengan ibu dan bapak
Mencari restoran di maksud dan ternyata restoran tersebut bisa dikategorikan high class
Begitu kami bertemu dengan duty manager, ia menjelaskan seperti ini..

Bill yang menjadi tagihan dari Ibu X sudah ada yang membayar pada saat itu juga
Jadi saat itu situasi disini memang jadi sedikit ramai, beberapa crew kami juga panik dan berusaha membantu Ibu. Dan rupanya di antara tamu kami, tepatnya ada tiga orang, yang setelah Ibu X membawa anaknya ke RS, mereka menawarkan diri untuk membayar tagihan dari Ibu X. Dari tiga orang tersebut ada satu yang paling memaksakan diri supaya ia yang membayar saja.
Kami hanya sempat merecord namanya dari kartu kreditnya. Bapak Y. Akan tetapi begitu kami minta data lengkapnya, ybs keberatan. Beliau ikhlas membantu Ibu X.

Berapa total tagihannya? 

Rp. 4xxxxx ,-


Ya Allah... Aku bisa berkata apa. Sampai aku menuliskan ini pun, rasanya aku masih ingin menangis haru. 
Ya Allah, ciptaan mu sungguh baik sekali. Bahwa semua orang pada dasarnya baik, aku masih percaya. 
Dan Bapak Y itu salah satu bukti kebesaranMu. 

Kalau sekarang aku bertanya begini, seandainya kamu, berada di situasi seperti Bapak Y, masih mau kah kamu melakukan yang seperti Bapak Y itu lakukan?

Kamu, iya kamu...

***

Mungkin setiap hari akan jadi hari yang biasa saja
Tapi yang kamu, dan kita, tidak pernah sadari bahwa setiap detiknya adalah sebuah peta besar yang saling berkaitan. Seperti yang Tere Liye bilang bahwa hidup manusia adalah sebuah sebab-akibat.

Thursday, April 17, 2014

Mencari dan menemukan

"Mungkin aku baru sadar, atau entah bagaimana, bahwa aku adalah orang yang harus tau apa alasan atau tujuan ataupun manfaat dari setiap yang aku lakukan. Aku tidak suka merasa bodoh dan tidak bisa berbuat apa-apa yang bermanfaaat. Atau bahkan yang aku lakukaan ternyata tidak bermanfaat.

Manfaat yang aku maksud bisa jadi untuk ku sendiri atau untuk orang lain, tergantung kondisi yang ada di depan ku. Sebut saja, dalam situasi kerja, aku mau apa yang aku kerjakan punya manfaat jelas buat aku, bukan hanya buat institusi yang membayarku. Karena aku bekerja, bukan berkegiatan sosial untuk perusahaan. Lain halnya dalam segala hal yang terkait sosial, aku suka melakukannya tanpa perlu memikirikan apa yang sudah atau akan aku keluarkan dan juga aku dapatkan, karena tujuannya untuk orang di luar diriku.

Mungkin aku bisa merasa sangat tidak nyaman, menyadari bahwa waktu ku berlalu begitu saja dan tidak ada hal yang berguna sedikit pun. Jadi aku suka mencari alasan dibalik hal yang aku lakukan. Alasan-alasan sederhana apapun hingga aku menemukan dan menyadari bahwa aku melakukannya dari hati sehingga alasan-alasan itu menjadi tidak penting lagi.

Kadang aku harus menunggu sebentar
Sambil tetap bergerak
Kadang aku harus pergi karena terlalu lama menunggu 
Dengan tetap bergerak"



Hari ini aku sangat kesal karena aku harus meluangkan lebih banyak waktu untuk datang ke suatu tempat dimana aku merasa di sana tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku tau aku sudah berusaha menghindarinya dari awal. Lebih jujurnya, aku pun sadar bagaimana orang-orang di sana mulai terganggu. 

Mungkin aku yang memang masih belum mengerti apa yang orang-orang cari dan dapatkan di sana. Mungkin itu sebuah rumah bagi mereka. Aku masih tidak tahu, dan entah bagaimana aku ingin dan perlu tau.





Jakarta, tempat bagi mereka yang mencari dan menemukan

Sunday, March 16, 2014

3 DAYS

....It's been a long pause from watching movies in my weekend routine. Until that day my friend ask me to go for movies and have dinner together. I'm not really into movie update lately. So he decide...

3 Days to Kill

This movie is about a man who worked for CIA, but he also a husband of a working wife and a father of a daughter. Because of a rare disease, he decided to leave his jobs and come back to his private life. He moves to Paris to visit his daughter, fix everything after he left his family 5 years ago. Until one day, an agent named Vivi come to him, offer him an experimental medicine to cure his cancer, at least to extend his life that was only 3 days left. In return he has to kill some bad guy in city.

Actually, I'm not really pay attention to his killing and shooting scenes. I don't know what kind of bad guy he has to kill either. But I remember the words Vivi said, "Because you're dying. So you're not afraid of everything". A kind of make sense, right?

The other thing is his principle that he won't kill someone if he's not a 100% sure whether that one has nothing left to explain and been confirmed as a suspect. I really think this one as a reminder that we have to know the purpose and the consequence of whatever we choose, whatever we do. No excuses.

To be honest the most thing that caught my eye from this movies is the father-daughter relationship. How does the father fight to get his daughter attention, try to get closer to her day by day. Zoey, his daughter named, said that she didn't have a father to teach her riding bike. Ha! That scene was really hit me so hard. When I was in elementary school, I still remember my mom said that my father won't be available to teach me how to swim, how to ride a bike, and probably won't be able to teach me anything like that, so I have to learn by my self.

When Zoey dance with his father, I don't think that's gonna happen to me. Never ever. But that's sweet. Laughing together in dining room without hiding lies and anger is a nice dream. But well, that's life.

That's all I remember from this movie.

3 days or more can be hard and long enough to spend with someone that really feels like stranger to you. Include family. Changes comes unpredictable, so adaptation takes forever.



#nowplaying
Avicii - Wake Me Up



Saturday, December 14, 2013

Saya selalu rindu

Saya suka sekali memperhatikan orang lama-lama. Menangkap setiap gerakannya juga ekspresi wajahnya, bahkan sampai orang tersebut sadar sedang ada yang memperhatikannya. Teman saya sering mengingatkan saya kalau cara saya menatap memang terlalu dalam. Tetapi teman saya yang lain ternyata punya kebiasaan yang sama, jadi saya tidak perlu khawatir.

Saya rasa memperhatikan orang lain itu asik. Dalam situasi yang apa adanya, kita bisa melihat bagaimana orang memberikan respon spontan. Kadang orang tidak terlalu perhatian padahal perilaku kecil itu cukup bisa menunjukkan sikap yang sebenarnya dari individu tanpa dibuat-buat. Misalnya dalam keadaan diburu-buru, akan terlihat siapa yang langsung panik, siapa yang mampu meredakan situasi. Wajah orang yang juga sedang bengong pun kemudian tiba-tiba tersenyum begitu melihat layar hpnya saja bisa terlihat menarik.

Beberapa orang memang tidak pandai menutupi kondisi dirinya sehingga semuanya tercermin langsung di wajahnya. Wajah, tatapan mata yang kosong adalah yang saya yakini bahwa itu lebih jujur dibanding mulut yang banyak bicara tapi melantur. Kalau sudah begitu, biasanya diikuti gerakan-gerakan khas seperti mengusap-usap kepala, tertawa terlalu sering padahal tidak ada yang begitu lucu. Agaknya aneh, kalau beberapa orang lebih mudah mengenali kondisi orang lain, dibanding kondisi diri sendiri. Agaknya untuk yang satu itu saya juga termasuk.

HAHAHA.

Bukan, bukan tidak mengenali, tetapi barangkali tidak mengakuinya atau membiarkannya berlarut-larut. Saya selalu ingat kalimat ini "Diri sendiri kadang adalah teman terbaik tetapi juga musuh terberat".

Berteman dengan diri sendiri saja bisa terlihat menakutkan. Sudah banyak yang bilang, bahwa menulis adalah salah satu cara berdamai dengan diri sendiri, mempersilakan ideal diri kita bercengkrama dengan diri kita yang sejatinya, bertukar pikiran, hingga akhirnya bisa menemukan solusi. Yang lainnya juga bilang, menggambar. Gambar apapun yang mungkin proyeksi dari apa yang sedang kita rasakan atau pikirkan.

Saya sendiri selalu punya buku harian. Benar-benar punya, tapi buku yang terakhir saya beli di awal tahun hingga sekarang akhir tahun belum pernah saya isi. Entah di halaman ke berapa saya sempat menuliskan satu kata "Hai :)" lalu yang saya ingat selanjutnya saya tidak sanggup menahan kantuk dan tertidur hingga pagi.

Tetapi saya punya pengganti aktivitas menulis di buku harian sebagai alternatif kencan dengan diri sendiri yaitu berbicara sendiri di kamar mandi. Benar juga kata dosen saya, kalau diri paling jujur itu ada di kamar mandi.

Susah sekali nampaknya jadi orang dewasa. Apa diri sendiri ini sebegitu mengerikannya ya, hingga untuk mengajaknya duduk santai saja repotnya setengah mati. Hingga beberapa perlu orang lain yang mendudukannya. Tapi ini lebih repot lagi, menyandarkan diri sendiri pada kehadiran orang lain.

For me, I'm still scare to death about this kind of things. Although deep inside, I know having a deep talking with partner is one of the source of happiness. 

Ya semoga suatu hari nanti siapapun kembali tersadar, apapun yang ingin dilakukan untuk menemukan true happiness with self pasti juga perlu diusahakan, bukan cuma direncanakan, dan perlu ada yang dirisikokan.

Mungkin saking senangnya bisa bertemu dengan that one partner, perasaan senangnya sudah langsung berlumeran keluar, jadi masalah-masalah yang ingin diceritakan jadi tidak berarti. Atau saking banyaknya syarat untuk bisa cerita, moment itu jadi belum juga ketemu. Hihihi...



Jakarta, malam minggu ditemani lagu-lagu cinta dan secangkir coklat panas
Saya selalu rindu berlama-lama dengan kamu, lalu kamu memutarkan lagu-lagu cinta <3

Tuesday, November 5, 2013

November : Bulan Ketiga

Selamat memasuki bulan November!

Bulan November merupakan pertanda sudah memasuki bulan ketiga saya bekerja di sini. Sudah 3 bulan setiap hari berangkat jam 06.15 hingga sampai di rumah lagi sekitar jam 20.30. Perjalanan selama 2 jam bisa ditempuh menggunakan bus transjakarta dengan biaya hanya 2000 rute manapun, tetapi hanya 30 menit menggunakan taksi dengan biaya nyaris 40ribu. Di kota yang katanya keras ini (padahal belum ada juga kota dimanapun yang aspalnya seperti tahu), memang punya seleksi alam sendiri untuk memfilter penduduknya.

Di sini, sekarang, semua bermula dari mimpi-mimpi kecil (atau ketika masih kecil); saya ingat saya pernah berucap ingin bertempat tinggal di Permata Hijau, juga ingin bekerja di mall karena menurut saya pada saat itu pasti menyenangkan sekali bisa sekalian jalan-jalan di mall setiap hari, dan terakhir saya ingin sudah bekerja ketika hari wisuda. Iya, ini jawaban Tuhan untuk saya sekarang.

Lalu apa yang saya rasakan setelah 3 bulan?

Saya tidak pernah menyangka hari Senin itu adalah hari pertama saya bekerja. Saya diminta datang lalu langsung ikut dengan karyawan yang lainnya dalam agenda rutin yang dinamakan Core Value. Tanpa tahu apa maksudnya, saya (dan semua karyawan lainnya) mengikuti instruksi untuk meletakkan tangan kanan di dada kiri dan membaca visi misi perusahaan. Benar-benar tidak tahu itu apa maksudnya...

Hari pertama, hari kedua, hari awal-awal bekerja masih canggung, masih banyak salah, masih suka lupa taruh barang dimana, masih belum punya meja kerja. Hari ketiga, keempat, tepar sama perjalanan pulang, mulai bosan kalau tiap hari bawa bekal makan siang.

Minggu kelima keenam, akhirnya punya tebengan kalau pulang, meskipun kakunya setengah mati tapi punya teman ketawa-ketawa dikala lapar dan macet sampai hampir mati. Juga dikenalkan banyak alat tes baru, sering diskusi soal dunia HR, lumayan tambah ilmu. Ruang meeting berubah jadi ruang kerja, merangkap panggung srimulat orang-orang stress. Ini bulan ketiga dimana akhir pekan lembur ke luar kota. *)

Tapi ketika semua harapan itu ada, alasan itu nyata, semuanya berbalik arah..

Catatan di bawah ini bukan merupakan panduan atau curhatan karena beberapa di antara saya tidak menyarankan untuk diikuti juga tidak saya alami sendiri. Catatan ini bukan hanya didapat di lingkungan profesional kerja, tetapi bisa juga di sepanjang kehidupan..

Kita pasti tahu dimana hati kita berada, berarti kita tahu jikalau ia bukan berada di tempat yang tepat. Kadang memang bukan tempatnya yang salah, mungkin kita yang tidak mau memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang lain. Sudah semestinya hati dan otak bekerja sinergis kan? 

Pilihan, pilihan, dan pilihan. Pilihan untuk tetap tinggal atau pergi. Ya semudah itu. Ketika kamu pikir kamu menemukan alasan untuk tinggal, sesederhana apapun, entah seseorang yang membuat mu bertambah pintar, kebiasaan kecil yang mengundang tawa, perjalanan yang menyenangkan atau hiasan cantik yang menenangkan dan hal-hal lainnya, berbahagialah kamu. Langkah mu menjadi sedikit lebih ringan.

Ketika kamu pikir, tidak ada yang bisa kamu usahakan. Kamu juga harus tetap ingat setiap keputusan yang kamu ambil, setiap kenyamanan yang ingin kamu perjuangkan untuk hatimu sendiri, di sisi lain ada orang lain yang menangis menanggung risikonya. Jangan abaikan orang-orang itu. 

Ingatlah apapun itu adalah pilihanmu sendiri, alasan yang kamu temukan sendiri. Memberi tahu orang tentang alasan-alasan mu tidak lantas membuat  orang lain itu jadi punya tanggung jawab untuk ikut membantumu bertahan. Jangan-jangan mereka juga punya alasan untuk membiarkan mu pergi.

Sudah tentu setiap orang mempunyai pemikirannya sendiri, pandangannya sendiri, termasuk perasaannya sendiri mengenai berbagai hal. Kalau kamu pikir kamu sudah tau banyak tentang mereka, nyatanya tidak. Ada hal-hal yang menjadi rahasia pribadi, atau bukan rahasia tapi tidak dibicarakan. Nikmati saja setiap cerita yang kamu dengar, ketika mereka ada. Setiap sikap yang sengaja atau tidak kamu tangkap, ketika mereka dekat.

....


Ah sudahlah, umur masih muda, jalan hidup masih panjang, always remember to stay wildly dreaming!



Wednesday, August 14, 2013

Yang tersirat dari Switched at Birth dan yang lainnya..

Hari minggu yang biasa, menonton acara di TV juga suatu kebiasaan. Serial TV berjudul Switched at Birth.
Namanya Bay Kennish, seorang perempuan normal yang bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di sekolah khusus tuna rungu. Saudara perempuannya, Dapne Vasquez adalah seorang tuna rungu, jadi (mungkin) Bay ingin lebih memahami kehidupan dalam dunia yang semua menggunakan bahasa isyarat. Selama kuliah Bay, bukan pembuat onar, tidak merendahkan teman-temannya, dan sebagainya, dia cuma kesulitan menangkap penjelasan materi belajar, juga bersosialisasi dengan teman-temannya yang sangat cepat 'berbicara'. Diceritakan ada satu orang yang menunjukkan ketidaksukaannya pada Bay, sampai akhirnya orang itu 'ngomong': Di setiap tempat di dunia ini, kami yang harus menyesuaikan diri dengan cara kalian hidup. Setiap tempat seolah-olah adalah milik kalian. Apa tidak ada satu tempat pun dimana tempat itu adalah milik kami, diciptakan memang untuk kami? Kamu tidak seharusnya ada di sini! Bay cuma diam.
Lain ceritanya dengan Dapne...
Dapne, awalnya besar di lingkungan sub-urban, warganya hidup serba kekurangan. Di keluarga barunya sekarang yang jauh lebih berkecukupan, Dapne bermaksud membantu warga di tempat tinggalnya yang lama dengan berjualan taco. Taco dijual dengan harga $3. Menurut ayahnya harga itu terlalu murah, bahkan tidak cukup untuk membeli bahan-bahannya. Harga per taco jadi $6. Siang hari, Dapne menawarkan taco-nya ke teman bermainnya dulu yang bekerja di tempat pencucian mobil. Sayang, temannya menolak karena menurutnya harga $6 terlalu mahal untuk seporsi taco untuk makan siang bagi pekerja seperti dia. Dia pun tetap menolak waktu Dapne menawarkan dengan cuma-cuma. Akhirnya harga taco turun lagi, "pay as you can". Pembeli langsung ramai. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang datang meminta supaya taco car Dapne pindah dari wilayah itu, katanya: "Kamu, orang yang baru datang ke sini beberapa jam lalu, apa kamu pikir sudah menolong orang-orang di wilayah ini dengan berjualan taco dengan harga yang sangat murah itu? Kamu tahu, paman ku sudah puluhan tahun hidup di sini, mengandalkan hidup setiap hari dari berjualan makanan sederhananya sama dengan penjaja makanan lainnya, dan hari ini tidak ada satu pun pengunjung yang datang karena semua warga membeli taco murahmu. Siapa yang ingin kamu tolong di sini?
 Hal lain yang saya temui masih dari hari Minggu yang sama..
Sekelompok bapak dan ibu bermaksud mengadakan acara amal di rumah sakit, khususnya di bagian anak. Mereka akan membagikan ta'jil, makanan, pampers, juga alat tulis untuk pasien anak-anak. Akan tetapi pemberian tidak hanya berbentuk fisik, mereka juga ingin memberikan hiburan sulap untuk anak-anak bertempat di sebuah ruang terbuka di lantai 1 bagian rawat inap anak di sana. Sebagian ibu-ibu ternyata masih sibuk memasukkan kue-kue ke dalam plastik, sebagian yang lainnya menyusun yang akan dibagikan ke anak dan persiapan atraksi sulap. Semua ribut. "Ibu, kata humas rumah sakit, beresin makanannya jangan di sini, nanti ruangannya kotor". "Ibu, anak-anak yang boleh keluar kamar hanya segini, dikasih waktu 30 menit, gak enak sama pasien lain yang ada di kamar sama di lantai atas, takut ganggu". "Ibu, di sini tidak boleh makan. Di luar saja". Selesai acara, seorang ibu bergumam, "Ya begini ini nasib jadi relawan, diusir-usir". Perawat rumah sakit hanya diam tersenyum. 
Hari Minggu itu satu jendela terbuka. Menolong orang, sebaik apapun niat kita, kalau caranya salah, apa yang dimaksud tidak akan tersampaikan. Padahal, menolong orang itu tujuannya ada di diri orang lain. Apa yang menurut kita orang lain itu butuhkan sangat mungkin berbeda jauh dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Jadi, cari informasi yang benar, kreatif mencari solusi, singkatnya menolonglah dengan niat yang tulus dan cara yang benar.



Happy helping people! ^^

Thursday, July 4, 2013

When we become one in Thisable Festival

Minggu, 30 Juni 2013

Pagi 09.00 sepanjang jalan Sudirman masih lenggang dari lalu lalang kendaraan. Pada jam-jam car free day seperti ini, jalan-jalan protokol memang ditutup bagi pengendara kendaraan bermotor. Keluarga-keluarga bersepeda dibawah panas matahari pagi, sekelompok muda-mudi duduk santai di trotoar jalan bersenda gurau mendinginkan keringat, bahkan pekerja-pekerja ekspatriat juga turut menikmati moment car free day ini.

Jalanan yang ramah, angin yang bertiup riuh rendah, terpecah oleh keramaian dari sebuah pusat berbelanjaan tepat di sebelah Gelora Bung Karno, FX Sudirman. Tepat di seberang lobbynya berdiri sebuah panggung berukuran sedang, dua orang bercakap-cakap sendiri disana. Rupanya mereka adalah master of ceremony. Sebelah kiri-kanan panggung terdapat beberapa booth stand, orang-orang berseliweran mengenakan kaos putih yang tulisannya sama persis dengan tulisan di atas panggung.

Thisable Festival. When we become one.

Saya berdiri di deratan anak tangga di lobby. Disebelah saya sudah ada banyak anak-anak yang duduk. Mereka bernyanyi dipandu oleh beberapa orang yang mengenakan kaos putih juga, tetapi dengan tulisan yang berbeda.

Integrity is doing the right thing when none is looking.

Orang-orang ini adalah volunteer dari CountMeIn, seperti yang tertulis di belakang kaos mereka. Saya mencari koordinator dari para volunteer ini. Disudut lobby saya bertemu dengan koordinator, kak Maya, bersama dengan volunteer lainnya, diberi tahu apa yang kita kerjakan juga diberi kaos.

Adik-adik yang duduk didepan lobby ini adalah siswa-siswa dari SLB, penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Kami yang menemani mereka selama acara berlangsung, menghibur mereka, hingga datang kelompok undangan lain.

Tak kenal maka tak sayang.

Seolah pepatah itu tidak lagi berlaku. Saya cuma waktu sekitar 1 jam untuk menemani adik-adik undangan ini tapi mereka bisa menginspirasi saya banyak hal. Dengan keterbasan fisik yang mereka miliki, mereka punya kebebasan yang sama dengan anak-anak yang lain. Mereka punya hak untuk bahagia, maka kami hibur mereka dengan permainan kata sederhana, bernyanyi bersama diiringi dengan teman-teman difable lain yang unjuk bakat di atas panggung. Mereka punya ketrampilan yang sama, maka kami asah kerja tangan-tangan kecil mereka, bermain origami. 

Selain adik-adik di sekitar kami, beberapa adik difable yang lainnya diundang naik ke atas panggung. Beberapa adik yang autis sangat cakap bermain musik dan bernyanyi dengan merdu. Seorang pelukis yang tangan dan kakinya tidak lagi berfungsi maksimal, maka ia melukis dengan mulutnya. Hoby bermain origamipun juga menjadikan seorang anak-anak laki-laki autis mampu membuat beragam jenis hewan dari kertas origami lalu dijadikan karya yang berjudul Noah Arch.

Adik-adik dari SLB yang baru saja datang, kami bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan tempat seadanya di atas karpet di depan lobby mall, sarana seadanya, kami duduk bermain. Karton-karton itu harus digunting, lalu dilipat, hingga membentuk mobil, ditempel. Waktu kami terbatas, tapi tawa kami lepas. Di belakang kami, di atas panggung tadi sedang berdiri grup musik Tangga bersenandung.

Kadang saya sendiri tak terbayangkan bahwa tidak ada satupun garis pembatas untuk semua manusia. Kami diberikan indera yang lengkap dan berfungsi baik, ketika kami mau, maka kami pun bisa bersatu dengan adik-adik yang difable ini. Meskipun kami sendiri belum bisa bahasa isyarat, itupun bukan menjadi penghalang untuk kami saling memahami maksud satu sama lain.

Keakraban yang perlu kami hadirkan juga mengesampingkan fakta bahwa mungkin kami datang ke sini dengan tidak mengenal satupun dan siapapun, bahkan ketika acara ini sudah dipertengahan pun kami belum mengenal semuanya. Tapi kami sama, kami satu, dan kami bisa.

When we become one.

Terima kasih adik-adik, teman-teman volunteer, Thisable Enterprise, dan CountMeIn :D

Monday, June 17, 2013

Perjalanan kelas menengah Semarang-Jakarta

Perjalanan Jakarta-Semarang saya mungkin tinggal satu langkah lagi, yang akan dilakukan bulan Agustus nanti untuk keperluan wisuda. Saya sih bilangnya perjalanan kelas menengah. Ditempuh menggunakan jalur darat kurang lebih 8 jam normalnya. Nah segala abnormalitasnya yang membuat perjalanan ini begitu punya banyak cerita.

Apa ceritanya? Mari dibaca sambil ngopi-ngopi dan nyemil-nyemil lucu :D

1. Ada Apa Tengah Malam di Kereta Bangun Karta Semarang-Jakarta

Saya berangkat dari stasiun Tawang, Semarang sekitar jam 20.00-22.00 (lupa), jamnya aja lupa apalagi kapan. Ini perjalanan pulang bersama yang pertama dan so far yang terakhir bareng Dio (penting, hahaha). Sebenernya yang bikin berkesan bukan bareng siapanya, tapi kecopetan laptopnya pas di kereta. HAH? Kereta Bangun Karta yang kita naikin ini termasuk kereta executive. Dulu masih ada kelas executive, middle range dibawah argo. 

Posisi duduknya saya yang duduk deket jendela, dia yang di deket lorong. Saya nggak tau tuh, dia bawa laptop atau nggak di tasnya, terus alih-alih ditaro dibawah deket kaki atau gimana kek gitu, ini tasnya taro di bagasi atas aja. Berhubung ini kereta malem, jadi normalnya penumpang pada tidur, termasuk saya sama dia. Saya inget banget sekitar jam 2 saya kebangun grasak-grasuk sendiri gak bisa tidur, cuma karena saya gak suka lampu terang di lorong kereta, saya ngumpet di dalem selimut. 

Paginya, di stasiun Bekasi, dia turun, saya lanjut sampai stasiun Jatinegara. Baru kemudian sesampainya di rumah masing-masing, saya dikabarin laptop sama handphonenya dia uda gak ada. Isi tasnya cuma majalah-majalah. Bayangin aja berapa lama waktu yang dibutuhin si maling sampe sempet masuk-masukin majalah ke dalam tas supaya tetep berasa berat? Bayangin apa yang lagi terjadi waktu tengah malem saya gak bisa tidur di dalem selimut? -____-*

2. Berapa Jam Kereta Senja Utama Jakarta-Semarang?

Nah kalau ini kejadiannya baru awal tahun 2013 kemarin. Saya ini termasuk yang suka naik kereta malem karena di jalan bakal tidur. Sementara kalau naik kereta siang, di jalan 8 jam bakal ngapain, bosen. Jadi mending naik yang malem. Selain naik yang malem, saya juga sukanya mepet, apalagi kalau perjalanan menuju Semarang. Misalnya senen kuliah, baru pulang Minggu malem. 

Hari itu naik kereta Senja Utama dari stasiun Senen. Kabarnya karena stasiun Tawang banjir (beritanya ada di newsticker ternyata, tapi saya gak baca -__-*) beberapa perjalanan menuju Semarang jadi terlambat karena gak bisa masuk stasiun. Singkatnya kereta Senja Utama gak berangkat, penumpangnya (termasuk saya) dialihkan ke kereta Surabaya yang kebetulan banyak kursi kosongnya. Petugas KAI juga mengatakan kemungkinan baru tiba di Semarang jam 5, terlambat sekitar 2 jam. Aman. Ditambah pula, pengalihannya saya dapet gerbong executive, jadi ya...mari tidur nyenyak.

Jreeeeng.. tengah malem baru ada kabar lagi, daerah pantura banyak yang relnya tergenang banjir. Penumpang yang menuju Pemalang, Pekalongan, Tegal, Batang, diturunin di Cirebon untuk terus dilanjutkan pake bis. Alhasil, kereta jadi lewat jalur selatang. Jam berapakah baru sampai di Semarang? Saya langsung gak bisa tidur. Optimis, pasrah, ketar-ketir -___-*

Jam 4/5 bangun (bisa tidur juga kan) nerawang-nerawang keluar kereta uda sampai dimana. Dan ternyata kereta berenti di stasiun Tugu, Jogjakarta. Hahahaha. Jadi ternyata jalurnya itu dari Jakarta-Cirebon-turun ke selatan-Jogjakarta-Solo-naik ke utara-balik ke barat-Semarang-balik ke timur-Surabaya. Hahahaha.

Baru bener-bener panik, sampai jam 6 ngehubungin orang-orang yang perlu ditemuin hari Senen itu tapi gak ada ada respon. Begitu juga dengan penumpang-penumpang lain, ada yang ngomel-ngomel, ada yang nyuruh penjemput pulang dulu tidur siang dulu, ada yang.....macem-macem. Saya pun setuju waktu ada yang protes bilang kenapa gak dari semalem kita diturunin di Cirebon aja sekalian bareng yang menuju Tegal dan sekitarnya.

Entah jam berapa, begitu matahari uda muncul, ada kabar lagi, penumpang yang menuju Semarang akan diturunkan di stasiun Gambringan (picture will update soon). Untuk selanjutnya akan dialihkan entah menggunakan apa, masih dalam konfirmasi. Jadi merujuk ke rute yang disebut di atas, stasiun Gambringan itu titik pertemuan arah utara dari Solo dan arah timur dari Semarang. Maksudnya biar kereta gak mesti belok ke Semarang dulu baru muter lagi ke Surabaya, penumpang Semarang yang numpang di kereta itu diturunin di Gambringan. Kalau yang ini, saya gak mau protes, namanya juga penumpang yang numpang di kereta orang, tahu diri aja ,--

Selama di Gambringan, berjemur diri sambil ngobrol-ngobrol. Bayangin aja jam 12 siang sekian puluh penumpang bagai ikan yang gak kurang air, megap-megap, gak tau kapan bakal ujan. Sampai akhirnya 3 bis dateng, penumpang aja masih pada rebutan naik. Jadi ya itu kira-kira sampai Tembalang uda mendekati ashar. Coba inget-inget lagi perjalanan Jakarta-Semarang totalnya berapa jam? 

3. Berpacu dalam Taksi Melawan Bis Semarang-Bandung

Baru minggu lalu saya naik bis pulang ke Bandung. Ini juga sebenernya karena kehabisan tiket kereta yang baru mau dipesen di hari H keberangkatan. Hahaha.

Naik bis memang terhitung jauh lebih murah dibanding naik kereta untuk kelas ekonomi ac/bisnis. Dengan harga 190rb untuk kereta kelas bisnis hari Jum'at tujuan Bandung, bis Nusantara ac cuma 105ribu juga dapet makan malam. Bis Kramat Djati lebih murah lagi, cuma 85ribu. Alasan kenapa saya lebih prefer naik kereta karena jalur kereta gak kena macet. 

Pertama kali itu saya naik bis Nusantara. Kata petugas yang di pool Sukun, kumpul jam 18.00. Teman saya kebetulan sudah sering naik nusantara, dia bilang itu paling baru berangkat jam 19.00, ujung-ujungnya baru keluar dari Semarang jam 21.00. Makan malem dulu di pool yang di daerah Krapyak.

Saya sama sekali gak berencana baru ke pool jam 19.00 apalagi mepet jam 21.00. Tapi tiba-tiba saya dapet kabar duka, kalau ada teman yang meninggal. Saya langsung mutusin untuk ngelayat dulu sebisa mungkin di rumah sakit tempat jenazah disemayamkan. Menunggu perkembangan kabar dari teman yang sudah ada di rumah sakit, saya akhirnya nekat susul ke rumah sakit yang saya gak tau itu dimana dan ternyata lumayan jauh. 

Kejar-kejaran sama waktu, saya baru balik lagi ke kosan jam 17.45. Saya sebenernya juga uda pasrah kalau gak dapet bis. Tapi malah kemakan omongan temen, saya dengan anehnya beli makan dulu, ganti baju, baru berangkat ke pool sukun jam 18.15 dengan asumsi bis baru jalan 18.30an. Pengalaman naik Kramat Djati, penumpang yang belum datang akan ditelp kalau bis sudah datang di pool, saya makin yakin dengan asumsi sendiri. PD sekaligus pasrah -___-*

Sampai di pool Sukun jam 18.30 rukonya aja uda tutup. Jreeeeng.... Kata orang-orang sekitar, bis sudah jalan 5 menit yang lalu. Jreeeeng..... 

Tadinya sama mau susul naik ojek ke pool terakhir yang di Krapyak. Tapi untung ketemu sama orang yang juga mau naik nusantara, jadi kita berdua patungan naik taksi. Padahal gak kenal, modal berani aja, lagian dari tampangnya juga keliatan dia mahasiswa, jadi gak mikir macem-macem.

Sampai di Krapyak jam 19.00, bis yang notabene berangkat duluan malah belom sampe. Fyuuuuh... Untungnya lagi mas-mas yang tadi juga dapet tiket bis buat ke Jakarta. Mungkin ntar kalo ketemu sama mas-mas yang itu kita bakal ngomongin soal script ftv season 2 kali ya hahaaha


**
Masih banyak cerita seru lainnya di perjalanan Jakarta-Semarang atau pun Semarang-Jakarta. Pernah naik kereta bisnis terus keretanya iseng ditimpukin batu, gak taunya batunya masuk lewat jendala kena ke penumpang. Histeris satu gerbong. Pernah naik bis dari Jakarta terus kelewatan turun, harusnya di Terboyo, ini lewat sekian meter atau sekian kilometerlah. Jadi balik lagi jalan kaki dan itu jam 3/4 pagi buta. Ogah naik bis lagi dari Jakarta. Naik bis terus dikasih tau orang pool kalo di dalem bis ada copet, bukan dikasih tau deng dibikin takut sendiri sampe gak berani tidur (ya akhirnya tidur juga sih haha). Naik travel ke Jakarta juga pernah, gara-gara keabisan tiket mau puasa. 12 jam lebih. Hoeks.

Ya begitulah asam manis kehidupan di jalan. Kalau mau ke Semarang atau ke Jakarta naik kereta saya lebih saranin kereta Argo Sindoro yang paling pagi. Enak. Berangkat subuh-subuh dari kosan, selama perjalanan saya bisa full tidur, ber-AC pula (iyalah argo). Uda gitu on-time, jam 12 uda masuk Jakarta. Gak berasa, kayak naik Parahyangan aja (Jakarta-Bandung) hahaha. Kalau mau ke Bandung tetep naik Harina sih dibanding bis apapun. Bis saya lebih pilih Nusantara, gak sempit kursinya, makanannya lebih enak.


Intinya saya pilih yang bisa tidur karena tidur itu enak :D