Wednesday, December 19, 2012

Menjumpaimu

Aku menjumpaimu di selasar sepanjang sepuluh ubin itu. Di antara riuhnya suara manusia yang berebut menghirup oksigen yang sama dengan kita. Kepalaku mencoba menyaring suara yang masuk satu persatu beradu dengan derasnya hujan dan petir yang menggelegar. Bagaikan cat di palet lukisan yang kian penuh warna, semua menjadi tidak berarti.

Aku menjumpaimu seperti mimpi pada malam ke dua puluh sembilan. Aku ingin memaku waktu. Memaknai lebih dalam tatapan mata kita yang tanpa sengaja saling beradu. Ah Tuhan terlalu Maha Kuasa untuk sesuatu yang tidak sengaja.. Sepersekian detik saja waktu ku sebelum semua orang menyadari hening yang tercipta tadi. 

Angin menyergap langit sore ini, menyelinap masuk memenuhi ruang dada menembus tebalnya jaket, meninggalkan bercak-bercak basah di kacamata. Kau tidak pernah terlalu samar meskipun di ujung pelupuk mata. Di ujung cakrawala pada akhir tahun nanti pun kita akan bertemu lagi dengan hati yang sudah tidak lagi berbalut perban :')







No comments:

Post a Comment