Monday, June 24, 2013

Semua mimpi dan mewujudkannya

"Semua mimpi harus digapai dengan kerja keras yang gigih"

Saya jamin semua orang juga tahu rumus ini. Bahkan yang pernah saya baca, kalau kita mau jadi yang paling jago di bidang tertentu harus kerja keras dengan dedikasi waktu minimal 5 jam/hari selama 6 tahun. Bayangin 6 tahun? Jangan dibayangin. Lakuin aja. Misalnya kamu suka nulis, ya tiap hari baca buku atau nonton film terus bikin reviewnya, atau bikin cerpen, puisi, naskah apa aja yang nyantol dipikiran. Publikasikan, bukan buat pamer, tapi buat dapet feedback dari orang lain yang baca karya kita.

Nah ada satu hal yang gak bisa kita pungkiri yangbjuga mempengaruhi besarnya usaha yang perlu kita keluarkan, yaitu fasilitas.

"Kalau kamu tinggal di kota besar, jangan bilang hanya usaha kerasmu saja yang mengantarmu pada pencapaian tujuan, tapi juga fasilitas yang memadai yang bisa kamu dapatkan lebih mudah dibanding di daerah."

Setuju? Kalau saya, iya.

Coba aja ambil contoh yang di atas. Di kota-kota besar sekarang uda ada sekolah-sekolah penulis, maksudnya sekolah khusus yang ngajarin gimana cara menulis hingga sampai dijadikan buku/novel. Toko-toko buku yang menjual novel-novel lokal atau impor juga lebih banyak, yang artinya referensi bacaan juga lebih banyak. Itu fasilitas kan? Itu juga ngebantu calon-calon penulis lho, ya bagi yang mau memanfaatkannya.

Iya, bagi yang mau memanfaatkan fasilitas tersebut. Bagi yang nggak aware, ya yaudah. Bye...

Terus, apa yang bisa jadi penulis besar cuma orang kota? Ya nggak lah.

Seperti apa yang sudah saya bilang di atas, fasilitas-fasilitas yang tersedia itu akan gak ada artinya kalau gak dibermanfaatkan. Ibaratnya uda punya modal, uda ada jalurnya, tapi gak dijalanin, ya mentah juga. Bukan gak mungkin, malah bisa kegilas sama orang-orang yang gak terlalu terfasilitasi tapi usahanya optimal banget. Misal dengan baca-baca karya penulis dari media internet, baca di majalah atau koran, sering coba kirim artikel ke media masa, atau juga yang sengaja diniatin ke kota buat sekolah.

Maka dari itu, buat kalian yang punya mimpi besar, lakuin juga hal besar, hal yang belum pernah kalian lakuin sebelumnya. Mengutip kata Pandji dari bukunya Berani Mengubah, ada dua jenis pemuda yaitu pemuda yang menuntut perubahan dan pemuda yang melakukan perubahan. Mana yang lebih baik?

Saya mengartikan pernyataan itu sih bahwa nggak ada yang lebih baik dibanding yang lain, karena dua-duanya dibutuhkan. 

Dibutuhkan pemuda yang berani maju dan mau berdiskusi ke pemerintah kota/pemerintah daerah supaya membuka sekolah untuk mengembangkan pendidikan warga setempat, menuntut persamaan hak dalam bidang pendidikan untuk anak-anak, juga menuntut dan mengawal kebijakan pemerintah yang lain. Saya bilang diskusi lho bukan ngedumel sampah atau tau-tau bakar ban depan rumah sakit.

Aah buang-buang waktu ngomong sama birokrasi? Lho, pada dasarnya memang pemerintah kan punya tanggung jawab akan warganya, ada aturannya kok kenapa mereka gak diingatkan? 

Semua usaha yang dilakukan menyangkut perubahan yang lebih baik, baik dengan menuntut atau melakukan gak ada yang instan. Yang instan itu cuma super bubur sama supermi hehehe. Menuntut perubahan belum tentu kita yang rasain hasilnya, tapi mungkin adik-adik kita nanti, orang-orang sekitar yang merasakan enaknya. Mau jadi ahli dalam bidang-bidang yang kita minati, juga uda tau kan perkiraan waktu yang perlu diperjuangkan?

" Keterbatasan yang kita miliki bukan alasan akan sebuah ketidakmampuan, keterbatasan adalah tantangan bagi kita untuk berusaha sedikit lebih keras, lebih keras dibanding kerja keras. "

Oiya, satu lagi..

" Kesempatan itu diberikan sekali tapi bisa diciptakan berkali-kali untuk orang lain ataupun diri sendiri."

So move your ass now! :D


#songthatinspired: 
Angel and Airwaves - Everything's Magic
P!nk - Try

No comments:

Post a Comment