Sebuah pertanyaan menyeruak dari mu "Apa yang kau mau sekarang?". Aku sejenak diam, bukan tak tau jawabannya, tapi memikirkan jawaban apa yang terlihat mudah. Berganti-ganti jawaban A, lalu B, lalu C. padahal sebenarnya jelas aku tau apa yang aku mau, tanpa perlu berpikir aku tau betul apa yang aku mau. Kebahagiaanmu. Mengawasimu dan memastikan kau bangkit dari jatuh mu yang membuat mu terluka sangat parah.
Memang bukan aku yang terjatuh. Membayangkan sedikit saja bagaimana kau akhirnya terjatuh sudah cukup buat ku sakit dan merasakan luka itu. Kau sudah membayar mahal untuk perjalanan yang membawamu kesini.Kau pertaruhkan segalanya demi apa yang kau sebut kebebasan hati. Menyayanginya dengan ketulusan dan kejujuran.
Kasih sayang. Saling mengasihi. Sebuah interaksi yang mungkin terjadi antara kau dan dia. Sebuah hubungan yang terbangun dalam bayang-bayang. Tetapi jauh dalam hatimu, kau tetap meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Bahkan ketika ia hilang dalam diam, kau masih sanggup mempertahankannya. Dia yang menjadi bagian terbesar dari hatimu.
Diam karena takut. Diam yang menjadi pilihan atas keraguannya untuk jujur. Dalam diamnya kau seolah mampu memahaminya. Menciptakan kesempatan sehingga kalian bertemu, bertemu kembali. Melanjutkan cerita yang sempat tertunda, walaupun tak pernah beranjak jauh dari bayang-bayang.
Cinta adalah dua insan yang mengalami. Dua insan yang memperjuangkannya untuk tetap bertahan dan berkembang. Namun cinta tidak menyakiti, tidak membuat mu lemah. Dan cinta tidak akan mampu hidup dalam tempat yang gelap.
Berbagai cerita indah yang akhirnya berubah nama menjadi sejarah yang tersimpan rapi beradu tempat dengan luka yang ditinggalkan. Berbagai cara kau lakukan untuk memastikan arti kata dari perpisahan. Dan sampai kapan pun kau meyakini memang tidak ada yang menahanmu, tidak ada yang menggenggam tangan mu dan berkata "semua baik-baik saja".
Kesedihan dan kepedihan menjadi apa yang menyiksa mu...sendirian.
Lalu dimana aku?
Aku yang kata mu tidak tahu apa-apa ini, memang tidak punya apa-apa yang bisa aku tawarkan untuk menyembuhkan mu. Tapi mungkin aku juga ingin merasakan deru kendaraan, hentakan langkah manusia yang melewati mu begitu saja ketika melihat telinga mu menempel rata dengan jalan.
Mereka yang tidak peduli, mereka yang tidak mau tau.
Aku bukan mereka.
Ah sudahlah, aku hanya sedang membual.
No comments:
Post a Comment