Skripsi itu rupanya bukan hanya soal bab 1-5, jangan lupakan juga halaman-halaman pendahuluannya sebelumnnya. Merujuk pada ketentuan di kampus saya, skripsi juga mencakup halaman persembahan, halaman motto, dan kata pengantar. Sekilas isi dari ketiga halaman tersebut memang tidak terlalu diperhatikan tetapi bukan berarti tidak dipikirkan.
HALAMAN PERSEMBAHAN. Pada halaman ini, peneliti (si yang punya skripsi) menuliskan skripsi ini dipersembahkan untuk siapa sih. Allah SWT, kedua orang tua beserta ucapan terima kasih yang disusun sedikit puitis. Sedikit bocoran, saya sempat terpikirkan ingin menuliskan bahwa skripsi ini juga saya persembahkan untuk diri sendiri atas usaha dan kerja kerasnya selama ini. Boleh dibilang ya semacam reward bagi diri sendiri saja. Hahaha.
HALAMAN MOTTO. Ini ya sudah jelas ya, peneliti menuliskan apa yang menjadi motto dalam hidupnya, ataupun dalam menyelesaikan pendidikan sarjananya. Boleh motto, boleh do'a. Boleh bikin sendiri, boleh copas juga dari akun-akun di twitter yang banyak meng-quote-kan kata-kata bijak. Hahaha.
KATA PENGANTAR.
NAH!!
Kata pengantar pada skripsi akhirnya bukan sekedar kata pengantar yang biasa kita bikin untuk makalah-makalah tugas kuliah yang biasa kita copas tinggal mengganti tergantung mata kuliahnya, bukan juga kata pengantar di majalah-majalah atau buku-buku ilmiah. Di skripsi itu, di bagian akhir kata pengantar ada 'daftar orang-orang' yang secara langsung maupun tidak turut membantu terselesaikannya studi sarjana peneliti berikut ucapan terima kasihnya. Misalnya, dekan, dosen pembimbing, dosen wali, pimpinan tempat penelitiannya, orang tua, keluarga, dan teman-teman.
Usut punya usut yang dilakukan beserta teman-teman senasib sepenanggungan, bagi peneliti yang berhasil menyelesaikan skripsinya dengan status *ehem* in a special relationship with someone (or everyone :D) pasti dia akan menuliskan nama yang bersangkutan dengan satu point khusus pada bagian akhir kata pengantarnya. Ya namanya juga special. Hahaha.
Bukan. Bukan itu yang menjadi perhatiannya. Sewaktu menulis nama orang-orang yang menurut saya layak dan perlu saya ucapkan terima kasih rasanya menjadi banyak sekali. Dulu, teman ada yang mengingatkan bahwa yang perlu kita tuliskan adalah yang benar-benar membantu kita mengerjakan skripsi ini. Wah, tetap saja rasanya terlalu banyak orang baik yang saya kenal yang semuanya ingin saya tuliskan di sana.
Lalu kemudian, saya juga memperhatikan bahwa ada juga beberapa orang yang pada-awalnya-berhubungan-baik-tapi-kemudian-memburuk, akhirnya tidak menuliskan nama orang tersebut. Saya di sini jelas tidak tahu dan tidak perlu tahu, cerita dan alasan apa dibaliknya karena saya hanya memperhatikan nama yang tidak ada itu.
Saya juga sempat membaca beberapa kalimat di lini masa yang isinya kurang lebih seperti ini :
"tidak peduli bagaimana seseorang memulai sesuatu, karena yang diingat adalah bagaimana dia mengakhirinya"
"sebaik-baiknya manusia, ketika dia melakukan satu kesalahan. maka rusak semua kebaikannya di mata manusia lain. standar.
Dalam peribahasa Indonesia pun :
"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga."
Apa iya manusia sesempit itu hatinya? Cuma segitu saja? Sudah?
Kalau saya sendiri akhirnya cenderung untuk berkeyakinan seperti ini:
" Seseorang ada di hidup kita atau kita ada di hidup seseorang akan mengajarkan kita untuk menghargai orang lain, menghormati orang lain, mengasihi orang lain dan berbagi dengan orang lain, yang pada akhirnya bukan supaya orang itu juga melakukan hal yang sama sebaliknya terhadap kita, tetapi cukup supaya orang itu merasakan bagaimana rasanya dihargai, dihormati, dikasihi, ditolong, dan dibutuhkan."
Ini menjelaskan mengapa saya tidak punya hak untuk membuat seolah-olah orang lain harus melakukan apa yang sudah saya lakukan kepada mereka, juga menjelaskan perkataan "orang dia aja kayak gitu sama gue ngapain gue mesti....." itu salah tempat.
Buat saya, berbuat baik sama semua orang itu perlu, berbuat baik dan benar itu wajib. Jadi kalau ada orang yang pernah berbuat baik sama saya dengan cara yang menurut mereka benar, saya harus dan wajib menghargainya.
Cara yang sederhana?
Mengucapkan terima kasih.
You may read this too
No comments:
Post a Comment