Thursday, July 4, 2013

When we become one in Thisable Festival

Minggu, 30 Juni 2013

Pagi 09.00 sepanjang jalan Sudirman masih lenggang dari lalu lalang kendaraan. Pada jam-jam car free day seperti ini, jalan-jalan protokol memang ditutup bagi pengendara kendaraan bermotor. Keluarga-keluarga bersepeda dibawah panas matahari pagi, sekelompok muda-mudi duduk santai di trotoar jalan bersenda gurau mendinginkan keringat, bahkan pekerja-pekerja ekspatriat juga turut menikmati moment car free day ini.

Jalanan yang ramah, angin yang bertiup riuh rendah, terpecah oleh keramaian dari sebuah pusat berbelanjaan tepat di sebelah Gelora Bung Karno, FX Sudirman. Tepat di seberang lobbynya berdiri sebuah panggung berukuran sedang, dua orang bercakap-cakap sendiri disana. Rupanya mereka adalah master of ceremony. Sebelah kiri-kanan panggung terdapat beberapa booth stand, orang-orang berseliweran mengenakan kaos putih yang tulisannya sama persis dengan tulisan di atas panggung.

Thisable Festival. When we become one.

Saya berdiri di deratan anak tangga di lobby. Disebelah saya sudah ada banyak anak-anak yang duduk. Mereka bernyanyi dipandu oleh beberapa orang yang mengenakan kaos putih juga, tetapi dengan tulisan yang berbeda.

Integrity is doing the right thing when none is looking.

Orang-orang ini adalah volunteer dari CountMeIn, seperti yang tertulis di belakang kaos mereka. Saya mencari koordinator dari para volunteer ini. Disudut lobby saya bertemu dengan koordinator, kak Maya, bersama dengan volunteer lainnya, diberi tahu apa yang kita kerjakan juga diberi kaos.

Adik-adik yang duduk didepan lobby ini adalah siswa-siswa dari SLB, penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Kami yang menemani mereka selama acara berlangsung, menghibur mereka, hingga datang kelompok undangan lain.

Tak kenal maka tak sayang.

Seolah pepatah itu tidak lagi berlaku. Saya cuma waktu sekitar 1 jam untuk menemani adik-adik undangan ini tapi mereka bisa menginspirasi saya banyak hal. Dengan keterbasan fisik yang mereka miliki, mereka punya kebebasan yang sama dengan anak-anak yang lain. Mereka punya hak untuk bahagia, maka kami hibur mereka dengan permainan kata sederhana, bernyanyi bersama diiringi dengan teman-teman difable lain yang unjuk bakat di atas panggung. Mereka punya ketrampilan yang sama, maka kami asah kerja tangan-tangan kecil mereka, bermain origami. 

Selain adik-adik di sekitar kami, beberapa adik difable yang lainnya diundang naik ke atas panggung. Beberapa adik yang autis sangat cakap bermain musik dan bernyanyi dengan merdu. Seorang pelukis yang tangan dan kakinya tidak lagi berfungsi maksimal, maka ia melukis dengan mulutnya. Hoby bermain origamipun juga menjadikan seorang anak-anak laki-laki autis mampu membuat beragam jenis hewan dari kertas origami lalu dijadikan karya yang berjudul Noah Arch.

Adik-adik dari SLB yang baru saja datang, kami bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan tempat seadanya di atas karpet di depan lobby mall, sarana seadanya, kami duduk bermain. Karton-karton itu harus digunting, lalu dilipat, hingga membentuk mobil, ditempel. Waktu kami terbatas, tapi tawa kami lepas. Di belakang kami, di atas panggung tadi sedang berdiri grup musik Tangga bersenandung.

Kadang saya sendiri tak terbayangkan bahwa tidak ada satupun garis pembatas untuk semua manusia. Kami diberikan indera yang lengkap dan berfungsi baik, ketika kami mau, maka kami pun bisa bersatu dengan adik-adik yang difable ini. Meskipun kami sendiri belum bisa bahasa isyarat, itupun bukan menjadi penghalang untuk kami saling memahami maksud satu sama lain.

Keakraban yang perlu kami hadirkan juga mengesampingkan fakta bahwa mungkin kami datang ke sini dengan tidak mengenal satupun dan siapapun, bahkan ketika acara ini sudah dipertengahan pun kami belum mengenal semuanya. Tapi kami sama, kami satu, dan kami bisa.

When we become one.

Terima kasih adik-adik, teman-teman volunteer, Thisable Enterprise, dan CountMeIn :D

No comments:

Post a Comment