Namanya Bay Kennish, seorang perempuan normal yang bersikeras ingin melanjutkan pendidikan di sekolah khusus tuna rungu. Saudara perempuannya, Dapne Vasquez adalah seorang tuna rungu, jadi (mungkin) Bay ingin lebih memahami kehidupan dalam dunia yang semua menggunakan bahasa isyarat. Selama kuliah Bay, bukan pembuat onar, tidak merendahkan teman-temannya, dan sebagainya, dia cuma kesulitan menangkap penjelasan materi belajar, juga bersosialisasi dengan teman-temannya yang sangat cepat 'berbicara'. Diceritakan ada satu orang yang menunjukkan ketidaksukaannya pada Bay, sampai akhirnya orang itu 'ngomong': Di setiap tempat di dunia ini, kami yang harus menyesuaikan diri dengan cara kalian hidup. Setiap tempat seolah-olah adalah milik kalian. Apa tidak ada satu tempat pun dimana tempat itu adalah milik kami, diciptakan memang untuk kami? Kamu tidak seharusnya ada di sini! Bay cuma diam.Lain ceritanya dengan Dapne...
Dapne, awalnya besar di lingkungan sub-urban, warganya hidup serba kekurangan. Di keluarga barunya sekarang yang jauh lebih berkecukupan, Dapne bermaksud membantu warga di tempat tinggalnya yang lama dengan berjualan taco. Taco dijual dengan harga $3. Menurut ayahnya harga itu terlalu murah, bahkan tidak cukup untuk membeli bahan-bahannya. Harga per taco jadi $6. Siang hari, Dapne menawarkan taco-nya ke teman bermainnya dulu yang bekerja di tempat pencucian mobil. Sayang, temannya menolak karena menurutnya harga $6 terlalu mahal untuk seporsi taco untuk makan siang bagi pekerja seperti dia. Dia pun tetap menolak waktu Dapne menawarkan dengan cuma-cuma. Akhirnya harga taco turun lagi, "pay as you can". Pembeli langsung ramai. Hingga tiba-tiba ada seseorang yang datang meminta supaya taco car Dapne pindah dari wilayah itu, katanya: "Kamu, orang yang baru datang ke sini beberapa jam lalu, apa kamu pikir sudah menolong orang-orang di wilayah ini dengan berjualan taco dengan harga yang sangat murah itu? Kamu tahu, paman ku sudah puluhan tahun hidup di sini, mengandalkan hidup setiap hari dari berjualan makanan sederhananya sama dengan penjaja makanan lainnya, dan hari ini tidak ada satu pun pengunjung yang datang karena semua warga membeli taco murahmu. Siapa yang ingin kamu tolong di sini?
Hal lain yang saya temui masih dari hari Minggu yang sama..
Sekelompok bapak dan ibu bermaksud mengadakan acara amal di rumah sakit, khususnya di bagian anak. Mereka akan membagikan ta'jil, makanan, pampers, juga alat tulis untuk pasien anak-anak. Akan tetapi pemberian tidak hanya berbentuk fisik, mereka juga ingin memberikan hiburan sulap untuk anak-anak bertempat di sebuah ruang terbuka di lantai 1 bagian rawat inap anak di sana. Sebagian ibu-ibu ternyata masih sibuk memasukkan kue-kue ke dalam plastik, sebagian yang lainnya menyusun yang akan dibagikan ke anak dan persiapan atraksi sulap. Semua ribut. "Ibu, kata humas rumah sakit, beresin makanannya jangan di sini, nanti ruangannya kotor". "Ibu, anak-anak yang boleh keluar kamar hanya segini, dikasih waktu 30 menit, gak enak sama pasien lain yang ada di kamar sama di lantai atas, takut ganggu". "Ibu, di sini tidak boleh makan. Di luar saja". Selesai acara, seorang ibu bergumam, "Ya begini ini nasib jadi relawan, diusir-usir". Perawat rumah sakit hanya diam tersenyum.Hari Minggu itu satu jendela terbuka. Menolong orang, sebaik apapun niat kita, kalau caranya salah, apa yang dimaksud tidak akan tersampaikan. Padahal, menolong orang itu tujuannya ada di diri orang lain. Apa yang menurut kita orang lain itu butuhkan sangat mungkin berbeda jauh dengan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Jadi, cari informasi yang benar, kreatif mencari solusi, singkatnya menolonglah dengan niat yang tulus dan cara yang benar.
Happy helping people! ^^
No comments:
Post a Comment