Selamat memasuki bulan November!
Bulan November merupakan pertanda sudah memasuki bulan ketiga saya bekerja di sini. Sudah 3 bulan setiap hari berangkat jam 06.15 hingga sampai di rumah lagi sekitar jam 20.30. Perjalanan selama 2 jam bisa ditempuh menggunakan bus transjakarta dengan biaya hanya 2000 rute manapun, tetapi hanya 30 menit menggunakan taksi dengan biaya nyaris 40ribu. Di kota yang katanya keras ini (padahal belum ada juga kota dimanapun yang aspalnya seperti tahu), memang punya seleksi alam sendiri untuk memfilter penduduknya.
Di sini, sekarang, semua bermula dari mimpi-mimpi kecil (atau ketika masih kecil); saya ingat saya pernah berucap ingin bertempat tinggal di Permata Hijau, juga ingin bekerja di mall karena menurut saya pada saat itu pasti menyenangkan sekali bisa sekalian jalan-jalan di mall setiap hari, dan terakhir saya ingin sudah bekerja ketika hari wisuda. Iya, ini jawaban Tuhan untuk saya sekarang.
Lalu apa yang saya rasakan setelah 3 bulan?
Saya tidak pernah menyangka hari Senin itu adalah hari pertama saya bekerja. Saya diminta datang lalu langsung ikut dengan karyawan yang lainnya dalam agenda rutin yang dinamakan Core Value. Tanpa tahu apa maksudnya, saya (dan semua karyawan lainnya) mengikuti instruksi untuk meletakkan tangan kanan di dada kiri dan membaca visi misi perusahaan. Benar-benar tidak tahu itu apa maksudnya...
Hari pertama, hari kedua, hari awal-awal bekerja masih canggung, masih banyak salah, masih suka lupa taruh barang dimana, masih belum punya meja kerja. Hari ketiga, keempat, tepar sama perjalanan pulang, mulai bosan kalau tiap hari bawa bekal makan siang.
Minggu kelima keenam, akhirnya punya tebengan kalau pulang, meskipun kakunya setengah mati tapi punya teman ketawa-ketawa dikala lapar dan macet sampai hampir mati. Juga dikenalkan banyak alat tes baru, sering diskusi soal dunia HR, lumayan tambah ilmu. Ruang meeting berubah jadi ruang kerja, merangkap panggung srimulat orang-orang stress. Ini bulan ketiga dimana akhir pekan lembur ke luar kota. *)
Tapi ketika semua harapan itu ada, alasan itu nyata, semuanya berbalik arah..
Minggu kelima keenam, akhirnya punya tebengan kalau pulang, meskipun kakunya setengah mati tapi punya teman ketawa-ketawa dikala lapar dan macet sampai hampir mati. Juga dikenalkan banyak alat tes baru, sering diskusi soal dunia HR, lumayan tambah ilmu. Ruang meeting berubah jadi ruang kerja, merangkap panggung srimulat orang-orang stress. Ini bulan ketiga dimana akhir pekan lembur ke luar kota. *)
Tapi ketika semua harapan itu ada, alasan itu nyata, semuanya berbalik arah..
Catatan di bawah ini bukan merupakan panduan atau curhatan karena beberapa di antara saya tidak menyarankan untuk diikuti juga tidak saya alami sendiri. Catatan ini bukan hanya didapat di lingkungan profesional kerja, tetapi bisa juga di sepanjang kehidupan..
Kita pasti tahu dimana hati kita berada, berarti kita tahu jikalau ia bukan berada di tempat yang tepat. Kadang memang bukan tempatnya yang salah, mungkin kita yang tidak mau memberinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang lain. Sudah semestinya hati dan otak bekerja sinergis kan?
Pilihan, pilihan, dan pilihan. Pilihan untuk tetap tinggal atau pergi. Ya semudah itu. Ketika kamu pikir kamu menemukan alasan untuk tinggal, sesederhana apapun, entah seseorang yang membuat mu bertambah pintar, kebiasaan kecil yang mengundang tawa, perjalanan yang menyenangkan atau hiasan cantik yang menenangkan dan hal-hal lainnya, berbahagialah kamu. Langkah mu menjadi sedikit lebih ringan.
Ketika kamu pikir, tidak ada yang bisa kamu usahakan. Kamu juga harus tetap ingat setiap keputusan yang kamu ambil, setiap kenyamanan yang ingin kamu perjuangkan untuk hatimu sendiri, di sisi lain ada orang lain yang menangis menanggung risikonya. Jangan abaikan orang-orang itu.
Ingatlah apapun itu adalah pilihanmu sendiri, alasan yang kamu temukan sendiri. Memberi tahu orang tentang alasan-alasan mu tidak lantas membuat orang lain itu jadi punya tanggung jawab untuk ikut membantumu bertahan. Jangan-jangan mereka juga punya alasan untuk membiarkan mu pergi.
Ingatlah apapun itu adalah pilihanmu sendiri, alasan yang kamu temukan sendiri. Memberi tahu orang tentang alasan-alasan mu tidak lantas membuat orang lain itu jadi punya tanggung jawab untuk ikut membantumu bertahan. Jangan-jangan mereka juga punya alasan untuk membiarkan mu pergi.
Sudah tentu setiap orang mempunyai pemikirannya sendiri, pandangannya sendiri, termasuk perasaannya sendiri mengenai berbagai hal. Kalau kamu pikir kamu sudah tau banyak tentang mereka, nyatanya tidak. Ada hal-hal yang menjadi rahasia pribadi, atau bukan rahasia tapi tidak dibicarakan. Nikmati saja setiap cerita yang kamu dengar, ketika mereka ada. Setiap sikap yang sengaja atau tidak kamu tangkap, ketika mereka dekat.
....
Ah sudahlah, umur masih muda, jalan hidup masih panjang, always remember to stay wildly dreaming!
....
Ah sudahlah, umur masih muda, jalan hidup masih panjang, always remember to stay wildly dreaming!
No comments:
Post a Comment