Emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
-Daniel Goleman (2002:411)
Aku selalu kagum pada mereka yang pandai bercerita. Dengan penuh ekspresi dan luapan emosi, mereka mengungkapkan kesedihan dan kegembiraannya, pada ku atau pada siapapun yang dia senangi.
Aku rasa aku bukan mereka. Dan aku yakin bukan. Hingga kadang aku tanya pada diriku sendiri, dimana yang salah? Semua tertumpuk rapi disini. Dalam pikiran ku sendiri, dalam kerongkongan ku sendiri. Sebilah pisau mungkin bisa aku ambil untuk memutus alirannya. Agar seperti darah, ia akan bersimbur keluar.
Tidak, jangan seperti itu. Potongannya pun harus rapi. Paling tidak, tidak ada yang akan terkena noda bercak darah ku. Tidak juga meninggalkan bekas.
Mungkin diantara derasnya hujan, dan gelapnya malam, dibawah tumpukan boneka kesayangan, aku menemukan diriku sendiri. Linangan air mata yang penuh isakan memecah malam. Diriku sendiri yang tidak sanggup lagi menanggungnya, menutupinya, membohonginya.
Aku tidak melihat apapun. Tiba-tiba pintu itu tertutup dan secercah sinar pun tidak bisa menembusnya. Aku siap, tapi yang tidak tahun ternyata aku tidak pernah benar-benar siap. Sekarang ataupun nanti, mungkin sama saja.
Kalau penjaga perpustakaan itu bisa meminjamkan aku kunci, akan aku cari satu kata untuk menggambarkan semuanya di kamus bahasa manapun. Abu-abu, gelap, patah. Aku ketakutan. Dan bingung. Juga kecewa. Pada diri sendiri, pada semuanya.
Bagai anak kecil yang sedang meraung-raung kehausan, tapi botol susunya telah berubah menghitam. Ia tidak berani menenggaknya, karena ia yakin itu pasti pahit. Namun tidak ditemuinya juga ibunya di seluruh sudut rumah.
Aku harus menenangkan diriku, sebelum seseorang masuk ke sini.
Lalu seketika suara pintu terbuka. Aku coba menahan suara ku sendiri. Ibuku datang merapikan selimutku. Tapi sayang ia tidak aku biarkan tahu, tangisan air mata ku.
Jakarta, 8 Oktober 2013
Malam pertama setelah putusan sidang...
No comments:
Post a Comment