Sehari-hari dengan rutinitas yang sama, selama kurun waktu yang panjang...ada di bosan tingkat berapa ya kira-kira nanti? Terus apa yang bisa dilakuin supaya kerja gak terasa membosankan? Punya temen yang seru? Punya atasan yang support? Gaji yang besar?
Mengakhiri hari dengan keluhan akan pekerjaan dan laporan-laporan yang menunggu. Begitu juga hari minggu yang ditutup dengan keluhan-keluhan akan hari Senin sudah di depan mata. Ahh.. rasanya sayang sekali kalau hidup hanya diisi oleh hal-hal seperti itu..
Memasuki satu tahun lebih sebagai kacung korporat swasta, pikiran-pikiran seperti itu masih lalu lalang ke otak. Membuat saya mulai berpikir akan alternatif rencana hidup yang lainnya. Eh bukan, bukan mulai, malah sebenarnya selalu berpikir selanjutnya mau jadi apa, mau begini terus?
Jujur saja, saya tipikal orang yang mudah bosan dengan rutinitas dan cendurung suka kebebasan. Segala sesuatu yang mulai membentuk menjadi rutinitas dan isinya itu-itu saja, ujung-ujungnya hmmm bosaaaan. Sayangnya hal itu tidak bisa dihindari ketika setelah lulus kuliah memutuskan bekerja. Apalagi dengan background psikologi, ranah pekerjaan yang ditekuni sudah jelas di ranah ke-HRD-an. Kalau begitu kenapa memilih bekerja diantara pilihan yang ada lainnya, seperti melanjutkan sekolah atau wirausaha?
Keputusan untuk bekerja itu mulai dipikirkan memasuki masa-masa akhir kuliah. Sebenarnya saya hanya ingin jadi survivor atau volunteer untuk orang-orang yang kurang mampu, orang-orang keterbelakangan mental, bahkan orang-orang yang menjadi korban bencana misalnya. Entah pikiran dari mana, mungkin karena selama kuliah aktif di departemen Pengabdian Masyarakat, atau karena bencana Gunung Merapi dan abu vulkanik. Yang jelas setelah sempat share dengan orang tua, yang ada malah nangis sejadinya karena ditentang.
Pelan-pelan, mulai realistis karena kondisi keuangan keluarga, dan sepertinya tidak punya informasi yang cukup kalaupun ingin menekuni psikologi klinis, akhirnya baiklah harus bekerja! Niat saya cuma satu saat itu, harus sudah bekerja pada saat wisuda. Sama sekali tidak spesifik bekerja dimana yang penting tidak datang wisuda dengan status pengangguran.
Dari pengalaman kerja pertama ini, sekalipun hanya temporer, di perusahaan yang tidak punya nama sama sekali, mata saya mulai terbuka. Di samping pernyataan yang orang-orang selalu bilang, dunia pekerjaan jauh berbeda dengan perkuliahan yang penuh teori dan memang nyatanya begitu, tapi pengalaman bekerja di perusahaan yang merintis dari 0 punya sensasi yang berbeda dibanding cerita teman-teman yang bekerja di tempat yang sudah jadi.
Belajar untuk punya aturan sendiri, itu harus. Walaupun secara SOP belum jadi aturan baku, tapi orang harus punya aturan, punya etika, punya prinsip. Istilah yang boleh dipinjem dari atasan saya waktu itu adalah value. Jadi jangan mau pekerjaan diselak, diribetin sama orang lain yang sebenernya gak punya kepentingan.
Nemuin orang-orang yang "gak bener" bukan cuma 1-2 tapi banyak, ditambah lagi orang yang cari muka. Di sini saya baru ngerasain apa pentingnya peran leader. Leader bagi saya saat itu bukan cuma direct mandatory, tapi juga seorang yang bisa saling percaya, bisa saling mengandalkan, bisa saling bantu. Sebagai penghuni level terbawah dari struktur, atasan juga sebagai bumper. Semua itu bukan dari saya yang buat pengertian sendiri, tapi sekali lagi dari atasan saya sendiri, dan saya mengamininya sampai sekarang. "Setiap kesalahan yang terjadi, atasan itu harus jadi bumper, jadi saya yang kena pertama kali, bukan kamu. Kenapa? Karena setiap kesalahan bawahan, disitu peran atasan dipertanyakan?". Kalimat itu masih nempel di kepala bahkan cara atasan saya ngejelasin peran leader sambil kayak orang ketabrak mobil pun masih jelas.
Kalimat lain yang juga saya pegang teguh adalah "Kerja itu cari value, gaji pasti akan menyesuaikan. Buat apa kamu kuliah tinggi-tinggi tapi pada saat kerja gak ada ilmu yang kamu dapatkan, gak bikin kamu tambah pintar. Pintar itu dalam hal apapun.."
Nah berangkat dari situ, setiap detail pekerjaan yang harus saya lakukan berulang dan ternyata tidak ada follow up hasilnya, akan muncul di otak, "Terus buat apa gw kerjain capek-capek?". Solusinya coba tanya atasan sendiri yang memberikan pekerjaan kalau menemukan situasi begitu. Sebaiknya juga, apapun yang saya lakukan harus ada argumennya. Argumennya biasanya atasan paling suka kalau dalam bentuk angka, ratio, persentase, bukan "biasanya, beberapa,"
Waktu berjalan pun, saya menemukan perusahaan sebesar apapun pasti ada minusnya. Perusahaan besar kalau pada akhirnya direct leader tidak memberikan apa-apa, pasti gerah juga. Gerah banget. Walaupun saya juga belajar, ada waktunya, ketiadaan direct leader atau supervisi artinya tingginya trust top leader pada satu posisi. They want you to grow bigger even faster than others. Dan itu mahal rasanya.
Saya yang pernah mengalami kedua posisi tersebut, tanpa adanya direct supervisi dan full team lengkap. Yang pertama, biasa langsung diskusi dengan level General Manager bahkan Director, ada perasaan dihargai dan dibutuhkan, ada tantangan bahwa untuk memenuhi ekspektasi dari beliau-beliau itu. Paling tidak enak, ya tidak ada diskusi di level yang sama, kalau salah harus siap babak belur dan seketika jadi anak bawang (that's why your self-value is important!). Yang kedua, saya kemudian untuk pertama kalinya punya team kerja, ada buddy, supervisor, baru manager. Yang kedua ini tantangannya adalah catch up dengan buddy team, dan full time supervisi yang lumayan ganggu juga buat saya pribadi, bayangkan kerja diawasi selama 8 jam! Ya istilah orang Jawa, sawang sinawang, selalu ada yang terlihat lebih enak.
Ini sedikit bocoran tentang hidup 8 jam sebagai HRD :
Ada saatnya dianggap departemen yang kerjanya ngapain sih, tapi begitu ada masalah dengan karyawan HRD harus pasang badan. Walaupun beberapa perusahaan payroll / gaji dipegang oleh finance biasanya HRD yang bakal ditunjuk kalau ada case terkait gaji. Jadi HRD adalah departemen yang harus paling tau segala sesuatu soal perusahaan.
HRD itu sebenarnya ada bagian-bagiannya lagi, tapi gak semua orang tau dan mau tau. Jadi selain "dihujat" oleh masalah karyawan, semua orang HRD akan terima pertanyaan orang dari luar soal ada lowongan apa. Email banyak isinya lamaran-lamaran. Mending kalau cuma tanya lowongan, ujung-ujungnya tanya gajinya berapa. Wajar kalau pengalama, kalau fresh graduate??
Kerja di perusahaan swasta selalu punya cerita, tahu proses end to end bisnis perusahaan, dari raw process sampai smooth reporting. Jauuuuuh berbeda ketika kamu kerja di konsultan yang terima bersih. Banyak yang gak survive perubahan dua dunia ini.
Masuklah perusahaan swasta, paham jatuh bangunnya untuk sukses, tapi punya prinsip dan gaji seorang BUMN, why not? :D
No comments:
Post a Comment