Pertama, aku perlu bilang terima kasih untuk teman dari jaman perBEMan di kampus dulu, Viky Veriyanto, kalo aku pake inisial jadi Mr. V agak gak enak konotasinya kan hihi :p (btw, please do visit his tumblr! http://socialscript.tumblr.com). Ceritanya tadi siang kita sempet linean dan ngobrolin dunia sosial media termasuk dunia tulis menulis. Daaaaan dia bilang
"Tulisan mu ki apik lho (Tulisan mu itu bagus lho). Kenapa gak dikembangin?".
Aku gak tau kalau dia pernah baca blog ku ini dan juga orang-orang lain yang ternyata juga pernah baca blog ku, kalau bukan mereka bilang ke aku (Yaiyalah :|). Dan respon aku selanjutnya yang mereka gak tau adalah cengesngesan ngetawain tulisan ku yang menurut ku proyeksi dari pikiran ku yang random ini. Hahaha.
Ada satu temen lain yang juga line aku siang ini. Pendek cerita, apa yang dia omongin adalah komunikasi kita berdua yang udah banyak berubah. Aku yakin hal semacam ini juga pasti pernah dirasakan oleh 100juta umat lain di dunia ketika intensitas, cara, dan isi komunikasi kita dengan orang lain tidak lagi sama seperti sebelumnya. Mungkin menjadi lebih jarang mengirim pesan singkat, menjadi lebih sulit untuk mencocokkan jadwal kosong untuk bisa bertemu atau bisa jadi dalam level hubungan yang lebih dekat ada beberapa hal yang sebelumnya selalu bebas dibicarakan kini berkurang bahkan tidak pernah dibicarakan. Perubahan pasti memberi dampak pada lebih dari 1 pihak, tapi mungkin hanya 1 pihak yang menimbulkan ketidaknyaman.
"The most important thing in all human relationships is conversation, but people don’t talk anymore, they don’t sit down to talk and listen. They go to the theater, the cinema, watch television, listen to the radio, read books, but they almost never talk. If we want to change the world, we have to go back to a time when warriors would gather around a fire and tell stories."
— Paulo Coelho,
Hahaha sebenernya disinilah challenge kita. Challenge dimana kita harus mulai bisa untuk mengeliat segala sesuatu itu dari sisi kedua belah pihak.
Buat beberapa orang, pasti lebih gampang untuk melihat orang yang berubah sebagai pihak yang diuntungkan. Akhirnya banyak omongan dibelakang yang kita buat-buat supaya perubahan itu terlihat masuk akal dari sisi yang dirugikan.
"Ah dia pasti ngelakuin itu karena blablabla, dia egois"
Padahal untuk menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengeksekusi juga bukan perkara mudah. Ada ego yang harus diluruhkan, ada keinginan pribadi yang harus dikesampingkan, dan pastinya ada keberanian menanggung risiko yang belum tentu kita punya. Emang sih pada beberapa case yang sangat krusial atau mendasar atau apapun itu istilahnya, membuat keputusan sebaiknya bisa di share dengan pihak lain, ya siapapun itu bisa pasangan, teman, orang tua, bahkan senior kita, sehingga tidak ada sebutan "pihak yang dirugikan". Harusnyaaa...
But as we grow older and wiser, we try to understand that we can't control anyone. Yet that one might think about having no responsibility to share any little thing due to his/her personal consideration. Yang mungkin kita lupa batas kebebasan kita secara individu, adalah adanya kebebasan dari individu lain yang berdampingan.
Satu hal yang bisa kita kontrol adalah pikiran kita sendiri dan perilaku kita. Ada satu novel yang judulnya Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere Liye, yang isinya banyak mengingatkan kita bahwa di dunia ini banyak hal yang kita tidak tahu dan memang kita dilindungi dari keterbatasan akan pengetahuan kita. Di satu sisi kita belajar arti dari berusaha, berusaha untuk jadi mencari tahu, akan tetapi di sisi lain kita belajar arti dari keikhlasan, menerima apapun hasil dari usaha kita.
Last but not least, tulisan ini semoga sejalan dengan judul blog Behind The Scene itu sendiri ya hihihi. Sesekali kita coba tengok dibalik tawa orang disamping kita, mungkin dia bukan sedang bahagia tapi dia sedang lelah dan stress, hati-hati ntar ditawarin magic mushroom :p
Goodnight :D
No comments:
Post a Comment