..well, postingan ini mungkin yang aku tunggu untuk aku bikin.
Belakangan ini semenjak aku mulai suka share picture di instagram bertemakan anak-anak dan tersynchronize juga ke facebook, teman-teman suka komentar seperti ini :
"Hen, itu acara apa? Dimana? Kayaknya asik"
"Lo ikut Indonesia Mengajar ya, Hen? Orang kayak lo emang mau ke pelosok-pelosok gitu?"
dan yang paling kocak ketika ada temen yang bilang
"Itu anak-anak asuh kamu ya? Kamu jadi ibu asuh?"
tanpa pikir sama sekali aku langsung jawab
"Bukan ibu, tapi tante asuh. Belom bisa ngasih asi soalnya"
terus kita berdua ketawa, lebih tepatnya dia ngetawain jawaban ku, aku ngetawain diri sendiri"
Buat aku pribadi, kenal atau mungkin sebatas tau, anak-anak rumah belajar di daerah Rawamangun ini seperti membuka banyak pintu yang selama ini aku tidak pernah mau tau. Mungkin banyak diantara teman-teman yang waktu kecil dulu sama seperti aku, tidak diperbolehkan orang tua untuk bermain dengan teman sekitar tempat tinggal. Dulu pun aku nggak pernah ambil pusing, karena aku puas bisa bermain segala permainan di sekolah yang notabene sekolah favorite Jakarta, jadi sampai di lantai 3 gedung sekolah masih ada tempat bermain mirip dengan suasana pantai. Sesampainya di rumah pun, aku bisa bermain sendiri, atau dengan adik, dengan mainan-mainan yang tidak ada habisnya. Ini bukan maksudnya sombong lho. Begitu terus keseharian sampai usia Sekolah Dasar, mulai bisa bertanya sana-sini, dan a ku masih ingat rupanya saat itu pun aku tahu banyak teman sekolah yang tidak punya teman bermain di rumah karena dilarang juga oleh orang tua. So, pikir ku saat itu mungkin, I'm on the right track!
Tapi sampai saat ini aku juga nggak pernah menyalahkan anjuran orang tua dulu atau alih-alih menganggap bahwa tetangga aku itu berada di jalur yang salah. Melalui Rumah Belajar Rawamangun inilah pintu yang tadinya tertutup, pelan-pelan terbuka (eeaaaaaaa....~)
Sebenarnya sebelum Rumah Belajar Rawamangun ini aku juga sempat aktif di Taman Baca Rumah Perubahan atau kegiatan sosial edukasi lain. Akan tetapi, truth to be told, kondisinya jauh berbeda dengan di Rawamangun. Tugas pertama yang aku harus jalani begitu ambil bagian di Rumah Belajar Rawamangun ini adalah menahan reaksi atau ekspresi spontan kalau ada hal-hal yang tidak biasa ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan ternyata banyak :|| banget :||||. Di psikologi ada istilahnya yaitu epokhe *), jadi jujur saja, hari pertama ke sana, keliling ke rumah warga, aku terus mengulang-ngulang kata epokhe di kepala aku, aku nggak mau warga setempat jadi tersinggung atau resisten terhadap orang baru yang dianggap tidak punya sopan santun.
Di sini lah aku benaran melihat dari dekat bahkan masuk ke rumah yang kondisinya menurut aku tidak sehat huni, tidak ada jendela keluar, pengap, gelap dan kotor. Satu rumah masih dihuni oleh 3-4 kepala keluarga. Rasanya nggak habis pikir, "Kok bisa?". Ya faktanya seperti itu. Akan jadi panjang kalau ditelaah jawaban "Kok bisa?" ini. Kembali lagi, titik yang coba disentuh yaitu pendidikan anak.
Gampangnya "Itu anak gimana mau belajar kalau gitu lingkungannya? Mau belajar, belajar apa?".
Jangan sekali-kali bayangin anak-anak ini mirip seperti Daehan, Minguk, Manse di drama series Korea yang wangi, bersih, dan lucu-lucu. Salah satu warga di sana pernah ada yang cerita, "Mereka bisa datang ke kalian, bilang mau belajar, tapi belom mandi, masih bau apek. Tangannya mungkin kotor-kotor karena habis mainan di tanah atau pasir. Mungkin datang-datang ngerengek sambil nyedot ingus di depan kalian, garuk-garuk kepala terus ternyata kalian liat sepintas rambutnya memang kutuan. Saya bukan nakut-nakutin, tapi ya itu sangat mungkin terjadi dan kalian ya harus siap, masa mau jijikan?"
Aku cerita di sini juga bukan berarti menjelek-jelekan anak-anak Rawamangun, tapi itu fakta yang sebenarnya kita juga sering lihat bukan cuma di Rawamangun. Di perempatan lampu merah, pernah lihat boneka joget-joget gak jelas kan? Ya itu juga anak-anak. Anak jalanan, anak terminal, anaknya artis, anaknya presiden atau anak manapun bahkan anak dengan kebutuhan khusus alias ABK konteks tetap anak. Jadi harus diperlakukan sama selayaknya anak-anak.
Di luar konteks Rumah Belajar Rawamangun, aku juga ingat perkataan salah seorang dari Indonesia Mengajar, "Salah satu indikator seorang individu dikatakan dewasa adalah ketika individu tersebut bisa melakukan fungsi reflektif. Artinya dia mampu menemukan makna positif dari kegiatan apapun yang dia lakukan atau kejadian apapun yang menimpanya."
Jadi apa reflektif yang kamu rasakan setelah 3 bulan di bermain di Rumah Belajar Rawamangun?
Bagi aku pribadi yang dari awalnya merasa was-was untuk bisa masuk ke sana, merasa perlu menchallenge diri sendiri untuk bisa fokus dan komitmen, sangat berkesan melihat semangat anak-anak yang selalu penuh. Berapa kali dari kita ini pernah mengeluh "Duh jadi anak-anak lagi enak kali ya...". Malu, kalau kalah semangatnya dibanding mereka. Mereka jam 9 pagi bisa sudah siap untuk belajar. Pertanyaannya siapa yang mau bantu mereka belajar jam 9 pagi diakhir pekan ketika pilihannya dibandingkan dengan santai nonton TV di rumah?
Lagi-lagi omongan orang lain aku kutip, temen dari Indonesia Mengajar yang aku gak ingetnya namanya bilang gini, "Lo rasain deh ngumpul bareng orang-orang yang hobby travelling sama orang-orang yang suka sosial volunteer itu frekuensinya beda. Beda banget"
So guys it's your call :)
*) Epokhe : describes the theoretical moment where all judgments about the existence of the external world, and consequently all action in the world, are suspended.
No comments:
Post a Comment