Saturday, January 23, 2016

Kata Untuk Perempuan

Have you consider for doing something that you really interest in but at the other hand it will push you to go accross the rules?

I have did! And it's pretty amazing experiences, allow me to share you the story ya :D

*push the subtitle botton*
*turn it to Bahasa Indonesia*

Kakak senior di kampus dulu yang paling deket sama aku itu namanya Mega Tala Harimukthi atau biasanya aku panggil Kak Tala. Kak Tala ini selain kakak yang super kakak-able, dia juga aktif di dua organisasi Forum Indonesia Muda dan Indonesia Mengajar. Singkat cerita, hasil ngintilin Kak Tala hari itu, aku jadi punya 2 temen baru Kak Maya Rumpe dan Yulaika.

Kemajuan teknologi berwujud aplikasi Instagram, sangat membantu kita untuk dapat informasi jauh lebih cepat. Yulaika yang ternyata aktif di Instagram, baru saja memposting foto pada saat workshop Kata Untuk Perempuan bersama Ika Vantiani. Di fotonya itu Yula bersama dengan beberapa perempuan lain sambil memegang hasil karya kolase mereka masing-masing.

Langsung aku tab akun instagram @katauntukperempuan di postingan itu dan mendirect ku ke halaman instagram yang berisi sejumlah foto kolase bertema perempuan. Di salah satu fotonya aku baca apa maksud dari kolase-kolase itu. Menarik! Pilihan workshop selanjutnya yaitu tanggal 13 Desember (kalau tidak salah) dan Januari pada saat event Jakarta Biennalle. Dengan pertimbangan venue yang dekat dari kantor pada tanggal 13 itu, aku langsung daftar ke Mba Ika, walaupun hari itu adalah HARI KERJA. Hari kerja di tengah minggu dan workshop mulai dari jam 17.00. How come???

Tekat ku bulat pada saat itu, ya nggak bulet2 amat, karena aku juga belum memutuskan apakah akan cuti atau pulang cepet. Kalau cuti pun terlalu mepet dan pekerjaan sedang banyak, pasti gak diapprove. Option selanjutnya pura2 sakit. Sejauh ini sakit alasan paling aman kalau kamu mau tiba2 gak masuk untuk alasan yang gak mungkin kamu jujur. Apalagi kamu sendiri di bagian HR (susah kalo mau ngibulin temen sendiri). Hehehe. Tapi akhirnya opsi yang win-win solution menurut ku adalah izin pulang cepat!

Segitunya Hen?

Iya harus segitunya, aku cuma mikir kalo nggak sekarang kapan lagi? Kesempatan gak datang dua kali dan kalau nggak begitu caranya, aku ngerasa aku gak pernah keluar dari lingkaran pekerjaan dan ngelakuin apa yang kita suka.

Keluar kantor jam 16.00 aku perhitungkan lebih enak naik gojek dibanding kendaran umum karena harus pindah 2 kali dari arah Senen ke Taman Ismail Marzuki. Ditambah jalan yang macet karena jam pulang kantor. Ralat: Bukan Taman Ismail Marzuki tapi Institut Kesenian Jakarta. Aku pernah ke TIM tapi belum pernah ke IKJ. Maksud ku, aku gak pernah tau dimana Gedung Kampus IKJ. Orang-orang pasti aware kalau aku bukan orang sana, istilahnya saltum dan salmuk. Hahaha.

Oh well, if you might asking what did I say to my superior or even my partner, feel free to guess what..

Ya sudah akhirnya karena kelamaan nyasar, pas aku nemuin ruangannya Mba Ika sudah mulai bercerita. 

Apa sih yang dilakuin selama workshop "Kata Untuk Perempuan"? 

Di papan tulis Mba Ika nulis, bahwa setiap orang diminta memilih satu kata yang pop up untuk mendeskripsikan perempuan. Pilihan katanya bebas, konotasi ataupun denotasi, positif ataupun negatif. Setelah itu, kita kreasikan kata tersebut dalam bentuk kolase diselembar postcard putih.
Di halaman belakanganya, kita ceritakan apa makna kata tersebut bagi kita. Alat dan bahan kolase, seperti gunting, lem, majalah-majalah bekas, dan kertas beraneka motif semua disiapkan Mba Ika dan teman-teman dari IKJ.

*DUAAARR*

Dan aku masih belum memutuskan kata apa yang tepat. Buka-buka majalah, tengok kanan kiri. Malah akhirnya satu mahasiswa IKJ nyeletuk, "Kak, kalo mau bikin kolase, majalahnya jangan dibaca isinya". Hahaha dia bener dan mba Ika juga ketawa, "Iya itu kebiasaan pasti, apalagi kalau majalahnya Bazaar". Workshop itu pun diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang kolase dan tentang perempuan itu sendiri.
Kolase Workshop Kata Untuk Perempuan

What I'm trying to sum up is..

Sampai hari ini banyak kata-kata yang maknanya jadi berubah untuk dan secara langsung atau tidak berkaitan dengan perempuan. Misalnya, mbak, mbak ini dalam bahasa Jawa adalah panggilan untuk perempuan yang kalau dalam urutan keluarga lebih dituakan (kakak perempuan), panggilan mbak juga digunakan untuk sapaan perempuan umum yang kira-kira usianya masih sepantaraan dengan kita. Tapi coba ketika mbak ini ditambah jadi mbak-mbak, "mukanya mbak-mbak banget". See that?

Contoh lain, tante-tante. Bahkan salah satu peserta workshop ada yang menuliskan dapur, hanya karena pada saat lomba 17an di rumahnya, Pak RT mengatakan bahwa "peserta lomba memasak adalah ibu-ibu muka-muka dapur".

Ada banyak kata lain yang dipilih peseta. Drama, karena perempuan suka "drama", padahal arti kata sebenernya dari drama adalah salah satu bentuk opera seni. Yasui, yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti murah, maka segala sesuatu akan lebih murah karena wanita bisa dikaryakan, mencuci, memasak.


What's the best words to describe this workshop?

AMAZING!!

Monggo langsung dicek instragram @katauntukperempuan :D 

No comments:

Post a Comment