Wednesday, February 10, 2016

We are what the people thought we are - Review awam Mr. Robot

Beberapa hari yang lalu aku dan teman dekat ku itu sempat debat mengenai apa sebenarnya manfaat dari sosial media. Di antara temen-temen deket ku, dia mungkin satu-satunya yang bertahan tidak punya akun path ataupun instagram, sedangkan orang lain hampir dipastikan punya keduanya atau paling tidak salah satunya.

"Ada manfaatnya gak punya socmed buat aku? Buat pamer doang? Lagi disini lho, lagi makan ini lho? Pergi kemana update, foto apa update?"

Kebanyakan refleks yang muncul "Ya itu kan tergantung sudut pandang kita aja yang ngeliatnya. Kalau ada temen yang jalan-jalan apa terus kita ngerasa insecure karena gak bisa jalan-jalan?". Sampai disini aku setuju dengan bagaimana kita membangun persepsi yang tidak bergantung pada kecendurungan persepsi umum. Bahwa liburan harus jalan-jalan, yang di rumah saja itu cupu.

Aku juga pernah baca review di Playstore soal Path itu sendiri yang menurut ku cukup menohok. Isinya kalau di-bahasa-Indonesia-kan jadinya begini :

"Ini adalah aplikasi dimana kalian bisa mengisi lembar catatan kehidupan sehari-hari kalian (diary) dan dilihat banyak orang. Downloadlah kalau kalian suka!" 

Kalau sebelumnya kita melihat Path dari sisi pengguna pasif (yang cuma scroll-scroll-scroll tapi terus jengkel karena updatean temen), pendapat ini mewakili kaum yang suka mengunggah sesuatu, bisa jadi aktivitas sehari-harinya, kesukaan dan ketidaksukaanya terhadap karya seni, sosok manusia, barang yang dimilikinya, pendapat atau pemikirannya terkait fenomena. Sadar atau tidak, kegiatan inilah yang disebut dengan memberi makan pada ego. 

We are what the people thought we are

Setiap ego mempunyai makanan terbaiknya masing-masing, tapi pada dasarnya setiap ego ingin "bahagia". Ingat prinsip Id dari Sigmund Freud? Dorongan naluriah akan kesenangan, pemenuhan kebutuhan primer. Di social media menunya adalah kita "senang" kalau orang tau betapa padatnya rutinitas setiap hari, "senang" kalau orang setuju dengan apa yang kita juga suka, pun kita "senang" kalau orang turut bersedih dengan kesulitan yang menimpa kita.

Jennifer Crocker, seorang psychologist dari Michigan University juga menjelaskan "contingent self esteem" penilaian positif terhadap diri sendiri bergantung dari anggapan orang lain terhadap diri kita atau dari pujian dan pengakuan orang akan hal-hal tertentu (significant event) dalam hidup yang juga kita anggap penting. Menurut Crocker, penilaian orang lain dapat menumbuhkan positivisme dalam diri kita meskipun tidak akan berlangsung lama.


"Maaf nih lagi gak bisa update, lagi liburan kemaren ke Zimbabwe, semoga rejekinya nambah terus, bisa jalan-jalan lagi" (seen by 2.393.499 friends)


Review awam serial Mr Robot. 
Mild spoilers ahead.

Bicara soal mengcopy-paste real life kita ke dalam account di media online, serial yang baru-baru ini aku tonton, Mr. Robot, menggambarkan bagaimana kepribadian kita bisa dibentuk dari apa saja yang ada diupload ke socmed.

Serial ini yang dibintangi oleh Rami Said Melek. Kalau kalian tanya Rami Said Melek, sama aku pun gak kenal. Hehehe. Awalnya temen ku yang ngerekomendasikan film ini. Film ini menceritakan seorang hacker bernama Elliot yang super cerdas bekerja di cyber security firm tapi juga punya gangguan psikologis yang kompleks.

Elliot tumbuh menjadi anak muda yang menyimpan kekecewaan yang besar terhadap dirinya sendiri akibat pengalaman tidak menyenangkan di keluarganya. Ketidakmampuannya untuk menyelesaikan internal problem dalam dirinya ini dipendam hingga dia dewasa. Serial ini juga diisi oleh banyak narasi dari sudut pandang Elliot "yang lain" yang mana buat ku pribadi menjadi daya tariknya.

Gangguan mental yang dimiliki Elliot membuatnya sangat tertutup dengan orang disekelilingnya. Ketakutannya untuk disakiti, merasa kesepian adalah hal yang mendorong Elliot mewaspadai setiap orang yang sering bersentuhan di kesehariannya. Cara dia mengenali lawan bicaranya yaitu melalui sosial medianya, mengamati intereksi mereka di dunia maya, foto-foto yang diupload, life records, dan juga menerabas masuk ke personal email. Informasi-informasi tersebut ditelaah Elliot untuk ditarik kesimpulan tipe kepribadiannya.

Dalam serial ini, data-data personal tersebut digunakan Elliot sebagai dasar untuk "menolong" orang yang bersangkutan, "menolong" orang banyak, dan "menolong" dirinya sendiri. Perasaan ketakutan disakiti yang kerap menghantuinya secara berlebihan diproyeksikan menjadi kemarahan yang berlebihan pada orang bertindak tidak adil, kaum kapitalis. Compulsive disorder.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang, menggali infomasi seseorang melalui sosial medianya, mungkin sudah sering kita jumpai. Penggunannya bisa untuk kepentingan seleksi pekerjaan, pengungkapan kasus kriminal, ataupun kepo-kepo gebetan, mantan gebetan, mantan pacar, pacarnya mantan, atasan di kantor, artis, sok artis, siapapun.

Intinya, bukan melarang penggunaan social media, tapi membatasi. Pentingkah untuk semua orang tahu? Haruskah kita merespon segala topic, just for the sake of peer pressure? Are we trap in our teenage drama?

Semoga kita semua dilindungi dari kesia-sian.
Have a fruitful day :D






Further info and related link:
1. Q&A dengan penulis Mr.Robot
2. What's compulsive disorder?
3. The Boom and Bust Ego




No comments:

Post a Comment