Sunday, August 14, 2016

Emotionless

This word also represent my thought of a woman, my another Kata Untuk Perempuan.

Sudah lebih kurang satu tahun ini nenek aku tinggal di rumah. Berawal dari kondisi sehat-sakit-sehat-dan terus berputar sampai hari ini. Tinggal bersama orang tua, khususnya yang sudah lanjut usia, buat ku sendiri ya gampang-gampang susah. Ada banyak drama, drama, dan drama seiring waktu. 

Bukan foto eyang aku, tapi foto Mbah Kani.
Tinggal sebatang kara di gubug di Desa Pujon Kidul,
Semakin lanjut usia, tingkah laku bahkan bisa jadi semakin kembali seperti anak kecil. Katanya... Manja, selalu minta diladenin, cari perhatian. Eyang (panggilan aku ke nenek) suka dengerin radio. Semenjak kakinya sudah tidak bisa dipakai jalan normal, aktivitasnya jadi sangat terbatas.

Pagi sekitar jam 05.30 aku suka dengar dari kamar ku, kalau eyang sedang ganti-ganti channel radio. Tapi setiap pagi juga eyang akan menyeringai bahagia begitu aku datang ke kamarnya, meminta aku menggantikan channelnya karena ia bilang ia tidak bisa. Memintaku tidak usah ke kantor. Tidak usah kemana-mana. Memintaku menyalakan setiap lampu di rumah. Meskipun. Masih. Pagi.  

Sebenarnya perilaku kekanak-kanakan itu kalau kita nalar dengan akal jernih akan menjadi make sense, fisik yang melemah, kemampuan indra yang menurun, kesepiandan lain-lain. Dan semua itu alami, bukan dibuat-buat.

Setiap hari aku masih harus selalu ngingetin diri sendiri dengan nasehat-nasehat positif. "Itu orang tua, dulu kita kecil juga mungkin sama ngerepotinnya. Kita harus baik sama orang tua, kalau kita nanti jadi tua juga gak mau kan ditelantarin anak. Kita harus sabar, sabar, kalau marah atau kesel itu dosa"

Sampai akhirnya aku mikir sendiri, "Memang sabar itu apa? Kenapa jadi gak boleh ada perasaan atau emosi? Emang cuma perempuan yang gak boleh? Kok gitu.." 


Perempuan itu harus sabar. Tapi bukan berarti gak punya emosi. Karena pada dasarnya perempuan diciptakan dengan perasaan lemah lembut. Mudah tersinggung Jadi, perempuan (dan jenis kelamin lainnya) harus tau bagaimana mengelola emosi dirinya dengan cepat. Sebelum meledak-ledak, dan dicap sebagai gak sabaran atau cengeng. 

Perempuan itu gak boleh gampang marah. Tetapi sebenarnya marah atau amarah adalah salah satu bentuk emosi. Sebagai manusia normal, pasti punya tendensi perasaan marah. Cuma dengan bertambah dewasanya perempuan (juga laki-laki) harus paham bagaimana cara meregulasi emosi. Jadi bukan artinya tidak boleh marah, tapi gak boleh melampiaskan amarahnya.

Pada pengertian awam, emosi memiliki makna yang negatif. Emosi digambarkan dengan perilaku marah, treak-treak, banting-banting pintu, dsb. Akhirnya banyak judgement, "Emosian amat jadi orang. Sabar dikit kek"
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak ata merespon stimulus.
Pembahasan Aristoteles mengenai kehidupan emosional manusia, dalam buku Emotional Intellegence karya Goleman
Tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).  
Menurut ajaran agama Islam pun, marah diartikan sebagai suatu perangkai buruk, apalagi marah yang dipicu oleh hawa nafsu keduniawian, sehingga menahan amarah adalah sebuah kunci kebaikan.
Ada seseorang datang menemui Nabi Muhammad SAW seraya berkata, "Wahai Rasullah, berilah aku wasiat." Maka Rasullah SAW bersabda, "Janganlah kamu marah." Beliau mengulanginya berkali dengan berkata, "Janganlah kamu marah." (HR. Bukhari 6116, Ahmad 2/362)
Dari hadist tersebut bisa dipahami bahwa menahan amarah adalah sesuatu yang sangat penting walaupun sulit dilakukan, karena itu Rasullah menekankan berkali-kali dalam wasiat.

Well, aku sendiri pun bukan orang yang segitu sabarnya, masih kadang segitu keselnya.
Semoga kita semua lebih bijak dengan diri sendiri

Happy weekend! :D



References :
1. Instagram account @cakbudi_ penggiat kepedulian terhadap lansia di Malang, Jatim
2. Belajar Psikologi : Pengertian Emosi
3. Islam Pos : Keistimewaan menahan amarah

No comments:

Post a Comment