Dalam hidup ada mungkin beberapa hal sederhana yang ditakuti dan mengganggu, seperti serangga, hantu, ketinggian, kegelapan, ataupun pada benda-benda yang tidak hidup. Saya tidak takut pada benda-benda seperti jarum, tapi saya bisa langsung pucat pasi melihat luka yang berdarah.
Di sisi lain saya juga ingat, dulu ketika masih SMP saya pernah takut menyebrang di jembatan penyebrangan, sedangkan sekarang rasanya malah malu kalau menyebrang sembarangan. Jadi saya menganggap, rasa takut itu harus dilawan, dan kalau dulu saya bisa berati saya memang bisa.
Ketakutan saya dengan darah ini yang agaknya paling unik. Saya penggemar serial TV yang berlatar kehidupan di rumah sakit, House dan Grey's Anatomy. Sudah tentu selalu setiap episode menayangkan tindakan operasi, kadang 'mengutak-atik' paru-paru, jantung, bahkan otak. Saya suka karena saya melihat makna tersirat dalam setiap keputusan, kebijakan, perjuangan, dan pengorbanan yang dilakukan dokter, perawat, pasien, juga keluarga pasien, yang membuat saya tidak pernah bosan.
Ketakutan saya dengan darah juga, menurut saya, tidak seharusnya. Toh jelas saya ini perempuan, walaupun belum pernah melahirkan, tapi saya setidaknya mengeluarkan darah menstruasi setiap bulannya, juga kadang dengan rasa melilit di perut. Lalu kenapa ketika teman saya yang berteriak-teriak panik karena tersayat silet, saya tidak bisa hanya diam saja melihat jarinya keluar banyak darah, saya bantu dia entah bagaimana supaya tidak lagi berdarah. Akan tetapi setelah itu saya juga tidak bisa tidak mendadak pusing, hingga saya menyenderkan tubuh saya tempat tidurnya sebelum tiba-tiba saya jatuh pingsan di kamarnya.
Ini yang membuat saya bertambah yakin bahwa saya harus bisa melawannya. Saya pikir, apa sih yang paling menakutkan dari peristiwa berdarah'? Sengaja melukai diri hingga berdarah? Keluar banyak darah? Ya, donor darah memenuhi semua kriteria itu, tetapi tetap aman.
Setelah sekian tahun berlindung dari ketakutan untuk mendonorkan 350cc darah, sekian tahun hanya berjanji pada diri sendiri, "ya saya harus coba, saya harus coba", kemarin saya menekankan bahwa "hari ini saya benar-benar akan mendonorkan darah saya".
Pagi berganti siang, hingga langit mulai berwarna jingga dan suara anak-anak yang mengaji terdengar dari pengeras suara mesjid, saya masih asik di depan laptop dengan headset terpasang di telinga, lupa bahwa saya punya janji. Entah apa yang semesta rencanakan ketika melihat saya saat itu, saya harusnya malu sekali padanya.
Di depan mata saya tertulis dua baris pemberitaan bahwa ada seseorang ibu yang setelah operasi, ia mengalami pendarahan sehingga membutuhkan darah golongan A. Stok darah di PMI selama bulan puasa bisa nyaris kosong. Lokasi PMI Pusat dekat dengan rumah saya, hanya sekitar 20 menit.
Saya manusia biasa, yang katanya lumrah kalau punya rasa takut. Terus sekarang saya harus bagaiamana, mau apa, mau pura-pura tidak tahu, tidak pernah membaca berita itu. Saya menimbang-nimbang. "Ah pasti banyak yang golongan A yang juga membaca". "Ah kok saya memaksakan diri sekali, ini hampir buka puasa". "Ah kalau saya kesana sekarang pun, ah apa tunggu maghrib dulu ya". "Ah.....apa lagi alasan saya..."
Sudah lakukan saja. Sekarang. Tidak bisa menunggu nanti
Begini lah saya sekarang, dengan tangan kanan masih ditempel handsaplast dan kapas, menulis cerita ini. Saya tadi sempat pusing dan pucat sesaat saya beranjak dari tandu tempat pendonor merebahkan tubuhnya. Untung ada perawat yang melihat. Itu sisi kecupuan saya yang harus diterima sepertinya ya.
Di luar hal-hal pribadi itu, tadi saya berkenalan dengan ibu Tina, anak dari ibu Suprapti yang saat ini masih dalam kondisi koma pasca operasi kista, yang mudah-mudahan bisa menerima darah dari saya. Sejak Februari, saat ibu Tina baru melangsungkan pernikahannya dengan pak Fauzi, ibunya didiagnosis kista. Setiap hari ibu Tina bolak-balik ke RS. Persahabatan menunggui ibunya. Raut mukanya sudah lelah sekali.
Apa saya sendirian yang mendonorkan darah? Tentu tidak, pendonor untuk Ibu Suprapti bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Depok menggunakan KRL, anak muda juga, perempuan. Dua yang lainnya datang dari Bekasi dan Jonggol. Luar biasa sekali! Apa sebelum hari ini kami saling kenal? Itu sama sekali tidak penting.
Sambil menunggu ibu Tina tadi juga saya sempat mengobrol dengan petugas PMI:
- Jumlah pendonor darah masih jauh dibandingkan penerima donor yang butuh darah, ditambah juga bahwa setiap penerima belum tentu hanya butuh 1 kantung bisa lebih dari itu. sementara pendonor hanya bisa memberikan 1 kantung.
- Kalau kamu adalah pendonor rutin, katakan demikian pada petugas. Kecuali kalau kamu datang untuk mendonorkan darah pada seorang pasien, pastikan kamu tahu namanya dan asal rumah sakit, dan pasien tersebut telah didaftarkan sebagai penerima darah. Kalau data pasien belum ada, darah mu akan diberikan sesuai urutan data pasien yang sudah masuk terlebih dahulu.
- Persentase golongan darah AB hanya 7 %, golongan A 15 persen. Jadi sebagian besar manusia bergolongan darah B dan O.
- PMI Pusat buka 24 jam
Kalau ini pesan dari saya:
- Tidak apa kalau kamu pusing atau pucat begitu selesai donor, karena saya juga. Jadi kamu bukan orang pertama, ada saya. Ya mungkin saya juga bukan orang pertama, jadi yaudah terus kenapa.
- Karena saya sudah tau saya mungkin akan lemas, pusing, pucat setelah donor, saya harus bawa roti atau coklat, kalau perlu nasi ayam. Hahaha. Some cool doctor won't help, I guess.
- Tidak apa kalau kamu takut pada segala hal yang kamu lakukan pertama kali. Itu kamu sedang melawan benteng-benteng di dirimu sendiri. Maju terus. Selesaikan langkahmu.
- Tidak apa kalau melakukan hal pertama ini karena kondisi yang mendesak atau bahkan dengan tujuan-tujuan tertentu, karena setelahnya kamu sudah merasa aman atau setidaknya bisa menimalisir risiko yang akan kamu hadapi. Contohnya dengan membawa nasi ayam untuk saya haha. Berbuat baik itu juga harus kita latih, pada saat yang sama semesta juga akan terus mengasah empatimu.
- Lakukan sekarang.
- Jika trauma saya berlanjut, tolong bantu saya menghubungi psikolog atau psikiater terdekat.
Oiya sepulang dari PMI, saya juga menonton Grey's Anatomy 7 episode 11 [link]. Saya sarankan kamu juga tonton, supaya kamu tahu bahwa dalam kondisi apapun jangan merasa bahwa kamu saja yang sedang berjuang, berkorban, atau pun terluka, tapi juga orang-orang di sekelilingmu, dan sebaiknya kamu sadari itu. Di episode itu, keluarga-keluarga yang sedang menunggu di luar ruang operasi apa mereka tidak berjuang, tidak terluka? Apa hanya dokter yang mengorbankan waktunya untuk orang lain? Apa hanya pasien yang berjuang bersisian dengan kematian agar tetap hidup? Semua juga merasakan yang sama.
Ada satu PR lagi nih, saya juga masih merasa insecure nih nonton film di XXI sendirian :')
Terima kasih Mba Silly (@justsilly) :')
No comments:
Post a Comment