dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
***
Tidak ada yang lebih sabar dari hujan bulan Juli
ditunggunya peluh berhenti membasahi dirinya yang telah kering.
Juli sudah berakhir, sudah lewat dua hari. Manusia-manusia itu selalu mengingatkan saya tentang berapa banyak waktu yang sudah terlewatkan. Namun Juli memberi saya banyak pengalaman dan pelajaran yang saya kenang.
Juli identik dengan pertemuan baru dan pertemanan baru. Berawal dari sebuah pagelaran musik dan bincang-bincang mengenai anak-anak dengan disabilitas, saya berkenalan dengan beberapa orang baru yang sungguh menyenangkan. Orang-orang ini kemudian menjadi sering bertemu kembali di kegiatan-kegiatan sosial selanjutnya tanpa kami ada perjanjian sebelumnya. Saya pun menjadi akrab dengan kegiatan seperti ini, selain tujuannya kontribusi sosial, saya senang mengalami proses dimana saya datang tidak kenal dengan siapapun lalu meninggalkan suka cita dan susah payah di dalamnya dan memulai lagi perkenalan lagi dengan yang lain.
Saya senang bertemu orang baru. Sekedar basa-basi mengobrol sambil menunggu sesuatu atau seseorang, tertawa akan hal konyol di sekitar kita sembari menyantap makanan, ataupun berbagi cerita dan pengalaman. Dengan anak-anak yang tuna rungu dan tuna wicara, dengan penyapu jalanan di Grogol, adik-adik dekat rumah yang tidak disekolahkan oleh orang tuanya, juga dengan teman-teman social angels. Tidak ada kata kecewa. Seperti mengambil dadu secara acak, ya ambil saja, tidak tahu angka berapa yang akan keluar, itu dadu yang akan kita mainkan. Tentu berbeda ketika kita bermain di sebuah permainan lama, menyangka bahwa kita sudah tahu seperti apa permainan akan berjalan, nyatanya tidak.
"Bermain" di rumah orang lain juga mengajari saya untuk tetap melanjutkan 'permainan' apapun alasannya dan bagaimanapun saya pikir ini berakhir. Saya harus tahu kapan menuruti aturan, kapan memberikan pertimbangan lain, karena toh saya cuma 'tamu'.
Di bulan Juli juga ada panggilan-panggilan yang "mengetuk" seperti panggilan untuk melawan daftar hal-hal yang saya takuti, memenuhi mimpi-mimpi sederhana yang hampir usang di rak ingatan. Teman saya baru saja berangkat ke Korea menjadi volunteer (@inauno), mewujudkan dua mimpinya sekaligus. Dua teman yang lain kabarnya akan mendaftar sidang skripsi mereka. Mimpi saya dimulai dari hal yang sederhana, misalnya bulan Agustus nanti saya akan mengunjungi museum-museum bersejarah di Jakarta dengan teman-teman dari sebuah komunitas. Saya mungkin akan mengajak adik dari perkampungan di belakang rumah. Mimpi harusnya bukan hanya tentang diri sendiri, juga tentang orang banyak.
Oiya bulan Juli juga membawa saya pada kata "pulang". "Pulang" pada keluarga yang saya tinggalkan merantau bertahun-tahun. Kembali menemani ibu saya tidur setiap malam :D
Oiya bulan Juli juga membawa saya pada kata "pulang". "Pulang" pada keluarga yang saya tinggalkan merantau bertahun-tahun. Kembali menemani ibu saya tidur setiap malam :D
Pesan saya di bulan Juli untuk saya di Agustus :
Jadilah saya yang terbaik, bukan jadi babi hutan ataupun kera
Jadilah saya yang terbaik, bukan jadi babi hutan ataupun kera
No comments:
Post a Comment