Saya suka sekali memperhatikan orang lama-lama. Menangkap setiap gerakannya juga ekspresi wajahnya, bahkan sampai orang tersebut sadar sedang ada yang memperhatikannya. Teman saya sering mengingatkan saya kalau cara saya menatap memang terlalu dalam. Tetapi teman saya yang lain ternyata punya kebiasaan yang sama, jadi saya tidak perlu khawatir.
Saya rasa memperhatikan orang lain itu asik. Dalam situasi yang apa adanya, kita bisa melihat bagaimana orang memberikan respon spontan. Kadang orang tidak terlalu perhatian padahal perilaku kecil itu cukup bisa menunjukkan sikap yang sebenarnya dari individu tanpa dibuat-buat. Misalnya dalam keadaan diburu-buru, akan terlihat siapa yang langsung panik, siapa yang mampu meredakan situasi. Wajah orang yang juga sedang bengong pun kemudian tiba-tiba tersenyum begitu melihat layar hpnya saja bisa terlihat menarik.
Beberapa orang memang tidak pandai menutupi kondisi dirinya sehingga semuanya tercermin langsung di wajahnya. Wajah, tatapan mata yang kosong adalah yang saya yakini bahwa itu lebih jujur dibanding mulut yang banyak bicara tapi melantur. Kalau sudah begitu, biasanya diikuti gerakan-gerakan khas seperti mengusap-usap kepala, tertawa terlalu sering padahal tidak ada yang begitu lucu. Agaknya aneh, kalau beberapa orang lebih mudah mengenali kondisi orang lain, dibanding kondisi diri sendiri. Agaknya untuk yang satu itu saya juga termasuk.
HAHAHA.
Bukan, bukan tidak mengenali, tetapi barangkali tidak mengakuinya atau membiarkannya berlarut-larut. Saya selalu ingat kalimat ini "Diri sendiri kadang adalah teman terbaik tetapi juga musuh terberat".
Berteman dengan diri sendiri saja bisa terlihat menakutkan. Sudah banyak yang bilang, bahwa menulis adalah salah satu cara berdamai dengan diri sendiri, mempersilakan ideal diri kita bercengkrama dengan diri kita yang sejatinya, bertukar pikiran, hingga akhirnya bisa menemukan solusi. Yang lainnya juga bilang, menggambar. Gambar apapun yang mungkin proyeksi dari apa yang sedang kita rasakan atau pikirkan.
Saya sendiri selalu punya buku harian. Benar-benar punya, tapi buku yang terakhir saya beli di awal tahun hingga sekarang akhir tahun belum pernah saya isi. Entah di halaman ke berapa saya sempat menuliskan satu kata "Hai :)" lalu yang saya ingat selanjutnya saya tidak sanggup menahan kantuk dan tertidur hingga pagi.
Tetapi saya punya pengganti aktivitas menulis di buku harian sebagai alternatif kencan dengan diri sendiri yaitu berbicara sendiri di kamar mandi. Benar juga kata dosen saya, kalau diri paling jujur itu ada di kamar mandi.
Susah sekali nampaknya jadi orang dewasa. Apa diri sendiri ini sebegitu mengerikannya ya, hingga untuk mengajaknya duduk santai saja repotnya setengah mati. Hingga beberapa perlu orang lain yang mendudukannya. Tapi ini lebih repot lagi, menyandarkan diri sendiri pada kehadiran orang lain.
For me, I'm still scare to death about this kind of things. Although deep inside, I know having a deep talking with partner is one of the source of happiness.
Ya semoga suatu hari nanti siapapun kembali tersadar, apapun yang ingin dilakukan untuk menemukan true happiness with self pasti juga perlu diusahakan, bukan cuma direncanakan, dan perlu ada yang dirisikokan.
Mungkin saking senangnya bisa bertemu dengan that one partner, perasaan senangnya sudah langsung berlumeran keluar, jadi masalah-masalah yang ingin diceritakan jadi tidak berarti. Atau saking banyaknya syarat untuk bisa cerita, moment itu jadi belum juga ketemu. Hihihi...
Jakarta, malam minggu ditemani lagu-lagu cinta dan secangkir coklat panas
Saya selalu rindu berlama-lama dengan kamu, lalu kamu memutarkan lagu-lagu cinta <3
No comments:
Post a Comment