Muka
Muka itu bagi aku semacam pintu keluar dari diri seorang individu. Semuanya yang ada di dalam dirinya, alih-alih keluar melalui kata-kata di mulut, lebih banyak tercermin di raut muka. Dan banyak orang yang pandai menjaga mulutnya, tetapi tidak bisa "menjaga mukanya". Itu hal yang sangat wajar. Maka dari itu, aku bilang, yang paling jujur itu bukan di mulut, tapi segala apa yang muka, terutama tatapan mata, ia bisa bicara lebih banyak.
Poker face
Sepemahaman aku sih poker face itu muka yang ekspresinya tidak berubah, bukan tanpa ekspresi. Dari sejarah istilah ini muncul, pemain poker dituntut untuk bisa tetap tenang apapun kartu yang keluar sehingga tidak mudah dideteksi oleh lawannya. Jadi bukan tidak bisa menunjukkan emosi dan perasaan, tapi memang tidak ditunjukkan emosinya.
Masih menurut aku pun, setiap orang pasti sudah atau sedang melalui banyak hal dalam hidupnya. Sebutlah, Bagas, hobinya bikin orang ketawa lewat lelucon garing khasnya. Anehnya setiap habis seharian bisa bikin aku ketawa gak berhenti, esoknya Bagas cerita kalau sebenernya dari kemarin dia udah ngerasa gak enak badan. Damn.. sakit tapi masih bisa bikin ketawa?
Lalu yang lain, Dita, dia bagaikan ibu peri yang membawa kedamaian. Cara dia mendengar dan cara dia menjelaskan duduk permasalahan berhasil membuat Nino nyaman cerita berjam-jam sama dia. Yang Nino gak tau, bahkan jauh sebelum Nino jadi suka curhat sama Dita adalah Dita sendiri sering nangis sendirian di kamarnya setiap malam thinking about her own unfinished problem.
Dan dari dua ilustrasi itu, aku tau bahwa masih ada orang di luar sana yang tidak suka membicarakan atau sulit mengutarakan masalahnya lalu mengubahnya dalam bentuk perilaku lain untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Orang-orang ini hidup berdampingan bersama orang yang disebut extrovert. Orang-orang cenderung introvert adalah bukan orang yang tidak punya emosi. But don't you think the world favors the extrovert?
Overly sensitive
Kadang aku harus nyebut diri aku sendiri overly sensitive for unspecific reasons. Bagi aku, mulut bisa diam atau bohong, tapi muka orang nggak. Se-poker face apapun orang itu aku seringnya terasa bahwa orang ini sedang tidak baik. Gak melulu dari mukanya atau tatapan matanya, misalnya seperti cerita Bagas, orang toh harusnya ngeh bahwa Bagas punya cara yang demikian untuk mengalihkan perhatian terhadap dirinya sendiri.
Jadi kalau sewaktu-waktu orang di sekitar aku menunjukkan muka yang gak enak, akan muncul DHEG! Ini orang kenapa ya? Mukanya stress banget (atau sedih banget). Dan seterusnya setelah itu aku akan bingung harus gimana sama orang itu. Pernah aku coba untuk being nice, being there for them, dan kalau pun responsnya gak oke, malah akunya yang akan kepikiran terus harusnya gw gak usah kayak gitu dan akhirnya aku bener-bener gak tau harus gimana. Sampai waktu itu aku denger berita gak enak soal yang bersangkutan, aku makdeg-nya gak ilang lumayan lama.
Entahlah, sebagian dari diri aku pengen bisa bantu orang semaksimal yang aku bisa, meskipun aku cuma bisa sedia kuping dan cuap-cuap, gak melulu soal uang. Karena aku gak sanggup ngeliat orang terdekat sedih, susah, banyak pikiran, dan gak ada sama sekali yang aku lakuin. Tapi agaknya sejalannya waktu aku pun belajar bahwa orang juga pengen bisa nolong dirinya sendiri tanpa bergantung sama orang lain dan aku harus percaya setiap orang pasti bisa. Ya kayak aku yakin ke diri aku sendiri.
I really hope the universe will work that way
Ada satu pernyataan dari seorang psikolog yang aku kenal cukup baik..
"Kamu inget saya ya, kalau kamu lagi susah...."
No comments:
Post a Comment