Monday, September 7, 2015

Cerita Adik-adik (Part 1)

..well, postingan ini mungkin yang aku tunggu untuk aku bikin. 

Belakangan ini semenjak aku mulai suka share picture di instagram bertemakan anak-anak dan tersynchronize juga ke facebook, teman-teman suka komentar seperti ini :

"Hen, itu acara apa? Dimana? Kayaknya asik"
"Lo ikut Indonesia Mengajar ya, Hen? Orang kayak lo emang mau ke pelosok-pelosok gitu?"

dan yang paling kocak ketika ada temen yang bilang

"Itu anak-anak asuh kamu ya? Kamu jadi ibu asuh?"

tanpa pikir sama sekali aku langsung jawab 

"Bukan ibu, tapi tante asuh. Belom bisa ngasih asi soalnya"

terus kita berdua ketawa, lebih tepatnya dia ngetawain jawaban ku, aku ngetawain diri sendiri"


Buat aku pribadi, kenal atau mungkin sebatas tau, anak-anak rumah belajar di daerah Rawamangun ini seperti membuka banyak pintu yang selama ini aku tidak pernah mau tau. Mungkin banyak diantara teman-teman yang waktu kecil dulu sama seperti aku, tidak diperbolehkan orang tua untuk bermain dengan teman sekitar tempat tinggal. Dulu pun aku nggak pernah ambil pusing, karena aku puas bisa bermain segala permainan di sekolah yang notabene sekolah favorite Jakarta, jadi sampai di lantai 3 gedung sekolah masih ada tempat bermain mirip dengan suasana pantai. Sesampainya di rumah pun, aku bisa bermain sendiri, atau dengan adik, dengan mainan-mainan yang tidak ada habisnya. Ini bukan maksudnya sombong lho. Begitu terus keseharian sampai usia Sekolah Dasar, mulai bisa bertanya sana-sini, dan a ku masih ingat rupanya saat itu pun aku tahu banyak teman sekolah yang tidak punya teman bermain di rumah karena dilarang juga oleh orang tua. So, pikir ku saat itu mungkin, I'm on the right track!

Tapi sampai saat ini aku juga nggak pernah menyalahkan anjuran orang tua dulu atau alih-alih menganggap bahwa tetangga aku itu berada di jalur yang salah. Melalui Rumah Belajar Rawamangun inilah pintu yang tadinya tertutup, pelan-pelan terbuka (eeaaaaaaa....~)

Sebenarnya sebelum Rumah Belajar Rawamangun ini aku juga sempat aktif di Taman Baca Rumah Perubahan atau kegiatan sosial edukasi lain. Akan tetapi, truth to be told, kondisinya jauh berbeda dengan di Rawamangun. Tugas pertama yang aku harus jalani begitu ambil bagian di Rumah Belajar Rawamangun ini adalah menahan reaksi atau ekspresi spontan kalau ada hal-hal yang tidak biasa ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan ternyata banyak :|| banget :||||. Di psikologi ada istilahnya yaitu epokhe *), jadi jujur saja, hari pertama ke sana, keliling ke rumah warga, aku terus mengulang-ngulang kata epokhe di kepala aku, aku nggak mau warga setempat jadi tersinggung atau resisten terhadap orang baru yang dianggap tidak punya sopan santun. 

Di sini lah aku benaran melihat dari dekat bahkan masuk ke rumah yang kondisinya menurut aku tidak sehat huni, tidak ada jendela keluar, pengap, gelap dan kotor. Satu rumah masih dihuni oleh 3-4 kepala keluarga. Rasanya nggak habis pikir, "Kok bisa?". Ya faktanya seperti itu. Akan jadi panjang kalau ditelaah jawaban "Kok bisa?" ini. Kembali lagi, titik yang coba disentuh yaitu pendidikan anak.
Gampangnya "Itu anak gimana mau belajar kalau gitu lingkungannya? Mau belajar, belajar apa?".

Jangan sekali-kali bayangin anak-anak ini mirip seperti Daehan, Minguk, Manse di drama series Korea yang wangi, bersih, dan lucu-lucu. Salah satu warga di sana pernah ada yang cerita, "Mereka bisa datang ke kalian, bilang mau belajar, tapi belom mandi, masih bau apek. Tangannya mungkin kotor-kotor karena habis mainan di tanah atau pasir. Mungkin datang-datang ngerengek sambil nyedot ingus di depan kalian, garuk-garuk kepala terus ternyata kalian liat sepintas rambutnya memang kutuan. Saya bukan nakut-nakutin, tapi ya itu sangat mungkin terjadi dan kalian ya harus siap, masa mau jijikan?"

Aku cerita di sini juga bukan berarti menjelek-jelekan anak-anak Rawamangun, tapi itu fakta yang sebenarnya kita juga sering lihat bukan cuma di Rawamangun. Di perempatan lampu merah, pernah lihat boneka joget-joget gak jelas kan? Ya itu juga anak-anak. Anak jalanan, anak terminal, anaknya artis, anaknya presiden atau anak manapun bahkan anak dengan kebutuhan khusus alias ABK konteks tetap anak. Jadi harus diperlakukan sama selayaknya anak-anak.

Di luar konteks Rumah Belajar Rawamangun, aku juga ingat perkataan salah seorang dari Indonesia Mengajar, "Salah satu indikator seorang individu dikatakan dewasa adalah ketika individu tersebut bisa melakukan fungsi reflektif. Artinya dia mampu menemukan makna positif dari kegiatan apapun yang dia lakukan atau kejadian apapun yang menimpanya." 

Jadi apa reflektif yang kamu rasakan setelah 3 bulan di bermain di Rumah Belajar Rawamangun? 

Bagi aku pribadi yang dari awalnya merasa was-was untuk bisa masuk ke sana, merasa perlu menchallenge diri sendiri untuk bisa fokus dan komitmen, sangat berkesan melihat semangat anak-anak yang selalu penuh. Berapa kali dari kita ini pernah mengeluh "Duh jadi anak-anak lagi enak kali ya...". Malu, kalau kalah semangatnya dibanding mereka. Mereka jam 9 pagi bisa sudah siap untuk belajar. Pertanyaannya siapa yang mau bantu mereka belajar jam 9 pagi diakhir pekan ketika pilihannya dibandingkan dengan santai nonton TV di rumah?

Lagi-lagi omongan orang lain aku kutip, temen dari Indonesia Mengajar yang aku gak ingetnya namanya bilang gini, "Lo rasain deh ngumpul bareng orang-orang yang hobby travelling sama orang-orang yang suka sosial volunteer itu frekuensinya beda. Beda banget"

So guys it's your call :)


*) Epokhe describes the theoretical moment where all judgments about the existence of the external world, and consequently all action in the world, are suspended.

Saturday, August 1, 2015

The way I know you

Let me know you but only ever at a distance.
Let me know you from our convo at 10 PM until we fell a sleep

Let me know you easily, without any real effort.
Or let me know you the way Allah guide me to


Nggak ada satu alasan pasti yang membuat pertanyaan atau pernyataan paling absurb sekalipun, sehingga semuanya menurut aku perlu aku sampaikan. 

Menurut kamu kenapa aku bisa tiba-tiba tau atau tiba-tiba tanya?

Karena aku selalu minta ke Allah supaya hati aku gak mati, supaya aku gak buta sama jalan yang Allah tunjukin. Kamu tau kan kalau feeling kamu bilang ada sesuatu terjadi, walaupun itu diluar kuasa kamu untuk tau apa yang terjadi? 

Jadi kenapa kamu perlu bohong lagi? Kamu mungkin pembohong terbaik dan terburuk sekaligus.

Aku kehabisan daya untuk merangkai ulang semua cerita yang sepotong demi sepotong kamu sampaikan. Mencari dimana garis merahnya. Lalu aku pikir buat apa, kamu tetap pembohong. Aku bisa catat setiap perkataan kamu lalu aku genggam sebagai kebenaran, aku pun masih bisa catat hingga setiap perkataan mu kini aku anggap bualan semata

Mungkin aku, kamu, kita semua gak sadar, bahwa kadang gelas yang kita selalu bawa dalam hidup j ini kondisinya sudah luber. Jadi akan banyak akibat yang bisa muncul kalau gelas itu kita suguhkan ke hadapan orang lain yang menjadi tamu dalam hidup kita. Setidaknya jangan pernah tanya kenapa orang itu kecewa bajunya kebasahan karena tumpahan air dari gelas kita. 

Kedua, yang juga kadang kita gak sadar, ketika orang lain itu bermaksud menampung limpahan air dari gelas kita, mungkin kita juga yang terlalu sayang untuk membagi isinya. Jadi sekarang kamu tetap diam disitu atau melengos pergi begitu saja merasa menyesal menenteng gelas itu dihadapanku bersikap seolah-olah duta air minum?

Ketiga, yang lebih parah, kita lupa bahwa orang itu juga punya gelasnya sendiri. Setiap orang datang membawa gelasnya masing-masing. Yang sayangnya kita entah tidak tau atau tidak mau tau apakah gelasnya kosong, setengah, atau jangan-jangan juga sama lubernya. Kamu ada dimana saat gelas ku luber? Oh iya, aku lupa, mungkin sedang sibuk mengurus gelasmu sendiri dulu, yang lain nanti saja ya.

Aku akan jadi sama egoisnya kalau bilang kamu egois.
Tapi aku akan jadi sama pembohongnya, kalau bilang aku masih mau ingat sedikit saja hal baik dari mu.
Aku, hampir pasti, tidak ingin mengingat sedikitpun.

|Pembicaraan pribadi @ 2:30 dini hari


*http://www.iwrotethisforyou.me/2015/07/the-way-i-know-you.html

Saturday, July 18, 2015

The most important thing in all human relationships is conversation

Greetings!

Pertama, aku perlu bilang terima kasih untuk teman dari jaman perBEMan di kampus dulu, Viky Veriyanto, kalo aku pake inisial jadi Mr. V agak gak enak konotasinya kan hihi :p (btw, please do visit his tumblr! http://socialscript.tumblr.com). Ceritanya tadi siang kita sempet linean dan ngobrolin dunia sosial media termasuk dunia tulis menulis. Daaaaan dia bilang 

"Tulisan mu ki apik lho (Tulisan mu itu bagus lho). Kenapa gak dikembangin?". 

Aku gak tau kalau dia pernah baca blog ku ini dan juga orang-orang lain yang ternyata juga pernah baca blog ku, kalau bukan mereka bilang ke aku (Yaiyalah :|). Dan respon aku selanjutnya yang mereka gak tau adalah cengesngesan ngetawain tulisan ku yang menurut ku proyeksi dari pikiran ku yang random ini. Hahaha.

Ada satu temen lain yang juga line aku siang ini. Pendek cerita, apa yang dia omongin adalah komunikasi kita berdua yang udah banyak berubah. Aku yakin hal semacam ini juga pasti pernah dirasakan oleh 100juta umat lain di dunia ketika intensitas, cara, dan isi komunikasi kita dengan orang lain tidak lagi sama seperti sebelumnya. Mungkin menjadi lebih jarang mengirim pesan singkat, menjadi lebih sulit untuk mencocokkan jadwal kosong untuk bisa bertemu atau bisa jadi dalam level hubungan yang lebih dekat ada beberapa hal yang sebelumnya selalu bebas dibicarakan kini berkurang bahkan tidak pernah dibicarakan. Perubahan pasti memberi dampak pada lebih dari 1 pihak, tapi mungkin hanya 1 pihak yang menimbulkan ketidaknyaman.

"The most important thing in all human relationships is conversation, but people don’t talk anymore, they don’t sit down to talk and listen. They go to the theater, the cinema, watch television, listen to the radio, read books, but they almost never talk. If we want to change the world, we have to go back to a time when warriors would gather around a fire and tell stories."
— Paulo Coelho,
Hahaha sebenernya disinilah challenge kita. Challenge dimana kita harus mulai bisa untuk mengeliat segala sesuatu itu dari sisi kedua belah pihak. 

Buat beberapa orang, pasti lebih gampang untuk melihat orang yang berubah sebagai pihak yang diuntungkan. Akhirnya banyak omongan dibelakang yang kita buat-buat supaya perubahan itu terlihat masuk akal dari sisi yang dirugikan. 

"Ah dia pasti ngelakuin itu karena blablabla, dia egois"

Padahal untuk menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengeksekusi juga bukan perkara mudah. Ada ego yang harus diluruhkan, ada keinginan pribadi yang harus dikesampingkan, dan pastinya ada keberanian menanggung risiko yang belum tentu kita punya. Emang sih pada beberapa case yang sangat krusial atau mendasar atau apapun itu istilahnya, membuat keputusan sebaiknya bisa di share dengan pihak lain, ya siapapun itu bisa pasangan, teman, orang tua, bahkan senior kita, sehingga tidak ada sebutan "pihak yang dirugikan". Harusnyaaa...

But as we grow older and wiser, we try to understand that we can't control anyone. Yet that one might think about having no responsibility to share any little thing due to his/her personal consideration. Yang mungkin kita lupa batas kebebasan kita secara individu, adalah adanya kebebasan dari individu lain yang berdampingan.

Satu hal yang bisa kita kontrol adalah pikiran kita sendiri dan perilaku kita. Ada satu novel yang judulnya Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere Liye, yang isinya banyak mengingatkan kita bahwa di dunia ini banyak hal yang kita tidak tahu dan memang kita dilindungi dari keterbatasan akan pengetahuan kita. Di satu sisi kita belajar arti dari berusaha, berusaha untuk jadi mencari tahu, akan tetapi di sisi lain kita belajar arti dari keikhlasan, menerima apapun hasil dari usaha kita.

Last but not least, tulisan ini semoga sejalan dengan judul blog Behind The Scene itu sendiri ya hihihi. Sesekali kita coba tengok dibalik tawa orang disamping kita, mungkin dia bukan sedang bahagia tapi dia sedang lelah dan stress, hati-hati ntar ditawarin magic mushroom :p

Goodnight :D

Sunday, January 4, 2015

Curhatan kacung HRD

Sehari-hari dengan rutinitas yang sama, selama kurun waktu yang panjang...ada di bosan tingkat berapa ya kira-kira nanti? Terus apa yang bisa dilakuin supaya kerja gak terasa membosankan? Punya temen yang seru? Punya atasan yang support? Gaji yang besar?
Mengakhiri hari dengan keluhan akan pekerjaan dan laporan-laporan yang menunggu. Begitu juga hari minggu yang ditutup dengan keluhan-keluhan akan hari Senin sudah di depan mata. Ahh.. rasanya sayang sekali kalau hidup hanya diisi oleh hal-hal seperti itu..

Memasuki satu tahun lebih sebagai kacung korporat swasta, pikiran-pikiran seperti itu masih lalu lalang ke otak. Membuat saya mulai berpikir akan alternatif rencana hidup yang lainnya. Eh bukan, bukan mulai, malah sebenarnya selalu berpikir selanjutnya mau jadi apa, mau begini terus?

Jujur saja, saya tipikal orang yang mudah bosan dengan rutinitas dan cendurung suka kebebasan. Segala sesuatu yang mulai membentuk menjadi rutinitas dan isinya itu-itu saja, ujung-ujungnya hmmm bosaaaan. Sayangnya hal itu tidak bisa dihindari ketika setelah lulus kuliah memutuskan bekerja. Apalagi dengan background psikologi, ranah pekerjaan yang ditekuni sudah jelas di ranah ke-HRD-an. Kalau begitu kenapa memilih bekerja diantara pilihan yang ada lainnya, seperti melanjutkan sekolah atau wirausaha?

Keputusan untuk bekerja itu mulai dipikirkan memasuki masa-masa akhir kuliah. Sebenarnya saya hanya ingin jadi survivor atau volunteer untuk orang-orang yang kurang mampu, orang-orang keterbelakangan mental, bahkan orang-orang yang menjadi korban bencana misalnya. Entah pikiran dari mana, mungkin karena selama kuliah aktif di departemen Pengabdian Masyarakat, atau karena bencana Gunung Merapi dan abu vulkanik. Yang jelas setelah sempat share dengan orang tua, yang ada malah nangis sejadinya karena ditentang.

Pelan-pelan, mulai realistis karena kondisi keuangan keluarga, dan sepertinya tidak punya informasi yang cukup kalaupun ingin menekuni psikologi klinis, akhirnya baiklah harus bekerja! Niat saya cuma satu saat itu, harus sudah bekerja pada saat wisuda. Sama sekali tidak spesifik bekerja dimana yang penting tidak datang wisuda dengan status pengangguran.

Dari pengalaman kerja pertama ini, sekalipun hanya temporer, di perusahaan yang tidak punya nama sama sekali, mata saya mulai terbuka. Di samping pernyataan yang orang-orang selalu bilang, dunia pekerjaan jauh berbeda dengan perkuliahan yang penuh teori dan memang nyatanya begitu, tapi pengalaman bekerja di perusahaan yang merintis dari 0 punya sensasi yang berbeda dibanding cerita teman-teman yang bekerja di tempat yang sudah jadi.

Belajar untuk punya aturan sendiri, itu harus. Walaupun secara SOP belum jadi aturan baku, tapi orang harus punya aturan, punya etika, punya prinsip. Istilah yang boleh dipinjem dari atasan saya waktu itu adalah value. Jadi jangan mau pekerjaan diselak, diribetin sama orang lain yang sebenernya gak punya kepentingan.

Nemuin orang-orang yang "gak bener" bukan cuma 1-2 tapi banyak, ditambah lagi orang yang cari muka. Di sini saya baru ngerasain apa pentingnya peran leader. Leader bagi saya saat itu bukan cuma direct mandatory, tapi juga seorang yang bisa saling percaya, bisa saling mengandalkan, bisa saling bantu. Sebagai penghuni level terbawah dari struktur, atasan juga sebagai bumper. Semua itu bukan dari saya yang buat pengertian sendiri, tapi sekali lagi dari atasan saya sendiri, dan saya mengamininya sampai sekarang. "Setiap kesalahan yang terjadi, atasan itu harus jadi bumper, jadi saya yang kena pertama kali, bukan kamu. Kenapa? Karena setiap kesalahan bawahan, disitu peran atasan dipertanyakan?". Kalimat itu masih nempel di kepala bahkan cara atasan saya ngejelasin peran leader sambil kayak orang ketabrak mobil pun masih jelas.

Kalimat lain yang juga saya pegang teguh adalah "Kerja itu cari value, gaji pasti akan menyesuaikan. Buat apa kamu kuliah tinggi-tinggi tapi pada saat kerja gak ada ilmu yang kamu dapatkan, gak bikin kamu tambah pintar. Pintar itu dalam hal apapun.."

Nah berangkat dari situ, setiap detail pekerjaan yang harus saya lakukan berulang dan ternyata tidak ada follow up hasilnya, akan muncul di otak, "Terus buat apa gw kerjain capek-capek?". Solusinya coba tanya atasan sendiri yang memberikan pekerjaan kalau menemukan situasi begitu. Sebaiknya juga, apapun yang saya lakukan harus ada argumennya. Argumennya biasanya atasan paling suka kalau dalam bentuk angka, ratio, persentase, bukan "biasanya, beberapa,"

Waktu berjalan pun, saya menemukan perusahaan sebesar apapun pasti ada minusnya. Perusahaan besar kalau pada akhirnya direct leader tidak memberikan apa-apa, pasti gerah juga. Gerah banget. Walaupun saya juga belajar, ada waktunya, ketiadaan direct leader atau supervisi artinya tingginya trust top leader pada satu posisi. They want you to grow bigger even faster than others. Dan itu mahal rasanya.

Saya yang pernah mengalami kedua posisi tersebut, tanpa adanya direct supervisi dan full team lengkap. Yang pertama, biasa langsung diskusi dengan level General Manager bahkan Director, ada perasaan dihargai dan dibutuhkan, ada tantangan bahwa untuk memenuhi ekspektasi dari beliau-beliau itu. Paling tidak enak, ya tidak ada diskusi di level yang sama, kalau salah harus siap babak belur dan seketika jadi anak bawang (that's why your self-value is important!). Yang kedua, saya kemudian untuk pertama kalinya punya team kerja, ada buddy, supervisor, baru manager. Yang kedua ini tantangannya adalah catch up dengan buddy team, dan full time supervisi yang lumayan ganggu juga buat saya pribadi, bayangkan kerja diawasi selama 8 jam! Ya istilah orang Jawa, sawang sinawang, selalu ada yang terlihat lebih enak.

Ini sedikit bocoran tentang hidup 8 jam sebagai HRD :
Ada saatnya dianggap departemen yang kerjanya ngapain sih, tapi begitu ada masalah dengan karyawan HRD harus pasang badan. Walaupun beberapa perusahaan payroll / gaji dipegang oleh finance biasanya HRD yang bakal ditunjuk kalau ada case terkait gaji. Jadi HRD adalah departemen yang harus paling tau segala sesuatu soal perusahaan.
HRD itu sebenarnya ada bagian-bagiannya lagi, tapi gak semua orang tau dan mau tau. Jadi selain "dihujat" oleh masalah karyawan, semua orang HRD akan terima pertanyaan orang dari luar soal ada lowongan apa. Email banyak isinya lamaran-lamaran. Mending kalau cuma tanya lowongan, ujung-ujungnya tanya gajinya berapa. Wajar kalau pengalama, kalau fresh graduate??

Kerja di perusahaan swasta selalu punya cerita, tahu proses end to end bisnis perusahaan, dari raw process sampai smooth reporting. Jauuuuuh berbeda ketika kamu kerja di konsultan yang terima bersih. Banyak yang gak survive perubahan dua dunia ini.


Masuklah perusahaan swasta, paham jatuh bangunnya untuk sukses, tapi punya prinsip dan gaji seorang BUMN, why not? :D





Monday, December 1, 2014

I'm a Gale-team : a-not-credible review of Mockingjay..

Hahahayy...

As you all know my mind never stop thinking and arguing, my mouth can't handle talking to my self, it's just me who can't make time to write them down in a piece of paper or in a page of blog post.
If I say I miss being ready to write whenever the feelings or the thought pop up, it's rather sounds bullsh*it since nothing I do anyway..

So here we start again..

(what should I write... hmmm...)

First of all, I declare that I left all the drama behind, I should've be more aware of boys! LOL!

Second is, I already watched HUNGER GAMES : MOCKINGJAY part 1!
A not so climax movie comparing the two sequel before. No fighting, no drama, no pressure, just flat.
I think the center of Mockingjay part 1 is Gale! What is he thinking of becoming the first volunteer for the mission of Hunger Games Liberation from the capitol?? I mean, hey he would save one guy name Peeta whose have a heart for Katniss. Gale also the one who sharing what he remember after the sudden attack from the Capitol that destroy Disctrict 12. He fought a lot to save hundred of people. Gale also, for sure, the one who's with Prim when she need to save her cat (I forgot the name) in her room at the last minute before The Capitol bombard District 13's bunker.

I'm a Gale-team!!

Another thing from the movie is about rebellion, democracy, some political things I guess. That we can't resist the people power which in this movie lead by Mockingjay (Katniss) to destroy the government rottenness (The Capitol). Well that's also happen in Indonesia right? Tragedy of May 98? President election in 2014? I amazed by their bravery to get the justice and democracy in their hand.

And the last things is "Do Katniss is secretly a bestfriend of Bella Swan??"
Do you remember the drama between Bella-Edward-Jacob? The nightmare that happen to Bella when Edward left? The motorcycle ride so that Edward could suddenly show up n front of Bella?
HAH! That's also the same cycle of drama happens in Katniss-Gale-Peeta's love story. Zzzz...

By the way, after watching the movie, I think I need to re-watch the Catching Fire again or do you think I need to buy the three books of Hunger Games? Hmmm...

Will updated to you soon..



backsound playing
Say'A - Happy B'day (How fuck are you now? :p)

Tuesday, September 2, 2014

Perjalanan menuju akhir

Sebenernya makin ke sini makin mikir dan sadar apa sih yang dimauin dalam hidup.
Mungkin pemikiran ini muncul karena menyimpulkan sendiri kalau apa yang dijalanin bukan "jalan"nya
Terus kenapa dari awal pilih jalan ini?
Pilihan-pilihan yang sudah dijalanin ini cuma jadi semacam trial and error

Suatu saat Pak Helmy pernah bilang, "Ya itulah yang terjadi pada fresh graduate, mereka pasti masih mencari jati dirinya, termasuk untuk urusan pekerjaan"

Jauh sebelum itu, Ibu Dian juga pernah bilang, "Kita itu perempuan, memang kamu mau kerja sampe jadi apa nanti? Jadi direktur? Nggak juga kan"

(Kalau boleh intermezzo sedikit, 2 orang itu adalah yang sudah punya posisi tinggi yang gw kenal tapi paling tidak menggurui)

Aku dulu pernah bilang ke Ibu, kalau aku gak mau mengejar karir seperti orang pada umumnya, mengejar gaji atau uang. Waktu itu aku bilang aku mau jadi volunteer, sukarelawan. Dan yang selanjutnya aku inget adalah aku nangis di kamar mandi Plaza Semanggi karena entah apa yang waktu itu diucapin Ibu sama Bapak.

Beberapa kali aku iri dengan orang-orang yang bisa melepaskan apa yang mereka gak suka dengan mudah untuk kemudian mendapatkan apa yang mereka benar-benar suka. Mungkin dalam hal ini, aku selalu aware dengan hal apa yang sebenarnya aku gak suka sejak dari awal, tapi aku tipikal yang akan mencoba lebih dulu sejauh apa aku bisa. Yap that's trial and error thing.

Lalu baru-baru ini aku ketemu dengan oknum D. Damn smart! Dia mungkin bisa atau pun memang sudah mendapatkan apa yang rata-rata lulusan baru inginkan, ODP di BUMN. Toh pada kenyataannya posisi itu pun dia lepas, karena menganggap tidak sesuai dengan harapannya jangka panjang. Dia bilang begini, "Sekarang kerja ya cuma buat nambel kantong aja, tujuan gw kan tetep mau S2 itu. Pendidikan nomer 1 lah..."

Kembali ke pertanyaan pertama, trial and error apa selanjutnya?

Biar aku coba jawab dengan lebih jelas dengan rank probabilitas terjadinya error paling kecil

  1. Freelance itu digunakan untuk mendefinisikan pekerjaan membuat suatu karya tulisan, gambar, brand campaign sesuai kebutuhan klien (cmiiw)
  2. Travel blogger, siapa yang tidak mau travelling dan dibayar. Jalan-jalan ke daerah baru, wisata kuliner, pergi ke tempat bersejarah, berbaur dengan warga lokal, kemudian berbagi di blog.
  3. Guru di daerah pedalaman atau terapis di daerah bencana. 
Itu cuma jawaban paling jujur dari apa yang aku mauin.
So, basically...

I just wanna be free and relax
I love dealing with people in deep and long relationship
Inspire one to another in so many beautiful ways
I love seeing new things, curious about things and places

Entah gimana caranya pasti ada jalan untuk mengakhiri trial and error dari diri aku sendiri
Dan jalan yang tepat harus dimulai dari sekarang bukan cuma diucapkan dari hari ke hari.

Selamat mengakhiri perjalanan! :D


Sunday, August 17, 2014

Terima kasih Allah

Allah, terima kasih telah mengirimkan orang-orang baik, lembut hati, yang dari mereka ilmu ku bertambah juga kebahagiaanku.

Allah, terima kasih atas anugrah-Mu yang mungkin membuat aku perasa tentang hal-hal yang sedang atau akan terjadi pada orang-orang baik di sekitar aku.

Allah, terima kasih karena Engkau masih dan selalu melindungi dan menyayangi orang-orang baik itu tanpa perlu ada aku diantara mereka.

Allah, terima kasih karena selalu mengingatkan aku akan keikhlasan dan ketulusan. Aku belum lulus lagi kan Ya Allah?

Tapi tidak apa Ya Allah kalau aku belum lulus, artinya aku harus belajar lagi, walaupun kadang aku jadi bingung harus mulai dari mana lagi ya.

Tidak apa kalau aku belum lulus Ya Allah, artinya aku belum memberikan yg terbaik untuk orang-orang baik disekitar aku, lebih parah aku pasti juga belum memberikan ketaatan yang terbaik untuk Mu.

Ya Allah aku minta maaf ya, minta ampun. Sampaikan juga maaf aku untuk orang-orang baik di luar sana, semoga selalu ada sesuatu yang berarti dan membahagiakan hidup mereka sebagai pengganti atas ketidakmampuan ku memberi.