Sunday, August 14, 2016

Emotionless

This word also represent my thought of a woman, my another Kata Untuk Perempuan.

Sudah lebih kurang satu tahun ini nenek aku tinggal di rumah. Berawal dari kondisi sehat-sakit-sehat-dan terus berputar sampai hari ini. Tinggal bersama orang tua, khususnya yang sudah lanjut usia, buat ku sendiri ya gampang-gampang susah. Ada banyak drama, drama, dan drama seiring waktu. 

Bukan foto eyang aku, tapi foto Mbah Kani.
Tinggal sebatang kara di gubug di Desa Pujon Kidul,
Semakin lanjut usia, tingkah laku bahkan bisa jadi semakin kembali seperti anak kecil. Katanya... Manja, selalu minta diladenin, cari perhatian. Eyang (panggilan aku ke nenek) suka dengerin radio. Semenjak kakinya sudah tidak bisa dipakai jalan normal, aktivitasnya jadi sangat terbatas.

Pagi sekitar jam 05.30 aku suka dengar dari kamar ku, kalau eyang sedang ganti-ganti channel radio. Tapi setiap pagi juga eyang akan menyeringai bahagia begitu aku datang ke kamarnya, meminta aku menggantikan channelnya karena ia bilang ia tidak bisa. Memintaku tidak usah ke kantor. Tidak usah kemana-mana. Memintaku menyalakan setiap lampu di rumah. Meskipun. Masih. Pagi.  

Sebenarnya perilaku kekanak-kanakan itu kalau kita nalar dengan akal jernih akan menjadi make sense, fisik yang melemah, kemampuan indra yang menurun, kesepiandan lain-lain. Dan semua itu alami, bukan dibuat-buat.

Setiap hari aku masih harus selalu ngingetin diri sendiri dengan nasehat-nasehat positif. "Itu orang tua, dulu kita kecil juga mungkin sama ngerepotinnya. Kita harus baik sama orang tua, kalau kita nanti jadi tua juga gak mau kan ditelantarin anak. Kita harus sabar, sabar, kalau marah atau kesel itu dosa"

Sampai akhirnya aku mikir sendiri, "Memang sabar itu apa? Kenapa jadi gak boleh ada perasaan atau emosi? Emang cuma perempuan yang gak boleh? Kok gitu.." 


Perempuan itu harus sabar. Tapi bukan berarti gak punya emosi. Karena pada dasarnya perempuan diciptakan dengan perasaan lemah lembut. Mudah tersinggung Jadi, perempuan (dan jenis kelamin lainnya) harus tau bagaimana mengelola emosi dirinya dengan cepat. Sebelum meledak-ledak, dan dicap sebagai gak sabaran atau cengeng. 

Perempuan itu gak boleh gampang marah. Tetapi sebenarnya marah atau amarah adalah salah satu bentuk emosi. Sebagai manusia normal, pasti punya tendensi perasaan marah. Cuma dengan bertambah dewasanya perempuan (juga laki-laki) harus paham bagaimana cara meregulasi emosi. Jadi bukan artinya tidak boleh marah, tapi gak boleh melampiaskan amarahnya.

Pada pengertian awam, emosi memiliki makna yang negatif. Emosi digambarkan dengan perilaku marah, treak-treak, banting-banting pintu, dsb. Akhirnya banyak judgement, "Emosian amat jadi orang. Sabar dikit kek"
Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak ata merespon stimulus.
Pembahasan Aristoteles mengenai kehidupan emosional manusia, dalam buku Emotional Intellegence karya Goleman
Tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).  
Menurut ajaran agama Islam pun, marah diartikan sebagai suatu perangkai buruk, apalagi marah yang dipicu oleh hawa nafsu keduniawian, sehingga menahan amarah adalah sebuah kunci kebaikan.
Ada seseorang datang menemui Nabi Muhammad SAW seraya berkata, "Wahai Rasullah, berilah aku wasiat." Maka Rasullah SAW bersabda, "Janganlah kamu marah." Beliau mengulanginya berkali dengan berkata, "Janganlah kamu marah." (HR. Bukhari 6116, Ahmad 2/362)
Dari hadist tersebut bisa dipahami bahwa menahan amarah adalah sesuatu yang sangat penting walaupun sulit dilakukan, karena itu Rasullah menekankan berkali-kali dalam wasiat.

Well, aku sendiri pun bukan orang yang segitu sabarnya, masih kadang segitu keselnya.
Semoga kita semua lebih bijak dengan diri sendiri

Happy weekend! :D



References :
1. Instagram account @cakbudi_ penggiat kepedulian terhadap lansia di Malang, Jatim
2. Belajar Psikologi : Pengertian Emosi
3. Islam Pos : Keistimewaan menahan amarah

Sunday, July 10, 2016

Legowo; Letting Go; Yaudahlah

Hosh! Agak berat rasanya untuk kembali menulis personal life disini, setelah beberapa bulan mencoba menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda. HAHA! Apa memangnya berbeda?

Well, I can say I did it so much better this time!

Seiring berjalannya usia, seharusnya paralel dengan tingkat kedewasaan manusia. Tingkat kedewasaan itu menurut ku terlihat dari cara kita menyelesaikan masalah. Ada yang menyelesaikan masalah selalu dengan gaya yang sama, ada yang berubah karena berbagai alasan, misal desakan, tuntutan, yang terakhir insight. Insight mungkin bisa disebut "hidayah" yang datangnya dari manusia.

I've been there at the low point of life questioning everything to Allah SWT. 
And I've learned it the hard way

Dulu, pasti pernah satu fase dalam hidup kita, dimana semua emosi langsung serta merta kita ungkapkan. Dengan dalil "yah dari pada disimpen sendiri bikin sakit", dan akhirnya menjelma menjadi perkataan-perkataan kasar, perbuatan yang tidak etis, atau yang paling sering terjadi curcol galau mewarnai di media sosial kita, twitter, facebook, dan status BBM.


Sekian tahun berlalu dari masa-masa itu, aku aja rasanya malu untuk membaca lagi curcol-curcol lebay yang pernah ku buat. Mostly sih masalah pergebetan, percintaan dan sejenisnya, Masalah yang dulu terasa berat, kini jadi terlihat sebenarnya-sepele-tapi-ditanggapi-berlebihan. Yah setidaknya masa itu sudah lewat. Ketika SMA, aku kita yang galau karena gebetan, masa kuliah galau dengan PHP, yaa masalah yang booming pada jamannya. Malu kan kan kalau sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dan respon yang juga sama. Ya kayak gak naik kelas gitu.. *palm face* 

Masalah apapun, dikembalikan saja ke Sang Maha Pengatur

Klise. Tapi tidak semudah mengucapkannya. Kalimat yang nggak aku sangka bakal ngena banget buat ku, Waktu itu diajak ketemuan dengan senior-senior ku di kampus. Tanpa tau mau ngomongin apa, yang penting ketemu aja, walaupun jauh.

Salah satu senior ku dan juga teman yang lain ku akhirnya banyak cerita soal hal-hal "menakjubkan" yang beberapa waktu lalu menghadang mereka(eaaaa...). Dari satu hal ke hal lainnya, gak cuma soal jodoh tapi perihal keluarga pun, mereka sedikit bercerita bagaimana usaha yang dia upayakan untuk bisa survive. Minimal gak gila.

Dan sampai negara api datang menyerang aku hehehe~.Tapi sungguh aku anaknya lebay kalau soal kepercayaan. Long story short, instead of blaming others people, I blamed my self so much. Makanya kalimat tadi di atas aku sebut-sebut terus dalam hati. Sampai aku kabur ke Semarang, yang niatnya mau naik paragliding sekalian katarsis, malah jadinya ngedengerin tausyiah kehidupan temen deket kuliah ku. Alhamdulillah aku gak (jadi) gila,

Ada satu momen yang aku inget banget, atau mungkin ini yang disebut pengalaman spiritual (?). Kadang dihati sudah mulai memaafkan tapi kadang otak ini belum mau melepaskan, terlalu banyak worry, takut, bingung, gak berhenti nanya kenapa begini atau begitu. Entah gimana insight ke sekian aku baca sendiri di halaman-halaman terakhir novel Rembulan Tenggelam di Wajahmu
Mengapa Tuhan justru mengambil kebahagiaan dari orang-orang yang baik? Itulah bentuk keadilan langit yang tidak akan kita pahami secara sempurna. Beribu wajhanya berjuta bentuknya. Hanya ada satu cara untuk bekenalan dengan bentuk-bentuknya. Selalulah berprasangka baik.
Dan aku nangis kejer baca kalimat-kalimat itu. Yah itulah cara Allah ngasi pencerahan melalu sekeliling ku, walaupun cuma tulisan random yang ku baca. Sampai rasanya aku seolah bicara dengan diri ku sendiri "Yaudahlah pasti ada caranya, pasti ada jalannya. Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Percaya aja".

"Yaudahlah" itu menjadi powerfull word, bukan pasrah gitu aja tanpa usaha. Bukan gak berperasaan, gak boleh sedih atau nangis, gak boleh marah atau kecewa. Tapi melepaskan ekspektasi pribadi dan menukarnya dengan keyakinan bahwa pasti ada yang lebih baik.

So, kalau mungin akan ada yang bertanya, "kalau satu kali lagi kamu harus terjatuh, apa yang kira-kira akan terjadi?". Aku akan jawab "Tapi ku baik-baik saja" kemudian nyanyi bareng Mba Maia :D

Have a good day :D






Wednesday, February 10, 2016

We are what the people thought we are - Review awam Mr. Robot

Beberapa hari yang lalu aku dan teman dekat ku itu sempat debat mengenai apa sebenarnya manfaat dari sosial media. Di antara temen-temen deket ku, dia mungkin satu-satunya yang bertahan tidak punya akun path ataupun instagram, sedangkan orang lain hampir dipastikan punya keduanya atau paling tidak salah satunya.

"Ada manfaatnya gak punya socmed buat aku? Buat pamer doang? Lagi disini lho, lagi makan ini lho? Pergi kemana update, foto apa update?"

Kebanyakan refleks yang muncul "Ya itu kan tergantung sudut pandang kita aja yang ngeliatnya. Kalau ada temen yang jalan-jalan apa terus kita ngerasa insecure karena gak bisa jalan-jalan?". Sampai disini aku setuju dengan bagaimana kita membangun persepsi yang tidak bergantung pada kecendurungan persepsi umum. Bahwa liburan harus jalan-jalan, yang di rumah saja itu cupu.

Aku juga pernah baca review di Playstore soal Path itu sendiri yang menurut ku cukup menohok. Isinya kalau di-bahasa-Indonesia-kan jadinya begini :

"Ini adalah aplikasi dimana kalian bisa mengisi lembar catatan kehidupan sehari-hari kalian (diary) dan dilihat banyak orang. Downloadlah kalau kalian suka!" 

Kalau sebelumnya kita melihat Path dari sisi pengguna pasif (yang cuma scroll-scroll-scroll tapi terus jengkel karena updatean temen), pendapat ini mewakili kaum yang suka mengunggah sesuatu, bisa jadi aktivitas sehari-harinya, kesukaan dan ketidaksukaanya terhadap karya seni, sosok manusia, barang yang dimilikinya, pendapat atau pemikirannya terkait fenomena. Sadar atau tidak, kegiatan inilah yang disebut dengan memberi makan pada ego. 

We are what the people thought we are

Setiap ego mempunyai makanan terbaiknya masing-masing, tapi pada dasarnya setiap ego ingin "bahagia". Ingat prinsip Id dari Sigmund Freud? Dorongan naluriah akan kesenangan, pemenuhan kebutuhan primer. Di social media menunya adalah kita "senang" kalau orang tau betapa padatnya rutinitas setiap hari, "senang" kalau orang setuju dengan apa yang kita juga suka, pun kita "senang" kalau orang turut bersedih dengan kesulitan yang menimpa kita.

Jennifer Crocker, seorang psychologist dari Michigan University juga menjelaskan "contingent self esteem" penilaian positif terhadap diri sendiri bergantung dari anggapan orang lain terhadap diri kita atau dari pujian dan pengakuan orang akan hal-hal tertentu (significant event) dalam hidup yang juga kita anggap penting. Menurut Crocker, penilaian orang lain dapat menumbuhkan positivisme dalam diri kita meskipun tidak akan berlangsung lama.


"Maaf nih lagi gak bisa update, lagi liburan kemaren ke Zimbabwe, semoga rejekinya nambah terus, bisa jalan-jalan lagi" (seen by 2.393.499 friends)


Review awam serial Mr Robot. 
Mild spoilers ahead.

Bicara soal mengcopy-paste real life kita ke dalam account di media online, serial yang baru-baru ini aku tonton, Mr. Robot, menggambarkan bagaimana kepribadian kita bisa dibentuk dari apa saja yang ada diupload ke socmed.

Serial ini yang dibintangi oleh Rami Said Melek. Kalau kalian tanya Rami Said Melek, sama aku pun gak kenal. Hehehe. Awalnya temen ku yang ngerekomendasikan film ini. Film ini menceritakan seorang hacker bernama Elliot yang super cerdas bekerja di cyber security firm tapi juga punya gangguan psikologis yang kompleks.

Elliot tumbuh menjadi anak muda yang menyimpan kekecewaan yang besar terhadap dirinya sendiri akibat pengalaman tidak menyenangkan di keluarganya. Ketidakmampuannya untuk menyelesaikan internal problem dalam dirinya ini dipendam hingga dia dewasa. Serial ini juga diisi oleh banyak narasi dari sudut pandang Elliot "yang lain" yang mana buat ku pribadi menjadi daya tariknya.

Gangguan mental yang dimiliki Elliot membuatnya sangat tertutup dengan orang disekelilingnya. Ketakutannya untuk disakiti, merasa kesepian adalah hal yang mendorong Elliot mewaspadai setiap orang yang sering bersentuhan di kesehariannya. Cara dia mengenali lawan bicaranya yaitu melalui sosial medianya, mengamati intereksi mereka di dunia maya, foto-foto yang diupload, life records, dan juga menerabas masuk ke personal email. Informasi-informasi tersebut ditelaah Elliot untuk ditarik kesimpulan tipe kepribadiannya.

Dalam serial ini, data-data personal tersebut digunakan Elliot sebagai dasar untuk "menolong" orang yang bersangkutan, "menolong" orang banyak, dan "menolong" dirinya sendiri. Perasaan ketakutan disakiti yang kerap menghantuinya secara berlebihan diproyeksikan menjadi kemarahan yang berlebihan pada orang bertindak tidak adil, kaum kapitalis. Compulsive disorder.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sekarang, menggali infomasi seseorang melalui sosial medianya, mungkin sudah sering kita jumpai. Penggunannya bisa untuk kepentingan seleksi pekerjaan, pengungkapan kasus kriminal, ataupun kepo-kepo gebetan, mantan gebetan, mantan pacar, pacarnya mantan, atasan di kantor, artis, sok artis, siapapun.

Intinya, bukan melarang penggunaan social media, tapi membatasi. Pentingkah untuk semua orang tahu? Haruskah kita merespon segala topic, just for the sake of peer pressure? Are we trap in our teenage drama?

Semoga kita semua dilindungi dari kesia-sian.
Have a fruitful day :D






Further info and related link:
1. Q&A dengan penulis Mr.Robot
2. What's compulsive disorder?
3. The Boom and Bust Ego




Saturday, January 23, 2016

Kata Untuk Perempuan

Have you consider for doing something that you really interest in but at the other hand it will push you to go accross the rules?

I have did! And it's pretty amazing experiences, allow me to share you the story ya :D

*push the subtitle botton*
*turn it to Bahasa Indonesia*

Kakak senior di kampus dulu yang paling deket sama aku itu namanya Mega Tala Harimukthi atau biasanya aku panggil Kak Tala. Kak Tala ini selain kakak yang super kakak-able, dia juga aktif di dua organisasi Forum Indonesia Muda dan Indonesia Mengajar. Singkat cerita, hasil ngintilin Kak Tala hari itu, aku jadi punya 2 temen baru Kak Maya Rumpe dan Yulaika.

Kemajuan teknologi berwujud aplikasi Instagram, sangat membantu kita untuk dapat informasi jauh lebih cepat. Yulaika yang ternyata aktif di Instagram, baru saja memposting foto pada saat workshop Kata Untuk Perempuan bersama Ika Vantiani. Di fotonya itu Yula bersama dengan beberapa perempuan lain sambil memegang hasil karya kolase mereka masing-masing.

Langsung aku tab akun instagram @katauntukperempuan di postingan itu dan mendirect ku ke halaman instagram yang berisi sejumlah foto kolase bertema perempuan. Di salah satu fotonya aku baca apa maksud dari kolase-kolase itu. Menarik! Pilihan workshop selanjutnya yaitu tanggal 13 Desember (kalau tidak salah) dan Januari pada saat event Jakarta Biennalle. Dengan pertimbangan venue yang dekat dari kantor pada tanggal 13 itu, aku langsung daftar ke Mba Ika, walaupun hari itu adalah HARI KERJA. Hari kerja di tengah minggu dan workshop mulai dari jam 17.00. How come???

Tekat ku bulat pada saat itu, ya nggak bulet2 amat, karena aku juga belum memutuskan apakah akan cuti atau pulang cepet. Kalau cuti pun terlalu mepet dan pekerjaan sedang banyak, pasti gak diapprove. Option selanjutnya pura2 sakit. Sejauh ini sakit alasan paling aman kalau kamu mau tiba2 gak masuk untuk alasan yang gak mungkin kamu jujur. Apalagi kamu sendiri di bagian HR (susah kalo mau ngibulin temen sendiri). Hehehe. Tapi akhirnya opsi yang win-win solution menurut ku adalah izin pulang cepat!

Segitunya Hen?

Iya harus segitunya, aku cuma mikir kalo nggak sekarang kapan lagi? Kesempatan gak datang dua kali dan kalau nggak begitu caranya, aku ngerasa aku gak pernah keluar dari lingkaran pekerjaan dan ngelakuin apa yang kita suka.

Keluar kantor jam 16.00 aku perhitungkan lebih enak naik gojek dibanding kendaran umum karena harus pindah 2 kali dari arah Senen ke Taman Ismail Marzuki. Ditambah jalan yang macet karena jam pulang kantor. Ralat: Bukan Taman Ismail Marzuki tapi Institut Kesenian Jakarta. Aku pernah ke TIM tapi belum pernah ke IKJ. Maksud ku, aku gak pernah tau dimana Gedung Kampus IKJ. Orang-orang pasti aware kalau aku bukan orang sana, istilahnya saltum dan salmuk. Hahaha.

Oh well, if you might asking what did I say to my superior or even my partner, feel free to guess what..

Ya sudah akhirnya karena kelamaan nyasar, pas aku nemuin ruangannya Mba Ika sudah mulai bercerita. 

Apa sih yang dilakuin selama workshop "Kata Untuk Perempuan"? 

Di papan tulis Mba Ika nulis, bahwa setiap orang diminta memilih satu kata yang pop up untuk mendeskripsikan perempuan. Pilihan katanya bebas, konotasi ataupun denotasi, positif ataupun negatif. Setelah itu, kita kreasikan kata tersebut dalam bentuk kolase diselembar postcard putih.
Di halaman belakanganya, kita ceritakan apa makna kata tersebut bagi kita. Alat dan bahan kolase, seperti gunting, lem, majalah-majalah bekas, dan kertas beraneka motif semua disiapkan Mba Ika dan teman-teman dari IKJ.

*DUAAARR*

Dan aku masih belum memutuskan kata apa yang tepat. Buka-buka majalah, tengok kanan kiri. Malah akhirnya satu mahasiswa IKJ nyeletuk, "Kak, kalo mau bikin kolase, majalahnya jangan dibaca isinya". Hahaha dia bener dan mba Ika juga ketawa, "Iya itu kebiasaan pasti, apalagi kalau majalahnya Bazaar". Workshop itu pun diisi dengan ngobrol-ngobrol tentang kolase dan tentang perempuan itu sendiri.
Kolase Workshop Kata Untuk Perempuan

What I'm trying to sum up is..

Sampai hari ini banyak kata-kata yang maknanya jadi berubah untuk dan secara langsung atau tidak berkaitan dengan perempuan. Misalnya, mbak, mbak ini dalam bahasa Jawa adalah panggilan untuk perempuan yang kalau dalam urutan keluarga lebih dituakan (kakak perempuan), panggilan mbak juga digunakan untuk sapaan perempuan umum yang kira-kira usianya masih sepantaraan dengan kita. Tapi coba ketika mbak ini ditambah jadi mbak-mbak, "mukanya mbak-mbak banget". See that?

Contoh lain, tante-tante. Bahkan salah satu peserta workshop ada yang menuliskan dapur, hanya karena pada saat lomba 17an di rumahnya, Pak RT mengatakan bahwa "peserta lomba memasak adalah ibu-ibu muka-muka dapur".

Ada banyak kata lain yang dipilih peseta. Drama, karena perempuan suka "drama", padahal arti kata sebenernya dari drama adalah salah satu bentuk opera seni. Yasui, yang diambil dari bahasa Jepang yang berarti murah, maka segala sesuatu akan lebih murah karena wanita bisa dikaryakan, mencuci, memasak.


What's the best words to describe this workshop?

AMAZING!!

Monggo langsung dicek instragram @katauntukperempuan :D 

Sunday, January 3, 2016

Cerita Kakak-kakak (part 2 - tamat)

"Volunteering is about giving your time to a good cause. You don't get paid, but you do get the chance to use your talents, develop new skills, and experience the pleasure that comes from making a real difference to other people's lives, as well as your own." - Volunteer Bristol
Kenapa kamu mau jadi volunteer?

Salah satu volunteer dari Rumah Belajar Rawamangun melontarkan pertanyaan itu ke sesama teman-teman volunteer lainnya. Lalu dia menjawab pertanyaannya sendiri.
"Oke, mungkin dimulai dari saya dulu. Buat saya ikut acara begini itu alasannya simpel.  Untuk mengisi waktu luang. Senin-Jum'at udah padet untuk kerja. Jadi, pas weekend  pengen  ada kesibukan lain biar refresh.
Dan begitu mendengar jawabannya ini reaksi aku walaupun cuma dalam hati
"Bener banget! Ini dia nih yang gak ribet alasannya. Gak perlu punya visi misi mencerdaskan kehidupan bangsa segala. Hahaha.."
*****

Definisi volunteer dari Bristol di atas menggarisbawahi bahwa satu hal yang pasti didonasikan oleh semua volunteer adalah waktu. Karena waktu gak akan bisa kembali *eaaaaa*. Selain waktu juga sebenarnya ada hal lain yang kita "donasikan" tapi tidak masuk ke definisi, yaitu uang. Iya dong, itu fakta kan? Seolah-olah tabu untuk membicarakan uang karena ini kegiatan sosial. Tapi uang juga masalah yang sensitif. Karena kita tidak bayar atas apapun yang kita lakukan, otomatis segala biaya yang kita keluarkan untuk transportasi dan konsumsi ditanggung sendiri. Jadi sebelum mengajukan diri menjadi volunteer, 2 hal ini baiknya jadi pertimbangan pribadi, waktu dan biaya.

OK, tapi terus apa dong yang bakal didapetin, uda keluar duit buang waktu pula?

Volunteer itu ya gampang-gampang susah menurutku. Susah kalau dana terbatas, waktu juga terbatas. Aku pernah lho gak jadi ikut kegiatan festival Indonesia Mengajar ya karena gak ada biaya. Ya mau gimana lagi. Dengan punya tujuan yang positif, atau setidaknya kita (atau aku) mengganggap apa yang kita lakukan saat itu adalah baik dan ada manfaatnya, buat orang lain dan buat diri sendiri. Mencari manfaat buat diri sendiri itu penting lho. Jangan kaget kalau di luar sana bakal banyak orang yang memandang aneh orang yang meluangkan waktunya ngelakuin segitu banyak hal orang lain yang kenal aja nggak dan dibayar aja nggak. "Ngapain sih lo, kayak gak ada kerjaan lain aja.." :|

Salah satu volunteer Rumah Belajar Rawamangun yang aku ceritain di atas menurut aku punya alasan yang cukup sederhana. Sederhana tapi bermakna *cieeee* *uhuuuk*. Alasan aku pun juga gak jauh beda, cuma karena Rawamangun deket dari rumah. Aku pernah ikut beberapa kegiatan yang lokasinya jauh, jauh banget di Ujung Aspal, Pondok Gede. Dari rumah ku di Matraman kalau mau ke sana perjalanan sekitar 2 jam. Acara mulai jam 9, jadi aku harus berangkat jam 7? Hmmm...ya dan akhirnya it only last for less than 3 months. Cuapek di jalan sist... Hehehe

Rumah Belajar Rawamangun.

Aku gak inget asal muasalnya dari mana. Pernah daftar apa, dimana, kapan, gak inget. Mungkin kalau dari awal aku tau ini turunan Turun Tangan, I won't come :p Waktu itu kebetulan lagi cek email lama dan salah satunya ada diemail yang isinya first meet up untuk Rumah Belajar dan di Rawamangun. "Wah deket nih", pikir ku, "Mari kita lihat berapa lama aku bisa komit, masa cuma gitu2 doang ikut volunteer.." Kira-kira itu yang ngebuat aku mau ikut jadi volunteer di Rumbelraw. I give challenge to my self.

Fakta lainnya adalah aku gak bisa ngajar atau lebih tepatnya aku gak bisa nyanyi2 depan kelas supaya satu kelas ikutan nyanyi bareng. Do not ever put me in the spotlight where I have to make others people do the same thing like I do. But, Hey! I can make someone to do that, standing in front of the class with confidence and singing like a bird! Hahaha let's meet that guy!

Dan mereka memanggil satu sama lain "Kakak"

Semua yang sukarelawan yang partisipasi di Rumah Belajar Rawamangun ini akan dipanggil "Kakak" untuk mengikuti panggilan dari adik-adik yang akan diajar. Hampir semua kegiatan yang basisnya mengajar sosial akan menggunakan kata panggilan "Kakak". Giordanonya kakak... 

Perasaan "yes! gw gak berasa tua" itu cuma berlangsung sekian minggu sampai akhirnya aku tau sebagian besar masih kuliah. Masih kuliah artinya 2-3 tahun lebih muda dari aku *straight face* dan bahkan ada yang baru lulus SMA *freezing*. Tanya sana sini, emang gak ada yang seangkatan? 1 orang pun gak ada? Ya Tuhaaan ini gw nyasar apa gimana yak. Mungkin temen-temen seangkatan uda gak ngurusin beginian lagi. Mungkin kayak gini udah lewat masanya. Mungkin harusnya seumuran aku sekarang yang diurus adalah suami sama anak sendiri *ngumpet dipojokan* *pura-pura kuat* *besok sebar undangan* *undangan sunat* :'D

Berjalannya minggu pun, makin tau satu per satu kakak-kakak di sini. Cuma tau, tapi gak kenal-kenal banget. Hehehe. Tangan aku rasanya gak nyampe untuk salaman satu per satu ke semuanya. Buat aku, kenal sama orang dan bisa jadi deket itu sangat menyenangkan. Walaupun usia mereka lebih muda, tapi banyak hal yang malah aku belajar dari mereka. Mereka ini memang masih kuliah, tapi mereka kerja buat ngebiayain kuliah mereka sendiri. Ada yang rela gak kuliah dulu karena cuma mau kuliah di PTN. Ada yang rela gak kuliah di PTN karena gak dapet beasiswa dan gak cukup dana untuk biaya sendiri. Ada yang jauh-jauh ke Semarang, kerja cari uang, supaya gak ngebebanin orang tua daripada di rumah gak ada kegiatan dan belum kuliah. Kerja keras dari Senin sampai Senin, yang kalau aku bayangin aja capek.

Selain dari kehidupan di luar Rumbelraw, yang bikin aku gak nyangka adalah rumah mereka gak tanggung-tanggung jauhnya. Ada yang dari Depok, bahkan dari Cikarang. Itu kira-kira 20 tahun kemudiaaan... Akhirnya ya paham kalau di setiap pertemuan hari ini yang dateng ABCD, minggu depan yang dateng BCDE, sampai akhirnya ada VXYZ

Dan gak bermaksud cinderella story sih, tapi kakak-kakak di sana ngebuka satu pintu di diri aku. Jadi mereflektif ngeliat diri sendiri, gak kebayang kan kalo aku yang harus gak kuliah dulu terus adek yang lenggang lenggong kuliah? Harus berlama-lama di jalan kalau mau menuju pusat kota. Pun gak harus ke pusat kota pun, gak bikin jadi mati kelaperan. The truth is, jalan hidup orang memang beda-beda. Satu masalah yang dihadapi oleh satu orang, gak lantas ngebuat masalah orang lain jadi terlihat gak penting atau sepele. Tapi ngebuat kita lebih pandai menghargai orang lain, pandai berempati. Jangan ngeliat diri sendiri mulu deh, liat orang lain, kalau kita ada di posisi mereka, bisa gak? Maka nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

*****

Menciptakan perbedaan di kehidupan orang lain itu menurut ku sesuatu yang berat, karena sebenarnya kita gak pernah seutuhnya bertanggung jawab akan hidup orang lain. Dokter, pengacara, psikolog, bahkan pemuka agama sekalipun hanya memberikan pilihan. Pun menjadi volunteer mungkin manfaat yang kita lakukan hari ini baru akan terasa 10 tahun lagi, mungkin. Tapi kalau manfaat untuk diri sendiri, itu kita sendiri yang tentuin. Setuju kan kalau apapun yang kita lakukan harus ada manfaatnya, iya kan? Hehehehe *benerin mic* *jama'aaaahh..*

Sekarang aku formally keluar dari grup Rumah Belajar Rawamangun. Bukan karena sibuk, karena gak ada orang sesibuk itu selama dia masih bisa duduk2, ngobrol, ketawa-ketawa. Anyway, I somehow love this quote "We met as strangers, but we leave as friend".


Pada jaman dahulu kala.. Pada jaman Jahiliyah..

Here you are! The guy who get along so well with kids

Thank you! :D


Saturday, December 12, 2015

Saturday Night Advice

Today class in British Council is talking about someone who has a big influenced on us. Well, to that questions, Gabe asked me about the one who inspired me in doing voluntary work but I absolutely have no idea. I should admit that I literally forget how that came to me or even who brought that to me. You know when you forget about something, I'm sure that must be something less important to you today. Sorry to that :)) In fact, I deeply aware to whom I admire the most now. That is you who's able to fight your own insecurity within yourself, you who have a comfortable inner peace.

It's Saturday night now. I'm sitting at the most well-known coffee shop who build up the customers engagement to the brand by writing the customers' name on the side of the cup. From what I'm seeing I now, people are coming to this coffee shop particularly not to have long chit chat with friends, neither laughing out loud to spend the rest of the night. They're bringing their books in their hand with an earphone on. The others also are here with their laptop opened, not really sure what they're doing with their laptop, but seems fine although it is weekend. Recently, I also met two new friends who like to spend their weekend for movies all alone or do some me-time. Not to forget, there's also one person that I know closely who regularly recite The Qur'an every Saturday night, while some other may still thinking where should they hang out to.

What I'm trying to say here is there will be no day that you can run away from such peer pressure, but it all comes back to you, how you will response to it. This word from Nouman Ali Khan will always be in my mind :

No days that you will wake up, look in to the mirror, then feels like "Hey I'm a better person now". It will be on your daily basis to make a decision which path are you gonna take. And every day we will always face different choices. One's struggling may be different from others, but doesn't mean one's is easier than others'.


Just because I'm an introvert, I'm not saying that being around with friends is fully a mistake. But just do it if you really want to and not because you have to. To me, social acceptance is not that worth to be fight for, it should be given sincerely. You will be at the stage that what people say is worth less than how you describe your own self. Well, your whole life is more meaningful than one Saturday night. So for your own's shake, spend it wisely.


Have a nice Saturday night :)




*This post is written due to english written skills test.*

Sunday, September 27, 2015

Weird Post

Ngablu. You've been warned ya :)

Nanti pasti akan ada waktunya aku akan pergi meninggalkan ini semua. Lagi-lagi menarik mundur diri dari dunia, dari orang-orang ini, dari segala sesuatu yang fana. Yaitu saat dimana hawa nafsu mulai merajai hati, menggerogoti niat yang tulus. Kedamaian dengan diri sendiri sulit untuk dikuasai.

Mungkin aku manusia paling rumit sedunia. Perkataan dan perilaku ku banyak salahnya, mungkin aku bisa menjadi contoh supaya kalian jangan berteman dan jangan menjadi seperti aku. Hahaha..

Sering-sering tengok diri sendiri, sering-sering ngaca. Setiap orang pasti beda-beda, gak bisa nuntut semua orang ngerti cara berpikir kita, cara kerja kita, lebih-lebih ngerti apa yang kita mau. Pasti ada orang yang gak nyaman ada di sekitar kita, sama halnya kalau kita merasa tidak nyaman dengan orang lain. Tapi mungkin mereka gak enak buat ngomong dan akhirnya mundur pelan-pelan. Peka.

Dunia ini fana. Sering nipu kita. Dunia itu taruh ditangan, jangan dihati. Orang-orang, kejadian yang kita alami, itu  diterima kemudian harus siap dilepaskan.

*buka blog dan menemukan postingan ini saved as a draft. Yes, it's weird.*

Monday, September 7, 2015

Cerita Adik-adik (Part 1)

..well, postingan ini mungkin yang aku tunggu untuk aku bikin. 

Belakangan ini semenjak aku mulai suka share picture di instagram bertemakan anak-anak dan tersynchronize juga ke facebook, teman-teman suka komentar seperti ini :

"Hen, itu acara apa? Dimana? Kayaknya asik"
"Lo ikut Indonesia Mengajar ya, Hen? Orang kayak lo emang mau ke pelosok-pelosok gitu?"

dan yang paling kocak ketika ada temen yang bilang

"Itu anak-anak asuh kamu ya? Kamu jadi ibu asuh?"

tanpa pikir sama sekali aku langsung jawab 

"Bukan ibu, tapi tante asuh. Belom bisa ngasih asi soalnya"

terus kita berdua ketawa, lebih tepatnya dia ngetawain jawaban ku, aku ngetawain diri sendiri"


Buat aku pribadi, kenal atau mungkin sebatas tau, anak-anak rumah belajar di daerah Rawamangun ini seperti membuka banyak pintu yang selama ini aku tidak pernah mau tau. Mungkin banyak diantara teman-teman yang waktu kecil dulu sama seperti aku, tidak diperbolehkan orang tua untuk bermain dengan teman sekitar tempat tinggal. Dulu pun aku nggak pernah ambil pusing, karena aku puas bisa bermain segala permainan di sekolah yang notabene sekolah favorite Jakarta, jadi sampai di lantai 3 gedung sekolah masih ada tempat bermain mirip dengan suasana pantai. Sesampainya di rumah pun, aku bisa bermain sendiri, atau dengan adik, dengan mainan-mainan yang tidak ada habisnya. Ini bukan maksudnya sombong lho. Begitu terus keseharian sampai usia Sekolah Dasar, mulai bisa bertanya sana-sini, dan a ku masih ingat rupanya saat itu pun aku tahu banyak teman sekolah yang tidak punya teman bermain di rumah karena dilarang juga oleh orang tua. So, pikir ku saat itu mungkin, I'm on the right track!

Tapi sampai saat ini aku juga nggak pernah menyalahkan anjuran orang tua dulu atau alih-alih menganggap bahwa tetangga aku itu berada di jalur yang salah. Melalui Rumah Belajar Rawamangun inilah pintu yang tadinya tertutup, pelan-pelan terbuka (eeaaaaaaa....~)

Sebenarnya sebelum Rumah Belajar Rawamangun ini aku juga sempat aktif di Taman Baca Rumah Perubahan atau kegiatan sosial edukasi lain. Akan tetapi, truth to be told, kondisinya jauh berbeda dengan di Rawamangun. Tugas pertama yang aku harus jalani begitu ambil bagian di Rumah Belajar Rawamangun ini adalah menahan reaksi atau ekspresi spontan kalau ada hal-hal yang tidak biasa ditemui di kehidupan sehari-hari. Dan ternyata banyak :|| banget :||||. Di psikologi ada istilahnya yaitu epokhe *), jadi jujur saja, hari pertama ke sana, keliling ke rumah warga, aku terus mengulang-ngulang kata epokhe di kepala aku, aku nggak mau warga setempat jadi tersinggung atau resisten terhadap orang baru yang dianggap tidak punya sopan santun. 

Di sini lah aku benaran melihat dari dekat bahkan masuk ke rumah yang kondisinya menurut aku tidak sehat huni, tidak ada jendela keluar, pengap, gelap dan kotor. Satu rumah masih dihuni oleh 3-4 kepala keluarga. Rasanya nggak habis pikir, "Kok bisa?". Ya faktanya seperti itu. Akan jadi panjang kalau ditelaah jawaban "Kok bisa?" ini. Kembali lagi, titik yang coba disentuh yaitu pendidikan anak.
Gampangnya "Itu anak gimana mau belajar kalau gitu lingkungannya? Mau belajar, belajar apa?".

Jangan sekali-kali bayangin anak-anak ini mirip seperti Daehan, Minguk, Manse di drama series Korea yang wangi, bersih, dan lucu-lucu. Salah satu warga di sana pernah ada yang cerita, "Mereka bisa datang ke kalian, bilang mau belajar, tapi belom mandi, masih bau apek. Tangannya mungkin kotor-kotor karena habis mainan di tanah atau pasir. Mungkin datang-datang ngerengek sambil nyedot ingus di depan kalian, garuk-garuk kepala terus ternyata kalian liat sepintas rambutnya memang kutuan. Saya bukan nakut-nakutin, tapi ya itu sangat mungkin terjadi dan kalian ya harus siap, masa mau jijikan?"

Aku cerita di sini juga bukan berarti menjelek-jelekan anak-anak Rawamangun, tapi itu fakta yang sebenarnya kita juga sering lihat bukan cuma di Rawamangun. Di perempatan lampu merah, pernah lihat boneka joget-joget gak jelas kan? Ya itu juga anak-anak. Anak jalanan, anak terminal, anaknya artis, anaknya presiden atau anak manapun bahkan anak dengan kebutuhan khusus alias ABK konteks tetap anak. Jadi harus diperlakukan sama selayaknya anak-anak.

Di luar konteks Rumah Belajar Rawamangun, aku juga ingat perkataan salah seorang dari Indonesia Mengajar, "Salah satu indikator seorang individu dikatakan dewasa adalah ketika individu tersebut bisa melakukan fungsi reflektif. Artinya dia mampu menemukan makna positif dari kegiatan apapun yang dia lakukan atau kejadian apapun yang menimpanya." 

Jadi apa reflektif yang kamu rasakan setelah 3 bulan di bermain di Rumah Belajar Rawamangun? 

Bagi aku pribadi yang dari awalnya merasa was-was untuk bisa masuk ke sana, merasa perlu menchallenge diri sendiri untuk bisa fokus dan komitmen, sangat berkesan melihat semangat anak-anak yang selalu penuh. Berapa kali dari kita ini pernah mengeluh "Duh jadi anak-anak lagi enak kali ya...". Malu, kalau kalah semangatnya dibanding mereka. Mereka jam 9 pagi bisa sudah siap untuk belajar. Pertanyaannya siapa yang mau bantu mereka belajar jam 9 pagi diakhir pekan ketika pilihannya dibandingkan dengan santai nonton TV di rumah?

Lagi-lagi omongan orang lain aku kutip, temen dari Indonesia Mengajar yang aku gak ingetnya namanya bilang gini, "Lo rasain deh ngumpul bareng orang-orang yang hobby travelling sama orang-orang yang suka sosial volunteer itu frekuensinya beda. Beda banget"

So guys it's your call :)


*) Epokhe describes the theoretical moment where all judgments about the existence of the external world, and consequently all action in the world, are suspended.

Saturday, August 1, 2015

The way I know you

Let me know you but only ever at a distance.
Let me know you from our convo at 10 PM until we fell a sleep

Let me know you easily, without any real effort.
Or let me know you the way Allah guide me to


Nggak ada satu alasan pasti yang membuat pertanyaan atau pernyataan paling absurb sekalipun, sehingga semuanya menurut aku perlu aku sampaikan. 

Menurut kamu kenapa aku bisa tiba-tiba tau atau tiba-tiba tanya?

Karena aku selalu minta ke Allah supaya hati aku gak mati, supaya aku gak buta sama jalan yang Allah tunjukin. Kamu tau kan kalau feeling kamu bilang ada sesuatu terjadi, walaupun itu diluar kuasa kamu untuk tau apa yang terjadi? 

Jadi kenapa kamu perlu bohong lagi? Kamu mungkin pembohong terbaik dan terburuk sekaligus.

Aku kehabisan daya untuk merangkai ulang semua cerita yang sepotong demi sepotong kamu sampaikan. Mencari dimana garis merahnya. Lalu aku pikir buat apa, kamu tetap pembohong. Aku bisa catat setiap perkataan kamu lalu aku genggam sebagai kebenaran, aku pun masih bisa catat hingga setiap perkataan mu kini aku anggap bualan semata

Mungkin aku, kamu, kita semua gak sadar, bahwa kadang gelas yang kita selalu bawa dalam hidup j ini kondisinya sudah luber. Jadi akan banyak akibat yang bisa muncul kalau gelas itu kita suguhkan ke hadapan orang lain yang menjadi tamu dalam hidup kita. Setidaknya jangan pernah tanya kenapa orang itu kecewa bajunya kebasahan karena tumpahan air dari gelas kita. 

Kedua, yang juga kadang kita gak sadar, ketika orang lain itu bermaksud menampung limpahan air dari gelas kita, mungkin kita juga yang terlalu sayang untuk membagi isinya. Jadi sekarang kamu tetap diam disitu atau melengos pergi begitu saja merasa menyesal menenteng gelas itu dihadapanku bersikap seolah-olah duta air minum?

Ketiga, yang lebih parah, kita lupa bahwa orang itu juga punya gelasnya sendiri. Setiap orang datang membawa gelasnya masing-masing. Yang sayangnya kita entah tidak tau atau tidak mau tau apakah gelasnya kosong, setengah, atau jangan-jangan juga sama lubernya. Kamu ada dimana saat gelas ku luber? Oh iya, aku lupa, mungkin sedang sibuk mengurus gelasmu sendiri dulu, yang lain nanti saja ya.

Aku akan jadi sama egoisnya kalau bilang kamu egois.
Tapi aku akan jadi sama pembohongnya, kalau bilang aku masih mau ingat sedikit saja hal baik dari mu.
Aku, hampir pasti, tidak ingin mengingat sedikitpun.

|Pembicaraan pribadi @ 2:30 dini hari


*http://www.iwrotethisforyou.me/2015/07/the-way-i-know-you.html

Saturday, July 18, 2015

The most important thing in all human relationships is conversation

Greetings!

Pertama, aku perlu bilang terima kasih untuk teman dari jaman perBEMan di kampus dulu, Viky Veriyanto, kalo aku pake inisial jadi Mr. V agak gak enak konotasinya kan hihi :p (btw, please do visit his tumblr! http://socialscript.tumblr.com). Ceritanya tadi siang kita sempet linean dan ngobrolin dunia sosial media termasuk dunia tulis menulis. Daaaaan dia bilang 

"Tulisan mu ki apik lho (Tulisan mu itu bagus lho). Kenapa gak dikembangin?". 

Aku gak tau kalau dia pernah baca blog ku ini dan juga orang-orang lain yang ternyata juga pernah baca blog ku, kalau bukan mereka bilang ke aku (Yaiyalah :|). Dan respon aku selanjutnya yang mereka gak tau adalah cengesngesan ngetawain tulisan ku yang menurut ku proyeksi dari pikiran ku yang random ini. Hahaha.

Ada satu temen lain yang juga line aku siang ini. Pendek cerita, apa yang dia omongin adalah komunikasi kita berdua yang udah banyak berubah. Aku yakin hal semacam ini juga pasti pernah dirasakan oleh 100juta umat lain di dunia ketika intensitas, cara, dan isi komunikasi kita dengan orang lain tidak lagi sama seperti sebelumnya. Mungkin menjadi lebih jarang mengirim pesan singkat, menjadi lebih sulit untuk mencocokkan jadwal kosong untuk bisa bertemu atau bisa jadi dalam level hubungan yang lebih dekat ada beberapa hal yang sebelumnya selalu bebas dibicarakan kini berkurang bahkan tidak pernah dibicarakan. Perubahan pasti memberi dampak pada lebih dari 1 pihak, tapi mungkin hanya 1 pihak yang menimbulkan ketidaknyaman.

"The most important thing in all human relationships is conversation, but people don’t talk anymore, they don’t sit down to talk and listen. They go to the theater, the cinema, watch television, listen to the radio, read books, but they almost never talk. If we want to change the world, we have to go back to a time when warriors would gather around a fire and tell stories."
— Paulo Coelho,
Hahaha sebenernya disinilah challenge kita. Challenge dimana kita harus mulai bisa untuk mengeliat segala sesuatu itu dari sisi kedua belah pihak. 

Buat beberapa orang, pasti lebih gampang untuk melihat orang yang berubah sebagai pihak yang diuntungkan. Akhirnya banyak omongan dibelakang yang kita buat-buat supaya perubahan itu terlihat masuk akal dari sisi yang dirugikan. 

"Ah dia pasti ngelakuin itu karena blablabla, dia egois"

Padahal untuk menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengeksekusi juga bukan perkara mudah. Ada ego yang harus diluruhkan, ada keinginan pribadi yang harus dikesampingkan, dan pastinya ada keberanian menanggung risiko yang belum tentu kita punya. Emang sih pada beberapa case yang sangat krusial atau mendasar atau apapun itu istilahnya, membuat keputusan sebaiknya bisa di share dengan pihak lain, ya siapapun itu bisa pasangan, teman, orang tua, bahkan senior kita, sehingga tidak ada sebutan "pihak yang dirugikan". Harusnyaaa...

But as we grow older and wiser, we try to understand that we can't control anyone. Yet that one might think about having no responsibility to share any little thing due to his/her personal consideration. Yang mungkin kita lupa batas kebebasan kita secara individu, adalah adanya kebebasan dari individu lain yang berdampingan.

Satu hal yang bisa kita kontrol adalah pikiran kita sendiri dan perilaku kita. Ada satu novel yang judulnya Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere Liye, yang isinya banyak mengingatkan kita bahwa di dunia ini banyak hal yang kita tidak tahu dan memang kita dilindungi dari keterbatasan akan pengetahuan kita. Di satu sisi kita belajar arti dari berusaha, berusaha untuk jadi mencari tahu, akan tetapi di sisi lain kita belajar arti dari keikhlasan, menerima apapun hasil dari usaha kita.

Last but not least, tulisan ini semoga sejalan dengan judul blog Behind The Scene itu sendiri ya hihihi. Sesekali kita coba tengok dibalik tawa orang disamping kita, mungkin dia bukan sedang bahagia tapi dia sedang lelah dan stress, hati-hati ntar ditawarin magic mushroom :p

Goodnight :D

Sunday, January 4, 2015

Curhatan kacung HRD

Sehari-hari dengan rutinitas yang sama, selama kurun waktu yang panjang...ada di bosan tingkat berapa ya kira-kira nanti? Terus apa yang bisa dilakuin supaya kerja gak terasa membosankan? Punya temen yang seru? Punya atasan yang support? Gaji yang besar?
Mengakhiri hari dengan keluhan akan pekerjaan dan laporan-laporan yang menunggu. Begitu juga hari minggu yang ditutup dengan keluhan-keluhan akan hari Senin sudah di depan mata. Ahh.. rasanya sayang sekali kalau hidup hanya diisi oleh hal-hal seperti itu..

Memasuki satu tahun lebih sebagai kacung korporat swasta, pikiran-pikiran seperti itu masih lalu lalang ke otak. Membuat saya mulai berpikir akan alternatif rencana hidup yang lainnya. Eh bukan, bukan mulai, malah sebenarnya selalu berpikir selanjutnya mau jadi apa, mau begini terus?

Jujur saja, saya tipikal orang yang mudah bosan dengan rutinitas dan cendurung suka kebebasan. Segala sesuatu yang mulai membentuk menjadi rutinitas dan isinya itu-itu saja, ujung-ujungnya hmmm bosaaaan. Sayangnya hal itu tidak bisa dihindari ketika setelah lulus kuliah memutuskan bekerja. Apalagi dengan background psikologi, ranah pekerjaan yang ditekuni sudah jelas di ranah ke-HRD-an. Kalau begitu kenapa memilih bekerja diantara pilihan yang ada lainnya, seperti melanjutkan sekolah atau wirausaha?

Keputusan untuk bekerja itu mulai dipikirkan memasuki masa-masa akhir kuliah. Sebenarnya saya hanya ingin jadi survivor atau volunteer untuk orang-orang yang kurang mampu, orang-orang keterbelakangan mental, bahkan orang-orang yang menjadi korban bencana misalnya. Entah pikiran dari mana, mungkin karena selama kuliah aktif di departemen Pengabdian Masyarakat, atau karena bencana Gunung Merapi dan abu vulkanik. Yang jelas setelah sempat share dengan orang tua, yang ada malah nangis sejadinya karena ditentang.

Pelan-pelan, mulai realistis karena kondisi keuangan keluarga, dan sepertinya tidak punya informasi yang cukup kalaupun ingin menekuni psikologi klinis, akhirnya baiklah harus bekerja! Niat saya cuma satu saat itu, harus sudah bekerja pada saat wisuda. Sama sekali tidak spesifik bekerja dimana yang penting tidak datang wisuda dengan status pengangguran.

Dari pengalaman kerja pertama ini, sekalipun hanya temporer, di perusahaan yang tidak punya nama sama sekali, mata saya mulai terbuka. Di samping pernyataan yang orang-orang selalu bilang, dunia pekerjaan jauh berbeda dengan perkuliahan yang penuh teori dan memang nyatanya begitu, tapi pengalaman bekerja di perusahaan yang merintis dari 0 punya sensasi yang berbeda dibanding cerita teman-teman yang bekerja di tempat yang sudah jadi.

Belajar untuk punya aturan sendiri, itu harus. Walaupun secara SOP belum jadi aturan baku, tapi orang harus punya aturan, punya etika, punya prinsip. Istilah yang boleh dipinjem dari atasan saya waktu itu adalah value. Jadi jangan mau pekerjaan diselak, diribetin sama orang lain yang sebenernya gak punya kepentingan.

Nemuin orang-orang yang "gak bener" bukan cuma 1-2 tapi banyak, ditambah lagi orang yang cari muka. Di sini saya baru ngerasain apa pentingnya peran leader. Leader bagi saya saat itu bukan cuma direct mandatory, tapi juga seorang yang bisa saling percaya, bisa saling mengandalkan, bisa saling bantu. Sebagai penghuni level terbawah dari struktur, atasan juga sebagai bumper. Semua itu bukan dari saya yang buat pengertian sendiri, tapi sekali lagi dari atasan saya sendiri, dan saya mengamininya sampai sekarang. "Setiap kesalahan yang terjadi, atasan itu harus jadi bumper, jadi saya yang kena pertama kali, bukan kamu. Kenapa? Karena setiap kesalahan bawahan, disitu peran atasan dipertanyakan?". Kalimat itu masih nempel di kepala bahkan cara atasan saya ngejelasin peran leader sambil kayak orang ketabrak mobil pun masih jelas.

Kalimat lain yang juga saya pegang teguh adalah "Kerja itu cari value, gaji pasti akan menyesuaikan. Buat apa kamu kuliah tinggi-tinggi tapi pada saat kerja gak ada ilmu yang kamu dapatkan, gak bikin kamu tambah pintar. Pintar itu dalam hal apapun.."

Nah berangkat dari situ, setiap detail pekerjaan yang harus saya lakukan berulang dan ternyata tidak ada follow up hasilnya, akan muncul di otak, "Terus buat apa gw kerjain capek-capek?". Solusinya coba tanya atasan sendiri yang memberikan pekerjaan kalau menemukan situasi begitu. Sebaiknya juga, apapun yang saya lakukan harus ada argumennya. Argumennya biasanya atasan paling suka kalau dalam bentuk angka, ratio, persentase, bukan "biasanya, beberapa,"

Waktu berjalan pun, saya menemukan perusahaan sebesar apapun pasti ada minusnya. Perusahaan besar kalau pada akhirnya direct leader tidak memberikan apa-apa, pasti gerah juga. Gerah banget. Walaupun saya juga belajar, ada waktunya, ketiadaan direct leader atau supervisi artinya tingginya trust top leader pada satu posisi. They want you to grow bigger even faster than others. Dan itu mahal rasanya.

Saya yang pernah mengalami kedua posisi tersebut, tanpa adanya direct supervisi dan full team lengkap. Yang pertama, biasa langsung diskusi dengan level General Manager bahkan Director, ada perasaan dihargai dan dibutuhkan, ada tantangan bahwa untuk memenuhi ekspektasi dari beliau-beliau itu. Paling tidak enak, ya tidak ada diskusi di level yang sama, kalau salah harus siap babak belur dan seketika jadi anak bawang (that's why your self-value is important!). Yang kedua, saya kemudian untuk pertama kalinya punya team kerja, ada buddy, supervisor, baru manager. Yang kedua ini tantangannya adalah catch up dengan buddy team, dan full time supervisi yang lumayan ganggu juga buat saya pribadi, bayangkan kerja diawasi selama 8 jam! Ya istilah orang Jawa, sawang sinawang, selalu ada yang terlihat lebih enak.

Ini sedikit bocoran tentang hidup 8 jam sebagai HRD :
Ada saatnya dianggap departemen yang kerjanya ngapain sih, tapi begitu ada masalah dengan karyawan HRD harus pasang badan. Walaupun beberapa perusahaan payroll / gaji dipegang oleh finance biasanya HRD yang bakal ditunjuk kalau ada case terkait gaji. Jadi HRD adalah departemen yang harus paling tau segala sesuatu soal perusahaan.
HRD itu sebenarnya ada bagian-bagiannya lagi, tapi gak semua orang tau dan mau tau. Jadi selain "dihujat" oleh masalah karyawan, semua orang HRD akan terima pertanyaan orang dari luar soal ada lowongan apa. Email banyak isinya lamaran-lamaran. Mending kalau cuma tanya lowongan, ujung-ujungnya tanya gajinya berapa. Wajar kalau pengalama, kalau fresh graduate??

Kerja di perusahaan swasta selalu punya cerita, tahu proses end to end bisnis perusahaan, dari raw process sampai smooth reporting. Jauuuuuh berbeda ketika kamu kerja di konsultan yang terima bersih. Banyak yang gak survive perubahan dua dunia ini.


Masuklah perusahaan swasta, paham jatuh bangunnya untuk sukses, tapi punya prinsip dan gaji seorang BUMN, why not? :D





Monday, December 1, 2014

I'm a Gale-team : a-not-credible review of Mockingjay..

Hahahayy...

As you all know my mind never stop thinking and arguing, my mouth can't handle talking to my self, it's just me who can't make time to write them down in a piece of paper or in a page of blog post.
If I say I miss being ready to write whenever the feelings or the thought pop up, it's rather sounds bullsh*it since nothing I do anyway..

So here we start again..

(what should I write... hmmm...)

First of all, I declare that I left all the drama behind, I should've be more aware of boys! LOL!

Second is, I already watched HUNGER GAMES : MOCKINGJAY part 1!
A not so climax movie comparing the two sequel before. No fighting, no drama, no pressure, just flat.
I think the center of Mockingjay part 1 is Gale! What is he thinking of becoming the first volunteer for the mission of Hunger Games Liberation from the capitol?? I mean, hey he would save one guy name Peeta whose have a heart for Katniss. Gale also the one who sharing what he remember after the sudden attack from the Capitol that destroy Disctrict 12. He fought a lot to save hundred of people. Gale also, for sure, the one who's with Prim when she need to save her cat (I forgot the name) in her room at the last minute before The Capitol bombard District 13's bunker.

I'm a Gale-team!!

Another thing from the movie is about rebellion, democracy, some political things I guess. That we can't resist the people power which in this movie lead by Mockingjay (Katniss) to destroy the government rottenness (The Capitol). Well that's also happen in Indonesia right? Tragedy of May 98? President election in 2014? I amazed by their bravery to get the justice and democracy in their hand.

And the last things is "Do Katniss is secretly a bestfriend of Bella Swan??"
Do you remember the drama between Bella-Edward-Jacob? The nightmare that happen to Bella when Edward left? The motorcycle ride so that Edward could suddenly show up n front of Bella?
HAH! That's also the same cycle of drama happens in Katniss-Gale-Peeta's love story. Zzzz...

By the way, after watching the movie, I think I need to re-watch the Catching Fire again or do you think I need to buy the three books of Hunger Games? Hmmm...

Will updated to you soon..



backsound playing
Say'A - Happy B'day (How fuck are you now? :p)

Tuesday, September 2, 2014

Perjalanan menuju akhir

Sebenernya makin ke sini makin mikir dan sadar apa sih yang dimauin dalam hidup.
Mungkin pemikiran ini muncul karena menyimpulkan sendiri kalau apa yang dijalanin bukan "jalan"nya
Terus kenapa dari awal pilih jalan ini?
Pilihan-pilihan yang sudah dijalanin ini cuma jadi semacam trial and error

Suatu saat Pak Helmy pernah bilang, "Ya itulah yang terjadi pada fresh graduate, mereka pasti masih mencari jati dirinya, termasuk untuk urusan pekerjaan"

Jauh sebelum itu, Ibu Dian juga pernah bilang, "Kita itu perempuan, memang kamu mau kerja sampe jadi apa nanti? Jadi direktur? Nggak juga kan"

(Kalau boleh intermezzo sedikit, 2 orang itu adalah yang sudah punya posisi tinggi yang gw kenal tapi paling tidak menggurui)

Aku dulu pernah bilang ke Ibu, kalau aku gak mau mengejar karir seperti orang pada umumnya, mengejar gaji atau uang. Waktu itu aku bilang aku mau jadi volunteer, sukarelawan. Dan yang selanjutnya aku inget adalah aku nangis di kamar mandi Plaza Semanggi karena entah apa yang waktu itu diucapin Ibu sama Bapak.

Beberapa kali aku iri dengan orang-orang yang bisa melepaskan apa yang mereka gak suka dengan mudah untuk kemudian mendapatkan apa yang mereka benar-benar suka. Mungkin dalam hal ini, aku selalu aware dengan hal apa yang sebenarnya aku gak suka sejak dari awal, tapi aku tipikal yang akan mencoba lebih dulu sejauh apa aku bisa. Yap that's trial and error thing.

Lalu baru-baru ini aku ketemu dengan oknum D. Damn smart! Dia mungkin bisa atau pun memang sudah mendapatkan apa yang rata-rata lulusan baru inginkan, ODP di BUMN. Toh pada kenyataannya posisi itu pun dia lepas, karena menganggap tidak sesuai dengan harapannya jangka panjang. Dia bilang begini, "Sekarang kerja ya cuma buat nambel kantong aja, tujuan gw kan tetep mau S2 itu. Pendidikan nomer 1 lah..."

Kembali ke pertanyaan pertama, trial and error apa selanjutnya?

Biar aku coba jawab dengan lebih jelas dengan rank probabilitas terjadinya error paling kecil

  1. Freelance itu digunakan untuk mendefinisikan pekerjaan membuat suatu karya tulisan, gambar, brand campaign sesuai kebutuhan klien (cmiiw)
  2. Travel blogger, siapa yang tidak mau travelling dan dibayar. Jalan-jalan ke daerah baru, wisata kuliner, pergi ke tempat bersejarah, berbaur dengan warga lokal, kemudian berbagi di blog.
  3. Guru di daerah pedalaman atau terapis di daerah bencana. 
Itu cuma jawaban paling jujur dari apa yang aku mauin.
So, basically...

I just wanna be free and relax
I love dealing with people in deep and long relationship
Inspire one to another in so many beautiful ways
I love seeing new things, curious about things and places

Entah gimana caranya pasti ada jalan untuk mengakhiri trial and error dari diri aku sendiri
Dan jalan yang tepat harus dimulai dari sekarang bukan cuma diucapkan dari hari ke hari.

Selamat mengakhiri perjalanan! :D


Sunday, August 17, 2014

Terima kasih Allah

Allah, terima kasih telah mengirimkan orang-orang baik, lembut hati, yang dari mereka ilmu ku bertambah juga kebahagiaanku.

Allah, terima kasih atas anugrah-Mu yang mungkin membuat aku perasa tentang hal-hal yang sedang atau akan terjadi pada orang-orang baik di sekitar aku.

Allah, terima kasih karena Engkau masih dan selalu melindungi dan menyayangi orang-orang baik itu tanpa perlu ada aku diantara mereka.

Allah, terima kasih karena selalu mengingatkan aku akan keikhlasan dan ketulusan. Aku belum lulus lagi kan Ya Allah?

Tapi tidak apa Ya Allah kalau aku belum lulus, artinya aku harus belajar lagi, walaupun kadang aku jadi bingung harus mulai dari mana lagi ya.

Tidak apa kalau aku belum lulus Ya Allah, artinya aku belum memberikan yg terbaik untuk orang-orang baik disekitar aku, lebih parah aku pasti juga belum memberikan ketaatan yang terbaik untuk Mu.

Ya Allah aku minta maaf ya, minta ampun. Sampaikan juga maaf aku untuk orang-orang baik di luar sana, semoga selalu ada sesuatu yang berarti dan membahagiakan hidup mereka sebagai pengganti atas ketidakmampuan ku memberi.

Sunday, May 25, 2014

Hari ini, hari itu, hari yang biasa saja

Hari itu hari yang biasa, telponin orang ke luar kota untuk phone interview.
Aku lupa itu persisnya aku lagi telpon ke siapa dan dimana.
Tapi satu cuplikan ini bikin aku gak akan lupa buat seterusnya...

Saya resign dari pekerjaan yang sebelumnya karena istri saya dipindahkan tugasnya ke kota X.
Saya berpikir bahwa pada usia seperti saya, laki-laki masih jauh lebih mudah mendapatkan kerja dibanding perempuan. Karena alasan itulah, saya memutuskan untuk mengalah dan ikut pindah bersama istri saya ke kota ini. Sekarang sudah beberapa bulan saya disini, saya belum dapat pekerjaan. Istri saya masih bekerja di kantornya.

Aku sendiri gak ngerti kebetulan macam apa yang coba Allah kasih ke aku. 
Tapi laki-laki itu besar hati sekali, itu yang terlintas dipikiran ku saat aku masih mendengarnya di telepon.

***
Hari ini pun hari yang biasa, arisan keluarga di resto di mall daerah Sudirman
Sepulang dari sana, tante aku minta tolong untuk dibayarkan billnya di sebuah resto di mall daerah Senayan
Tante aku benar-benar lupa membayar bill makanannya, mungkin karena sanking paniknya ketika anak satu-satunya tiba-tiba terserang struk ringan di saat akan menyuap sendok pertamanya 
Pendek cerita, anak tante aku, atau sepupu ku segera dibawa ke rumah sakit dibantu oleh pihak management mall, meninggalkan mobilnya yang hingga seminggu masih terparkir di dalam mall
Intinya bill makanan yang sama sekali belum sempatnya dimakan harus dibayar

Lalu aku kesana, bertiga dengan ibu dan bapak
Mencari restoran di maksud dan ternyata restoran tersebut bisa dikategorikan high class
Begitu kami bertemu dengan duty manager, ia menjelaskan seperti ini..

Bill yang menjadi tagihan dari Ibu X sudah ada yang membayar pada saat itu juga
Jadi saat itu situasi disini memang jadi sedikit ramai, beberapa crew kami juga panik dan berusaha membantu Ibu. Dan rupanya di antara tamu kami, tepatnya ada tiga orang, yang setelah Ibu X membawa anaknya ke RS, mereka menawarkan diri untuk membayar tagihan dari Ibu X. Dari tiga orang tersebut ada satu yang paling memaksakan diri supaya ia yang membayar saja.
Kami hanya sempat merecord namanya dari kartu kreditnya. Bapak Y. Akan tetapi begitu kami minta data lengkapnya, ybs keberatan. Beliau ikhlas membantu Ibu X.

Berapa total tagihannya? 

Rp. 4xxxxx ,-


Ya Allah... Aku bisa berkata apa. Sampai aku menuliskan ini pun, rasanya aku masih ingin menangis haru. 
Ya Allah, ciptaan mu sungguh baik sekali. Bahwa semua orang pada dasarnya baik, aku masih percaya. 
Dan Bapak Y itu salah satu bukti kebesaranMu. 

Kalau sekarang aku bertanya begini, seandainya kamu, berada di situasi seperti Bapak Y, masih mau kah kamu melakukan yang seperti Bapak Y itu lakukan?

Kamu, iya kamu...

***

Mungkin setiap hari akan jadi hari yang biasa saja
Tapi yang kamu, dan kita, tidak pernah sadari bahwa setiap detiknya adalah sebuah peta besar yang saling berkaitan. Seperti yang Tere Liye bilang bahwa hidup manusia adalah sebuah sebab-akibat.

Sunday, May 18, 2014

Do people...what?

Kalau tulisan di bawah ini akan bertemakan "DO PEOPLE CHANGE?", masih berminat membacanya kah?


Aku sendiri sekarang berusaha tidak peduli apakah orang berubah atau tidak, berubah ataupun tidak mereka, maksudku kita, tetap manusia, hidup dan mati. Tapi sebesar aku berusaha tidak peduli, sebesar itu pula, aku sebenarnya aku peduli.

Aku agaknya tersedak begitu menyadari pertidakubahan diri sendiri dan bagaimana sesuatu yg tidak berubah itu terjadi. Mungkin semua itu, kuncinya ada di menerima dan memaafkan diri sendiri. Menuliskannya saja yang mudah, tapi melakukannya dan mengevaluasi sudah sampai level atau tahap mana penerimaan dan pemaafannya itu yang aku bingung. Maksudku, bisa saja kan aku merasa aku sudah lupa kejadian tidak menyenangkan itu, tapi apa aku sudah benar-benar lupa, menerima, dan memaafkannya, apa indikatornya kalau sudah dan belum. Lalu harus mengambil langkah seperti apa. Ah aku tidak paham itu.

Aku pun agaknya kenyang, ketika orang-orang di sekitar aku berubah ataupun tidak berubah. Mungkin lebih tepatnya, aku kenyang kalau orang-orang tidak bersikap atau bertingkah laku seperti apa yang aku perkirakan. Dan ujung-ujungnya akan kembali ke point diawal di atas tadi, kecewanya akhirnya pada diri sendiri. Kenapa? Ya begitulah..

Tulisan jadi membingungkan ya.. Hahaha..

Ya intinya, jangan suka bohong, kenapa juga mesti bohong dulu baru kalau uda kepepet ngomong yang jujur atau mulai ngomong yang muter-muter, gak make sense. Sejenis orang kuat yang yakin banget nyawanya masih banyak kali ya?

House, kan jadinya bener lagi, the truth begins with lie.

Makin gak singkron antara judul, awal, dan akhirannya... Hahahahaa..


Thursday, April 17, 2014

Mencari dan menemukan

"Mungkin aku baru sadar, atau entah bagaimana, bahwa aku adalah orang yang harus tau apa alasan atau tujuan ataupun manfaat dari setiap yang aku lakukan. Aku tidak suka merasa bodoh dan tidak bisa berbuat apa-apa yang bermanfaaat. Atau bahkan yang aku lakukaan ternyata tidak bermanfaat.

Manfaat yang aku maksud bisa jadi untuk ku sendiri atau untuk orang lain, tergantung kondisi yang ada di depan ku. Sebut saja, dalam situasi kerja, aku mau apa yang aku kerjakan punya manfaat jelas buat aku, bukan hanya buat institusi yang membayarku. Karena aku bekerja, bukan berkegiatan sosial untuk perusahaan. Lain halnya dalam segala hal yang terkait sosial, aku suka melakukannya tanpa perlu memikirikan apa yang sudah atau akan aku keluarkan dan juga aku dapatkan, karena tujuannya untuk orang di luar diriku.

Mungkin aku bisa merasa sangat tidak nyaman, menyadari bahwa waktu ku berlalu begitu saja dan tidak ada hal yang berguna sedikit pun. Jadi aku suka mencari alasan dibalik hal yang aku lakukan. Alasan-alasan sederhana apapun hingga aku menemukan dan menyadari bahwa aku melakukannya dari hati sehingga alasan-alasan itu menjadi tidak penting lagi.

Kadang aku harus menunggu sebentar
Sambil tetap bergerak
Kadang aku harus pergi karena terlalu lama menunggu 
Dengan tetap bergerak"



Hari ini aku sangat kesal karena aku harus meluangkan lebih banyak waktu untuk datang ke suatu tempat dimana aku merasa di sana tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku tau aku sudah berusaha menghindarinya dari awal. Lebih jujurnya, aku pun sadar bagaimana orang-orang di sana mulai terganggu. 

Mungkin aku yang memang masih belum mengerti apa yang orang-orang cari dan dapatkan di sana. Mungkin itu sebuah rumah bagi mereka. Aku masih tidak tahu, dan entah bagaimana aku ingin dan perlu tau.





Jakarta, tempat bagi mereka yang mencari dan menemukan

Sunday, March 16, 2014

3 DAYS

....It's been a long pause from watching movies in my weekend routine. Until that day my friend ask me to go for movies and have dinner together. I'm not really into movie update lately. So he decide...

3 Days to Kill

This movie is about a man who worked for CIA, but he also a husband of a working wife and a father of a daughter. Because of a rare disease, he decided to leave his jobs and come back to his private life. He moves to Paris to visit his daughter, fix everything after he left his family 5 years ago. Until one day, an agent named Vivi come to him, offer him an experimental medicine to cure his cancer, at least to extend his life that was only 3 days left. In return he has to kill some bad guy in city.

Actually, I'm not really pay attention to his killing and shooting scenes. I don't know what kind of bad guy he has to kill either. But I remember the words Vivi said, "Because you're dying. So you're not afraid of everything". A kind of make sense, right?

The other thing is his principle that he won't kill someone if he's not a 100% sure whether that one has nothing left to explain and been confirmed as a suspect. I really think this one as a reminder that we have to know the purpose and the consequence of whatever we choose, whatever we do. No excuses.

To be honest the most thing that caught my eye from this movies is the father-daughter relationship. How does the father fight to get his daughter attention, try to get closer to her day by day. Zoey, his daughter named, said that she didn't have a father to teach her riding bike. Ha! That scene was really hit me so hard. When I was in elementary school, I still remember my mom said that my father won't be available to teach me how to swim, how to ride a bike, and probably won't be able to teach me anything like that, so I have to learn by my self.

When Zoey dance with his father, I don't think that's gonna happen to me. Never ever. But that's sweet. Laughing together in dining room without hiding lies and anger is a nice dream. But well, that's life.

That's all I remember from this movie.

3 days or more can be hard and long enough to spend with someone that really feels like stranger to you. Include family. Changes comes unpredictable, so adaptation takes forever.



#nowplaying
Avicii - Wake Me Up



Sunday, January 26, 2014

The universe will work that way

Muka

Muka itu bagi aku semacam pintu keluar dari diri seorang individu. Semuanya yang ada di dalam dirinya, alih-alih keluar melalui kata-kata di mulut, lebih banyak tercermin di raut muka. Dan banyak orang yang pandai menjaga mulutnya, tetapi tidak bisa "menjaga mukanya". Itu hal yang sangat wajar. Maka dari itu, aku bilang, yang paling jujur itu bukan di mulut, tapi segala apa yang muka, terutama tatapan mata, ia bisa bicara lebih banyak.

Poker face

Sepemahaman aku sih poker face itu muka yang ekspresinya tidak berubah, bukan tanpa ekspresi. Dari sejarah istilah ini muncul, pemain poker dituntut untuk bisa tetap tenang apapun kartu yang keluar sehingga tidak mudah dideteksi oleh lawannya. Jadi bukan tidak bisa menunjukkan emosi dan perasaan, tapi memang tidak ditunjukkan emosinya.

Masih menurut aku pun, setiap orang pasti sudah atau sedang melalui banyak hal dalam hidupnya. Sebutlah, Bagas, hobinya bikin orang ketawa lewat lelucon garing khasnya. Anehnya setiap habis seharian bisa bikin aku ketawa gak berhenti, esoknya Bagas cerita kalau sebenernya dari kemarin dia udah ngerasa gak enak badan. Damn.. sakit tapi masih bisa bikin ketawa?

Lalu yang lain, Dita, dia bagaikan ibu peri yang membawa kedamaian. Cara dia mendengar dan cara dia menjelaskan duduk permasalahan berhasil membuat Nino nyaman cerita berjam-jam sama dia. Yang Nino gak tau, bahkan jauh sebelum Nino jadi suka curhat sama Dita adalah Dita sendiri sering nangis sendirian di kamarnya setiap malam thinking about her own unfinished problem.

Dan dari dua ilustrasi itu, aku tau bahwa masih ada orang di luar sana yang tidak suka membicarakan atau sulit mengutarakan masalahnya lalu mengubahnya dalam bentuk perilaku lain untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Orang-orang ini hidup berdampingan bersama orang yang disebut extrovert. Orang-orang cenderung introvert adalah bukan orang yang tidak punya emosi. But don't you think the world favors the extrovert?

Overly sensitive

Kadang aku harus nyebut diri aku sendiri overly sensitive for unspecific reasons. Bagi aku, mulut bisa diam atau bohong, tapi muka orang nggak. Se-poker face apapun orang itu aku seringnya terasa bahwa orang ini sedang tidak baik. Gak melulu dari mukanya atau tatapan matanya, misalnya seperti cerita Bagas, orang toh harusnya ngeh bahwa Bagas punya cara yang demikian untuk mengalihkan perhatian terhadap dirinya sendiri.

Jadi kalau sewaktu-waktu orang di sekitar aku menunjukkan muka yang gak enak, akan muncul DHEG! Ini orang kenapa ya? Mukanya stress banget (atau sedih banget). Dan seterusnya setelah itu aku akan bingung harus gimana sama orang itu. Pernah aku coba untuk being nice, being there for them, dan kalau pun responsnya gak oke, malah akunya yang akan kepikiran terus harusnya gw gak usah kayak gitu dan akhirnya aku bener-bener gak tau harus gimana. Sampai waktu itu aku denger berita gak enak soal yang bersangkutan, aku makdeg-nya gak ilang lumayan lama.

Entahlah, sebagian dari diri aku pengen bisa bantu orang semaksimal yang aku bisa, meskipun aku cuma bisa sedia kuping dan cuap-cuap, gak melulu soal uang. Karena aku gak sanggup ngeliat orang terdekat sedih, susah, banyak pikiran, dan gak ada sama sekali yang aku lakuin. Tapi agaknya sejalannya waktu aku pun belajar bahwa orang juga pengen bisa nolong dirinya sendiri tanpa bergantung sama orang lain dan aku harus percaya setiap orang pasti bisa. Ya kayak aku yakin ke diri aku sendiri.
I really hope the universe will work that way

Ada satu pernyataan dari seorang psikolog yang aku kenal cukup baik..
"Kamu inget saya ya, kalau kamu lagi susah...."

Saturday, December 14, 2013

Saya selalu rindu

Saya suka sekali memperhatikan orang lama-lama. Menangkap setiap gerakannya juga ekspresi wajahnya, bahkan sampai orang tersebut sadar sedang ada yang memperhatikannya. Teman saya sering mengingatkan saya kalau cara saya menatap memang terlalu dalam. Tetapi teman saya yang lain ternyata punya kebiasaan yang sama, jadi saya tidak perlu khawatir.

Saya rasa memperhatikan orang lain itu asik. Dalam situasi yang apa adanya, kita bisa melihat bagaimana orang memberikan respon spontan. Kadang orang tidak terlalu perhatian padahal perilaku kecil itu cukup bisa menunjukkan sikap yang sebenarnya dari individu tanpa dibuat-buat. Misalnya dalam keadaan diburu-buru, akan terlihat siapa yang langsung panik, siapa yang mampu meredakan situasi. Wajah orang yang juga sedang bengong pun kemudian tiba-tiba tersenyum begitu melihat layar hpnya saja bisa terlihat menarik.

Beberapa orang memang tidak pandai menutupi kondisi dirinya sehingga semuanya tercermin langsung di wajahnya. Wajah, tatapan mata yang kosong adalah yang saya yakini bahwa itu lebih jujur dibanding mulut yang banyak bicara tapi melantur. Kalau sudah begitu, biasanya diikuti gerakan-gerakan khas seperti mengusap-usap kepala, tertawa terlalu sering padahal tidak ada yang begitu lucu. Agaknya aneh, kalau beberapa orang lebih mudah mengenali kondisi orang lain, dibanding kondisi diri sendiri. Agaknya untuk yang satu itu saya juga termasuk.

HAHAHA.

Bukan, bukan tidak mengenali, tetapi barangkali tidak mengakuinya atau membiarkannya berlarut-larut. Saya selalu ingat kalimat ini "Diri sendiri kadang adalah teman terbaik tetapi juga musuh terberat".

Berteman dengan diri sendiri saja bisa terlihat menakutkan. Sudah banyak yang bilang, bahwa menulis adalah salah satu cara berdamai dengan diri sendiri, mempersilakan ideal diri kita bercengkrama dengan diri kita yang sejatinya, bertukar pikiran, hingga akhirnya bisa menemukan solusi. Yang lainnya juga bilang, menggambar. Gambar apapun yang mungkin proyeksi dari apa yang sedang kita rasakan atau pikirkan.

Saya sendiri selalu punya buku harian. Benar-benar punya, tapi buku yang terakhir saya beli di awal tahun hingga sekarang akhir tahun belum pernah saya isi. Entah di halaman ke berapa saya sempat menuliskan satu kata "Hai :)" lalu yang saya ingat selanjutnya saya tidak sanggup menahan kantuk dan tertidur hingga pagi.

Tetapi saya punya pengganti aktivitas menulis di buku harian sebagai alternatif kencan dengan diri sendiri yaitu berbicara sendiri di kamar mandi. Benar juga kata dosen saya, kalau diri paling jujur itu ada di kamar mandi.

Susah sekali nampaknya jadi orang dewasa. Apa diri sendiri ini sebegitu mengerikannya ya, hingga untuk mengajaknya duduk santai saja repotnya setengah mati. Hingga beberapa perlu orang lain yang mendudukannya. Tapi ini lebih repot lagi, menyandarkan diri sendiri pada kehadiran orang lain.

For me, I'm still scare to death about this kind of things. Although deep inside, I know having a deep talking with partner is one of the source of happiness. 

Ya semoga suatu hari nanti siapapun kembali tersadar, apapun yang ingin dilakukan untuk menemukan true happiness with self pasti juga perlu diusahakan, bukan cuma direncanakan, dan perlu ada yang dirisikokan.

Mungkin saking senangnya bisa bertemu dengan that one partner, perasaan senangnya sudah langsung berlumeran keluar, jadi masalah-masalah yang ingin diceritakan jadi tidak berarti. Atau saking banyaknya syarat untuk bisa cerita, moment itu jadi belum juga ketemu. Hihihi...



Jakarta, malam minggu ditemani lagu-lagu cinta dan secangkir coklat panas
Saya selalu rindu berlama-lama dengan kamu, lalu kamu memutarkan lagu-lagu cinta <3